ISSN 2477-1686

Vol.5 No. 21 November 2019

 

Sekolah Usia Dini dalam Parenting Gen-A

 Oleh

Laila Meiliyandrie Indah Wardani, Marianne, Nunun Rahmawati Suci, Yustina Madya

Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana 

Generasi milenial patut berbangga, karena merekalah peradaban saat ini bisa saling terhubung ke seluruh penjuru dunia. Teknologi yang sudah masuk dalam tiap aspek-aspek kehidupan membuat segalanya menjadi lebih mudah. Namun, kemudahan hidup tidaklah murah. Oleh karena persaingan kerja dan kehidupan yang semakin ketat dan keras tiap harinya, atau juga karena terpengaruh tren sesama orang tua milenial, maka anak-anak Gen-A sudah mulai disekolahkan pada umur 3 tahun. Jika fenomena ini ditelaah dengan three-force psychology, maka kita akan menemukan lebih banyak kekurangan daripada kelebihan menyekolahkan anak terlalu dini. 

Menilik teori perkembangan anak dari Freud, balita umur 3 tahun baru saja selesai melewati fase anal dan sedang mengalami fase Phalik. Pada fase anal sebelumnya, anak dididik untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui latihan buang air besar (toilet training). Hal tersebut merupakan langkah awal yang ditujukan untuk mengontrol dorongan-dorongan biologis anak, sehingga ketika remaja dan dewasa nanti, anak diharapkan menjadi individu yang mandiri dan mempunyai ego yang seimbang. Namun, ketika anak yang masih dalam tingkatan latihan buang air besar harus bersekolah, maka hasil yang diharapkan dari fase ini tentu dapat terganggu. Respons orang tua atau pengasuh dalam toilet training berpengaruh pada dampak kepribadian anak dikemudian hari. Respons yang keras dan sering menghukum anak yang susah buang air besar atau malah tidak dapat mengontrolnya akan menciptakan anak yang kaku, penakut, tidak kreatif dan terlalu berlebihan akan kebersihan atau keteraturan. Begitu pula sebaliknya, jika respons yang diberikan terlalu pengertian dan selalu memuji, maka anak akan tumbuh menjadi pribadi yang manja, tidak mandiri dan berantakan. Keseimbangan respons diperlukan dalam tiap tahap perkembangan anak, sedangkan sekolah yang dipercayakan untuk mendidik Gen-A pada usia dini belum tentu mempunyai kebijakan yang dibutuhkan dalam perkembangan anak. 

Akan tetapi, jika melihat dari kacamata Psikologi Behavioristik, mendidik anak lebih awal cukup bagus untuk menanamkan perilaku baik yang diinginkan. Penelitian dalam psikologi Behavioristik membuktikan bahwa anak secara umum memperoleh keterampilan dengan cara meniru. Anak juga dapat mempunyai perilaku dan kebiasaan yang baik dengan dikondisikan melalui cara-cara mekanistik seperti pemberian penghargaan, hadiah, pujian sampai ke hukuman. Sekolah adalah tempat yang paling ideal bagi anak untuk memperoleh keterampilan, perilaku dan kebiasaan yang baik, apalagi dengan kedua orang tua yang sibuk bekerja. Sekolah anak usia dini penuh dengan benda edukatif yang digunakan untuk mengajari batita/balita selama di sekolah. Mereka belajar nama benda, bentuk, warna, sampai mencocokkan benda pada bentuk. Gen-A juga dilatih untuk bersosialisasi dengan teman sebaya. Kemudian secara sistematis, mereka juga dipupuk jiwa bersaingnya dengan memberikan anak hadiah stiker yang lebih besar dari kawannya ketika ia berhasil mengerjakan tugas, atau sebuah lencana bintang emas ketika berhasil berbuat baik dan mengingat ajaran gurunya. Di sekolah, Gen-A usia dini juga sudah mulai diajarkan memegang pensil atau krayon dengan benar dan mewarnai gambar (Happy, 2015). Anak juga diharapkan untuk merapikan tempat makanan dan minumannya sendiri dengan meniru guru yang melakukannya. Tak heran kemudian banyak Gen-A yang sudah bisa membaca dan menulis serta terlihat sangat mandiri ketika baru berumur 5 tahun (Rahmadani, 2019). 

Dalam hierarki Maslow terdapat lima tingkatan kebutuhan manusia, yaitu: kebutuhan fisiologis dasar, kebutuhan rasa aman, kebutuhan rasa cinta dan memiliki, kebutuhan harga diri dan kebutuhan untuk aktualisasi diri. Ketika orang tua memaksakan anak untuk berprestasi, maka secara hierarki, anak melompati kebutuhan rasa aman sampai kebutuhan harga diri dan langsung menerapkan kebutuhan untuk aktualisasi diri. Kebutuhan rasa aman di sini artinya adanya sosok kuat yang dapat melindunginya ketika anak gagal dan/atau sekedar mood jelek. Orang tua yang mengharapkan anak berprestasi tentunya akan kecewa ketika sang anak gagal (Rohmitriasih, 2019). Padahal kekecewaan orang tua tersebut membuat anak merasa bersalah dan sedih berkali-kali lipat dari kekecewaan yang dirasakan sendiri akibat kegagalannya. Disadari atau tidak, pada saat itu anak tidak merasakan rasa cinta orang tuanya karena menganggap dirinya mengecewakan. Jika perasaan itu terus berlanjut, maka anak akan merasa tidak berharga dan hampa yang berpengaruh pada rasa percaya diri, kemandirian dan kekuatan pribadinya. Ketika hal itu terjadi, maka potensi besar anak yang dapat membuatnya berprestasi dan sejahtera tidak bisa dimaksimalkan dengan baik. 

Lalu, apakah menyekolahkan anak pada usia dini itu salah? 

Tidak. Semakin banyak orang dan institusi yang mendirikan sekolah usia dini (Rahmadani, 2019) membuktikan bahwa hal tersebut berguna dan semakin diminati para orang tua milenial. Yang patut dicermati adalah peran dan ekspektasi orang tua terhadap anak harus menyesuaikan perkembangan umurnya. Peran dan keterlibatan orang tua dalam tiap tahap perkembangan anak, terutama sampai usia 6 tahun, harus disepakati sebagai yang utama. Sekolah anak pada usia dibawah 5 tahun sebaiknya dianggap sebagai latihan anak bersosialisasi dan permainan tambahan, bukan substitusi peran orang tua mengajar anak. Ekspektasi orang tua terhadap prestasi anak juga harus dilihat dari kacamata umur dan minat sang anak. Jika anak belum bisa mengeja pada umur 4 tahun sementara teman-temannya sudah lancar membaca, orang tua tidak boleh rendah diri apalagi menuntut anak untuk berhasil (Happy, 2015). Orang tua bisa coba memperhatikan kelebihan anak pada sisi lain, apakah ia lebih cepat hafal nyanyian daripada teman-temannya? Atau kah ia lebih sigap dalam mengejar dan menangkap bola? Bisa jadi anak lebih lambat di bidang akademis sementara ia cukup superior di bidang seni atau olahraga. Orang tua tidak bisa memaksakan anak pada usia dini untuk mampu atau menguasai sesuatu yang bukan menjadi minatnya. 

Mendidik anak secara formal lebih awal bagus untuk menanamkan perilaku baik yang diinginkan, tapi di sisi lain, menyekolahkan anak pada usia terlalu dini akan berpengaruh pada psikologis anak pada tingkatan perkembangan selanjutnya. Sebelum memutuskan untuk memasukkan anak pada suatu sekolah usia dini yang terkenal atau sedang tren, sebaiknya orang tua memastikan apakah sekolah tersebut mempunyai program dan tenaga pengajar yang mendukung tahapan perkembangan anak yang sesuai dengan umurnya. Jika tidak, sangatlah baik untuk menunda memasukkan anak sekolah pada usia dini. Terkadang, lebih baik dianggap kuno daripada mengorbankan tahap perkembangan anak agar menjadi pribadi yang sehat dan bahagia di masa depan. 

Referensi:

Happy, P. (2015, Juni 26). POLEMIK CALISTUNG DI TK. Retrieved from kompasiana.com: https://www.kompasiana.com/futicha.turisqoh/5500e5cd8133110c51fa74af/polemik-calistung-di-tk?page=all

Rahmadani, A. (2019, January 8). Mengenal Sistem PAUD sebagai Pendidikan Awal bagi Anak. Retrieved from generasimaju.co.id: https://www.generasimaju.co.id/mengenal-sistem-paud-sebagai-pendidikan-awal-bagi-anak

Rohmitriasih, M. (2019, September 5). 3 Kebiasaan Orangtua yang Bikin Anak Rendah Diri. Retrieved from liputan6.com: https://www.liputan6.com/health/read/4055418/3-kebiasaan-orangtua-yang-bikin-anak-rendah-diri