ISSN 2477-1686

Vol.2. No.3.Februari 2016

KITA DAN KAMI

Ardiningtiyas Pitaloka

Fakultas Psikologi Universitas YARSI

 

Awal Februari 2015 ini saya kembali ‘manggung’ di empat kelas semester IV yang penuh dengan wajah imut nan segar. Kata segar di sini bermakna rupa-rupa, di antaranya karena merupakan angkatan mahasiswa yang baru saya temui alias belum pernah saya ajar sebelumnya. Tantangan pertama yang jelas di depan mata adalah: menghafalkan nama mereka. Pengalaman selama ini, begitu nama hafal, ternyata memasuki masa UAS.

 

Dalam pertemuan pertama di dua mata kuliah berbeda, ternyata ada satu materi yang tidak lepas dan layak menjadi materi sepanjang semester, jika diperlukan. Materi: kita dan kami.

 

Kita dan Kami”  dalam Perkuliahan

Ada kecenderungan sangat kuat untuk menyamakan penggunaan kata ‘kita’ dan ‘kami’ sehingga rancu. Kecenderungan ini sebenarnya tidak asing di masyarakat luas, buktinya sampai keluar celetukan ‘Kita? Elu aja kali…’   Celetukan ini secara tidak sadar merupakan protes akan penggunaan kita dan kami yang tidak tepat. Mungkin terkesan sepele dan ringan karena percakapan sehari-hari bukanlah ujian tata bahasa nan rapi, tetapi mengganggu juga.

 

Saya sendiri sudah sering menemui hal tersebut dalam kelas, baik ketika mahasiswa menjelaskan dalam tanya jawab spontan atau presentasi menggunakan slide. Biasanya saya spontan mengoreksi yang langsung mendapatkan sambutan cekikikan maupun senyum tersipu-sipu. Begitu pun dengan pertemuan pertama di awal semester ini, kata ‘kami’ seolah melebur dalam ‘kita’. Tak tahan, saya pun meminta secara eksplisit agar kelas mengoreksi serta membiasakan menggunakan kita dan kami secara tepat. Hasilnya……, bertebaranlah celetukan ‘kamiiii’ ….dan latar suara tawa cekikikan setiap teman mahasiswa yang melakukan presentasi menyebut kata ‘kita’ alih-allih ‘kami’.

 

Nuansa kelas pun berasa kelas bahasa, lebih ajaib lagi…..seperti bahasa asing. Mahasiswa yang melakukan presentasi singkat pun mulai terlihat berhati-hati dan berhenti sejenak ketika akan menyebutkan kata kami. Beberapa kali mereka bahkan seperti kehilangan kata-kata yang telah dipersiapkan sebelumnya gara-gara mengoreksi kata ‘kita’ menjadi ‘kami’.  Presentasi berjalan seperti mobil yang melaju di atas jalan penuh bebatuan, sesekali berhenti, berbelok, yang pasti tidak lancar. Saya pun seolah bernostalgia saat belajar bahasa asing, berusaha mengingat kosakata atau tata bahasa yang benar: apakah akan menggunakan have been atau have.

 

Inilah Mengapa Pembelajaran Bahasa Diwajibkan Ada

Ternyata bahasa yang kita anggap telah menjadi makanan sehari-hari, tak kalah dengan nasi, masih memerlukan pembiasaan baru. Tanpa permisi, terlintaslah pemahaman tiba-tiba (atau bisa disebut ilham?) di kepala saya, inilah mengapa mata kuliah maupun pelajaran bahasa Indonesia tetap harus ada. Saya pikir seru juga untuk menerapkan secara konsisten di kelas, kalau perlu ya…sepanjang semester.

Antara geli dan berusaha mengapresiasi usaha mereka, saya pun penuh semangat 45 menyiramkan motivasi “Yah…..anggaplah kita semua dari luar negeri yang sedang belajar bahasa Indonesia..”

Bagaimana dengan Anda?