ISSN 2477-1686

Vol.5 No. 20 Oktober 2019

Apa Sih Pentingnya Penyesuaian Diri untuk Mahasiswa Baru?

 

Oleh

Ni Made Ari Wilani dan Ni Putu Padmadita Nanda Pratiwi

Program Studi Psikologi, Universitas Udayana

 

Sepanjang kehidupannya, seseorang melewati tahap perkembangan mulai dari tahap bayi hingga tahap lanjut usia. Agustiani (2009) menyatakan bahwa saat melewati setiap tahap perkembangan, seseorang mengalami berbagai perubahan yang berasal dari dalam dan luar dirinya, seperti aspek biologis, aspek kognitif, aspek lingkungan, dan aspek sosio-emosional. Hal tersebut dapat memunculkan permasalahan tersendiri. Seseorang akan mampu mengatasi permasalahan tersebut jika dirinya memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri.

 

Apa Itu Penyesuaian Diri?

Penyesuaian diri merupakan proses yang terdiri dari respon mental dan perilaku sebagai usaha seseorang untuk mengatasi serta menyelaraskan kebutuhan, harapan, dan tuntutan yang berasal dari dalam diri maupun dari lingkungan sekitarnya melalui upaya-upaya tertentu (Schneiders, 1964; Agustiani, 2009).

 

Pentingnya Menyesuaikan Diri di Perguruan Tinggi

Saat memasuki lingkungan baru, setiap orang akan menghadapi situasi yang mendorongnya untuk melakukan penyesuaian diri, termasuk mahasiswa baru. Mahasiswa baru diarahkan untuk mengikuti kegiatan akademik dan non- akademik. Selain kegiatan perkuliahan di dalam kelas, mahasiswa baru juga diarahkan untuk mengikuti kegiatan lain seperti orientasi mahasiswa baru dan organisasi kemahasiswaaan.

 

Namun bagi sebagian mahasiswa baru, berada di perguruan tinggi dapat menjadi situasi yang dipenuhi oleh perubahan dan stres. Mahasiswa baru mengalami top- dog phenomenon, dimana sebelumnya mahasiswa baru yang merupakan siswa senior di Sekolah Menengah Atas (SMA) kembali menjadi mahasiswa junior di perguruan tinggi (Santrock, 2007). Perbedaan kurikulum, disiplin, hubungan  sosial, gaya hidup, cara belajar, tugas-tugas, target pencapaian nilai, dan hal-hal lain menyebabkan mahasiswa kesulitan dalam tahun pertama perkuliahannya (Santrock, 2007).

 

Penelitian yang dilakukan oleh Ababu, Yigzaw, Besene, dan Alemu (2018) juga menemukan bahwa mahasiswa baru mengalami kesulitan menyesuaikan diri di perguruan tinggi akibat homesickness (distres yang dialami karena berada jauh dari rumah), kesulitan bersosialisasi atau berkenalan dengan orang baru, serta kesulitan mengatur waktu dan kemampuan belajar. Hal-hal tersebut dapat menjadi masalah yang menyebabkan mahasiswa baru kesulitan menyesuaikan diri di perguruan tinggi.

 

Meskipun demikian, mahasiswa baru juga mendapatkan dampak positif dari proses penyesuaian diri. Dampak positif tersebut muncul dalam bentuk kesempatan bagi mahasiswa untuk menjadi lebih dewasa, memiliki lebih banyak pilihan terkait mata kuliah dan kegiatan yang diikuti, memiliki lebih banyak waktu bersama teman-teman, memiliki kesempatan untuk mencoba nilai dan gaya hidup


yang baru, mendapatkan lebih banyak kebebasan dari pengawasan orangtua, serta lebih tertantang oleh tugas kuliah (Halonen & Santrock, 2010). Mahasiswa dikatakan berhasil menyesuaikan diri ketika mereka tetap tinggal di perguruan tinggi, memiliki kesejahteraan psikologis yang baik, dan menunjukkan hasil yang memuaskan secara akademis (Lapsley & Edgerton, 2002).

 

Maka dari itu, penting bagi setiap mahasiswa baru untuk mengembangkan penyesuaian diri. Mahasiswa dengan penyesuaian diri yang baik merasakan lebih sedikit tekanan sementara mahasiswa dengan penyesuaian diri yang buruk mengalami kesulitan dalam tahun pertama perkuliahannya dan cenderung berperilaku defensif (Hurlock, 1980; Lapsley & Edgerton, 2002).

 

Bagaimana Cara Menyesuaikan Diri di Perguruan Tinggi?

Ada beberapa strategi yang dapat diterapkan oleh mahasiswa baru untuk mengembangkan penyesuaian diri di perguruan tinggi (Hadijah, 2018; Sunarto & Hartono, 2018). Cara yang dapat dilakukan antara lain :

1.      Menggali kemampuan diri

Mahasiswa baru dapat menuliskan kelebihan dan keterbatasan yang dimilikinya untuk memperoleh gambaran terkait potensi yang perlu dipertahankan atau ditingkatkan. Hal ini tidak terbatas hanya pada kelebihan dan keterbatasan pada bidang akademik, tetapi juga cara membentuk dan mempertahankan relasi dengan orang-orang yang ada di lingkungan perguruan tinggi, seperti mahasiswa lain, dosen, dan pegawai.

 

Mahasiswa baru juga perlu mencari informasi tentang kegiatan-kegiatan yang ada di perguruan tinggi yang dapat menambah pengalamannya seperti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), organisasi kemahasiswaan, kepanitiaan acara yang diadakan di lingkungan perguruan tinggi, dan lomba-lomba seperti karya tulis ilmiah, debat, Liga Mahasiswa, dan sebagainya.

 

2.      Menyusun perencanaan yang cermat

Berdasarkan pengetahuan terhadap kelebihan dan keterbatasan yang dimiliki serta informasi tentang kegiatan-kegiatan yang ada di lingkungan perguruan tinggi, mahasiswa baru dapat menyusun rencana tentang tujuan yang ingin dicapai selama berada di perguruan tinggi. Ketika menentukan tujuan, mahasiswa baru juga harus mempertimbangkan faktor-faktor yang berpotensi mendukung maupun menghalanginya untuk mencapai tujuan tersebut.

 

Mahasiswa baru perlu menyadari bahwa tujuan yang ingin dicapai sebaiknya realistis namun menantang yang mendorongnya untuk bergerak mencapai tujuan yang telah ditentukan. Apabila mahasiswa baru langsung menentukan tujuan yang terlalu sulit, mahasiswa baru dapat menghadapi lebih banyak hambatan dalam upaya mencapai tujuannya.

 

3.      Melewati proses trial and error atau coba-coba

Setelah menyusun rencana, mahasiswa baru dapat mencoba berpartisipasi dalam beberapa kegiatan yang ada di perguruan tinggi. Saat hasil yang didapatkan dianggap menguntungkan, mahasiswa baru dapat meneruskannya. Ketika hasilnya dianggap kurang menguntungkan, mahasiswa baru dapat berhenti mengikuti kegiatan tersebut. Ketika melewati


proses ini, mahasiswa baru juga dapat berkenalan dengan mahasiswa lain yang dapat membantu membangun serta menjalin relasi di perguruan tinggi.

Mahasiswa baru yang melewati proses trial and error juga perlu melakukan penyesuaian terhadap rencana yang telah disusun sebelumnya berdasarkan situasi yang dihadapi.

 

4.      Melakukan eksplorasi

Jika pada proses trial and error mahasiswa baru lebih cenderung mencoba kegiatan yang ada di perguruan tinggi, proses eksplorasi lebih menekankan pada tingkat berpikir yang lebih tinggi. Saat melakukan eksplorasi, mahasiswa baru lebih fokus pada kegiatan yang sesuai dengan minat, tujuan, dan kemampuannya.

 

Mahasiswa baru dapat melakukan eksplorasi di UKM, organisasi kemahasiswaan, kepanitiaan, maupun lomba-lomba. Hal ini kembali kepada pertimbangan mahasiswa baru sehingga mahasiswa baru dapat  meningkatkan keterampilan dan pengetahuan serta mendapatkan teman- teman baru yang dapat membantu untuk menyesuaikan diri di perguruan tinggi.

 

5.      Secara langsung menghadapi masalah yang muncul

Seperti ketika melakukan kegiatan-kegiatan lain, mahasiswa baru yang berupaya mengembangkan penyesuaian diri juga akan menghadapi permasalahan, baik permasalahan yang datang dari diri sendiri maupun permasalahan yang muncul akibat interaksi dengan orang lain.

Ketika hal tersebut terjadi, mahasiswa baru sebaiknya menghadapi permasalahan dan konsekuensinya secara langsung serta meminimalisir munculnya perilaku defensif, agresif, maupun menghindari terhadap permasalahan yang ada. Permasalahan yang dihadapi juga perlu diselesaikan dengan cara yang paling sesuai dengan situasi pada saat itu. Selain menghadapi masalah yang muncul, penting bagi mahasiswa baru untuk berusaha menemukan alternatif solusi untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi.

 

6.      Melakukan pengendalian diri

Ketika berada lingkungan perguruan tinggi, mahasiswa baru perlu mengendalikan dirinya dalam berperilaku dan mengekspresikan emosinya. Mahasiswa baru perlu menyadari bahwa setiap orang memiliki karakter yang berbeda-beda dari dirinya. Jika mahasiswa baru mampu mengendalikan diri, mahasiswa baru juga akan mampu menanggapi situasi yang dihadapi secara rasional ketika berinteraksi dengan orang lain dan mencegah atau meminimalisir munculnya konflik.

 

Penyesuaikan diri di perguruan tinggi memberikan tantangan tersendiri bagi mahasiswa baru. Namun perlu diingat kembali bahwa setiap orang memerlukan waktu yang berbeda-beda untuk menyesuaikan diri di lingkungan baru.  Mahasiswa baru tidak perlu berkecil hati ketika mengalami kegagalan atau merasa bahwa dirinya lebih lambat menyesuaikan diri dibandingkan dengan mahasiswa


yang lain. Selama adanya upaya untuk menyesuaikan diri, pada akhirnya mahasiswa baru juga akan mampu mengembangkan penyesuaian diri yang dapat membantunya selama menjalankan perannya sebagai mahasiswa di perguruan tinggi.

 

Strive for progress, not perfection

- Anonymous -

 

Referensi :

Ababu, G.B., Yigzaw, A.B., Besene, Y.D., & Alemu, W.G. (2018). Prevalence of adjustment problem and its predictors among first-year undergraduate students in Ethiopian University: A cross-sectional institution based study. Psychiatry Journal, 1-7. doi: 10.1155/2018/5919743.

Agustiani, H. (2009). Psikologi perkembangan: Pendekatan ekologi kaitannya dengan konsep diri dan penyesuaian diri pada remaja. Bandung: PT Refika Aditama.

Hadijah, S. (2018, April 26). Tips mudah adaptasi di universitas untuk mahasiswa baru. Diakses dari https://www.cermati.com/artikel/tips-mudah-adaptasi-di- universitas-untuk-mahasiswa-baru.

Halonen, J.S & Santrock, J.W. (2010). Your guide to college success: Strategies for achieving your goals (6th ed). Boston: Cengage Learning.

Hurlock, E.B. (1980). Psikologi perkembangan: Suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan (5th ed). Jakarta: Erlangga.

Lapsley, D. K., & Edgerton, J. (2002). Separation-individuation, adult attachment style, and college adjustment. Journal of Counseling & Development, 80(4), 484-492. doi:10.1002/j.1556-6678.2002.tb00215.

Santrock, J.W. (2007). Remaja. Jakarta: Erlangga.

Schneiders. A.A. (1964). Personal adjustment and mental health. New York: Rinehart and Winston.

Sunarto, H & Hartono, B.A. (2018). Perkembangan peserta didik (6th ed). Jakarta: Rineka Cipta.