ISSN 2477-1686

Vol.2. No.3.Februari 2016

Faktor –Faktor Utama Penyebab Penyalahgunaan Napza

 

Maratul Jannah Umbola

Fakultas Psikologi Universitas Borobudur

 

NAPZA adalah bentuk penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika, dan Zat adiktif lainnya, atau yang sering disebut dengan istilah NARKOBA (Narkotika, Psikotropika, dan Bahan Adiktif). Narkotika adalah zat adiktif atau obat yang berasal dari tanaman baik sintesis maupun semi sintesis yang dapat menyebabkan atau adanya perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan. Psikotropika adalah zat atau obat baik alamiah maupun sintesis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan syaraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktifitas mental dan perilaku. Zat adiktif lainnya antara lain adalah nikotin yang terdapat dalam rokok, etanol dalam minuman beralkohol dan pelarut lain yang mudah menguap seperti aseton, benzin, dan lain-lain. Selanjutnya, minuman beralkohol (miras) adalah minuman yang mengandung etanol dan diproses dari bahan hasil pertanian fermentasi dan distilasi atau fermentasi tanpa distilasi, maupun yang diproses dengan cara mencampur konsentrat dengan etanol atau dengan cara mengenceran minumam mengandung alkohol (Dinas Pendidikan Pemerintah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakart, 2005).

 

Penyalahgunaan Zat & Kegagalan Perilaku

Penyalahgunaan zat melibatkan pola penggunaan berulang yang menghasilkan konsekuensi yang merusak. Penyalahgunaan zat membuat perilaku seseorang mengalami kegagalan dalam memenuhi tanggung jawab utamanya (seperti bolos sekolah atau bolos kerja karena mabuk), adanya situasi dimana zat yang dikonsumsi berbahaya bagi fisik (mencampur minumam beralkohol dengan obat), serta berhadapan dengan masalah hukum berulang kali yang meningkat karena penggunaan obat (masuk ke lembaga pemasyarakatan karena perilaku yang berkaitan dengan penggunaan zat), atau memiliki masalah sosial dan interpersonal yang kerap muncul karena penggunaan zat (berkelahi karena mabuk), (Nevid Rathus, & Greene, 2003).

 

Toleransi & Ketergantungan Akan NAPZA

Penggunaan NAPZA yang berlebihan bisa menimbulkan toleransi dan menyebabkan ketergantungan bagi penggunanya. Toleransi adalah kondisi fisik yang membutuhkan zat dalam jumlah dosis yang lebih besar dibandingkan dosis sebelumnya, untuk dapat mencapai keadaan fisik dan psikologis yang sama seperti pada awal penggunaan zat. Gangguan yang bisa muncul akibat dari penggunaan zat adalah seperti intoksisasi, gejala putus zat, gangguan mood, delirium, demensia, amnesia, gangguan psikotik, gangguan kecemasan, disfungsi seksual, dan gangguan tidur. Zat yang berbeda akan memberikan efek yang berbeda pula bagi penggunanya. Oleh karena itu, gangguan tersebut, banyak sedikitnya disebabkan oleh zat.

 

Pola Asuh Orang Tua

Siapa saja bisa terlibat dalam penggunaan NAPZA, berdasarkan hasil studi kasus yang penulis lakukan pada penyalahguna NAPZA yang berada di salah satu panti rehabilitasi narkoba di Yogyakarta, beberapa faktor yang menyebabkan seseorang menyalahgunakan NAPZA, antara lain adalah pola asuh orang tua. Pola asuh orang tua pada dasarnya memberikan kontribusi yang banyak dalam proses perkembangan anak dalam menjalani kehidupannya. Jika pola asuh orang tua kurang tepat, maka akan berdampak pada kondisi psikologis serta perilaku anak, seperti kedua orang tua yang berbeda dalam menerapkan pola asuh kepada anaknya dimana bapak memberikan perlakuan yang berbeda dengan perlakuan dari ibu. Selain itu, pola asuh permissive-indulgent, yaitu pola asuh yang terlalu memanjakan, terlalu terlibat dalam kehidupan anak tetapi sedikit kendali terhadap anak. Hal ini membuat anak melakukan apa saja yang mereka inginkan, dan akibatnya anak tidak pernah belajar untuk mengendalikan diri mereka sendiri. Pola asuh permissive-indifferent yaitu gaya pengasuhan yang sangat terlibat dalam kehidupan anak. Kedua gaya pengasuhan ini membuat anak memperlihatkan sebuah pengendalian diri yang buruk dari anak (Santrock, 1995).

 

Role Model

Faktor penyebab kedua adalah role model di mana role model biasanya dikaitkan dengan proses pembelajaran modeling. Menurut Bandura (dalam Nelson-Jones, 2011) proses pembelajaran yang disebut modeling adalah proses belajar melalui observasi terhadap suatu perilaku, yaitu belajar dengan melihat dan belajar melakukan. Proses pembelajaran atau modeling  anak yang kurang mendapat role model di dalam keluarga, menirukan perilaku yang kurang tepat di lingkungannya seperti menirukan perilaku temannya yang merokok atau yang mengkonsumsi NAPZA. Seperti yang diungkapkan oleh Hurlock (1978), ada masa dimana anak mulai melakukan hubungan yang lebih banyak dengan anak yang lain, dan minat pada keluarga mulai berkurang. Pada saat yang sama aktivitas yang bersifat individu mulai digantikan menjadi aktivitas berkelompok. Aktivitas berkelompok meliputi semua bentuk permainan dan hiburan dalam kelompok, membuat sesuatu, mengganggu orang lain, mencoba-coba, dan melibatkan diri dalam aktivitas terlarang seperti berjudi, merokok, minuman keras, dan mencoba obat bius.

 

Proses Belajar Sosial

Faktor Ketiga adalah Proses Belajar Sosial. Menurut Beck (dalam Nelson-Jones, 2011) pengalaman yang diperoleh anak dari lingkungannya merupakan suatu proses belajar sosial, dimana dalam proses belajar tersebut anak mendapatkan penguatan atau reinforcement baik dari orang tua atau orang lain dari lingkungannya. Proses belajar sosial yang salah dari lingkungan, akan mempengaruhi perilaku dan aktivitas anak.

 

Referensi

Dinas Pendidikan Pemerintah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. 2005. Narkoba dan Permasalahannya. Yogyakarta

Hurlock, E. B. 1978. Perkembangan Anak. Jilid 1. Jakarta: Penerbit Erlangga

Nelson-Jones, R. 2011. Teori dan Praktik Konseling dan Terapi. Celeban timur: Pustaka Pelajar.

 

Nevid, S. N., Rathus, A. S., & Greene, B. 2003. Psikologi Abnormal. Edisi Kelima Jilid 2. Jakarta: Penerbit Erlangga.

 

Santrock, J.W.1995. Life-Span Development. Perkembangan Masa Hidup. Edisi Kelima. Jilid 1. Jakarta: Penerbit Erlangga

 

 

San

 

S

 

San

 

Sant

 

.