Bimbel Online:

Pergerseran menuju Era Pendidikan E-Learning

Oleh

Krishervina Rani Lidiawati dan Christopher Wartomo Adi

Fakultas Psikologi, Universitas Pelita Harapan

Peningkatan mutu pendidikan dapat ditempuh dengan banyak cara, salah satunya dengan melibatkan teknologi dalam proses belajar dan mengajar. Penggunaan internet semakin meluas terutama pada generasi Millennial dan generasi-Z atau sebutan bagi orang–orang yang lahir di atas tahun 1980-an sampai 2000. Mereka tentu tidak asing dalam menggunakan teknologi yang telah terkoneksi dengan internet.  Salah satunya penggunaan gawai smartphone dalam kehidupan sehari – hari (Tur-Porcar, 2017).

Berbagai aktivitas dapat kita lakukan dengan bantuan aplikasi pada smartphone, seperti berkomunikasi dengan teman atau kerabat, memesan kendaraan untuk bepergian, memesan makanan untuk makan siang, membayar keperluan bulanan (tagihan listrik dan air), streaming film atau berita, sampai belajar sekalipun. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini penggunaan internet lewat smartphone seperti mendarah daging dalam keseharian kita, akan tetapi perkembangan teknologi berupa internet ini tidak selamanya membawa efek negatif. E-Learning atau pendidikan berbasis online (terhubung dengan internet) adalah salah satu terobosan positif dari perkembangan teknologi yang dapat kita rasakan manfaatnya saat ini. Kita dapat belajar di mana saja dan kapan saja hanya dengan smartphone yang kita miliki. Saat ini bisa kita lihat, pertelevisian Indonesia sedang gencar – gencarnya mempromosikan salah satu aplikasi bimbingan belajar online (bimbel online) yang bisa kita diakses dengan mudah lewat smartphone. Aplikasi ini digadang – gadang sebagai solusi belajar terlengkap untuk pelajar di Indonesia pada tingkat pendidikan mulai dari SD, SMP dan SMA sesuai dengan kurikulum nasional. Apa saja cara yang dapat dilakukan agar dapat terus berkarya dan tidak tenggelam dalam kemajuan teknologi di era pendidikan e-Learning kini dan nanti?

Memanfaatkan Fasilitas (Teknologi)

Suatu lembaga pendidikan yang baik pastilah mengembangkan pengajar dengan menyediakan berbagai fasilitas untuk mendukung proses belajar dan mengajar. Fasilitas tersebut dapat berupa ketersediaan jaringan internet, website yang terintegrasi antara pelajar dan pengajar, serta media mengajar yang memadai seperti PC atau laptop serta proyektor (Hanum, 2013). Jika memang hal – hal tersebut sudah disediakan, maka pengajar bisa mempergunakan fasilitas tersebut untuk membiasakan diri dengan teknologi yang ada dalam proses belajar mengajar. Perlu disadari bahwa kedepannya proses belajar mengajar dapat dilakukan melalui aplikasi e-Learning atau mobile browser yang dapat diakses menggunakan koneksi internet (Belina & Batubara, 2013). Tidak hanya itu, lembaga pendidikan yang baik juga perlu menyediakan pengembangan profesional untuk para pengajar seperti mengadakan pelatihan dan dukungan teknis seperti yang telah disebutkan untuk pengembangan konten pengajaran dalam mengatasi tantangan metode pengajaran e-Learning ini agar efektivitas pengajaran dapat terwujud (Kebritchi, Lipschuetz, & Santiague, 2017).

Transisi dari Tatap Muka ke Online

Menyambung point sebelumnya, pengajar bisa memanfaatkan fasilitas yang ada berupa website yang telah terintegrasi antara pelajar dan pengajar untuk menyampaikan bahan ajarnya. Pengajar dapat memberikan materi pengajaran kepada murid dengan metode lain selain tatap muka secara langsung di ruang kelas. Pengajar bisa menggantikannya dengan metode yang baru berupa video ataupun audio yang telah digabungkan dengan bahan ajar yang ingin disampaikan. Seiring berkembangnya teknologi, e-Learning versi mobile atau smartphone dapat kompatibel dengan fitur-fitur yang tersedia pada pembelajaran konvensional sehingga kualitas konten berupa materi pelajaran dapat diakses dengan baik (Belina & Batubara, 2013). Penelitian lain juga menyebutkan bahwa e-Learning dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pemahaman materi dan memperluas sumber materi pengajaran yang ada (Hanum, 2013). 

Mengembangkan Gaya Mengajar/Pedagogi

Seorang pengajar pastilah terbiasa untuk mengajar di depan banyak murid secara langsung, tetapi bagaimana jika pengajar harus menyampaikan materi atau bahan ajar di depan kamera? Pendidikan berbasis e-Learning tidak menitik beratkan kepada interaksi langsung layaknya pengajar yang mengajar di dalam kelas. Pendidikan e-Learning menitik beratkan kepada proses belajar yang simple namun tetap efisien dan efektif. Oleh sebab itu, bagi para pengajar sangat penting untuk menyadari proses pembelajaran yang tidak formal sekalipun. Murid bisa belajar di mana saja dan kapan saja, pengajar hanya menyediakan materi atau bahan ajar yang mudah dicerna dan dipahami murid saat sedang mempelajarinya. Sangat penting bagi pengajar untuk menunjukkan sikap mengajar yang sama baiknya saat mengajar di depan murid secara langsung ataupun saat mengajar di depan kamera. Nazarlou (2013) dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa informasi didapat dari 7% bahasa, 38% suara, dan 55% dari gerakan tubuh.        

Akhir kata, sebagai seorang pengajar sudah selayaknya untuk selalu memperhatikan perkembangan zaman, terutama perkembangan di ranah pendidikan. Kemajuan teknologi bukanlah suatu ancaman bagi pengajar saat pengajar aware akan apa yang sebaiknya ditingkatkan dan diperbaiki. Demikian para orang tua perlu juga membuka diri untuk menerima jika anak-anak mereka ingin belajar secara online melalui internet. Bahwa internet tidak selalu membawa dampak buruk namun juga bisa bermanfaat dan menambah pengetahuan anak secara mandiri. Mereka bisa belajar dimana saja dan kapan saja sesuai dengan kebutuhan mereka melalui akses internet yang mereka miliki. Namun tetap diperlukan pengawasan dan bimbingan orang tua agar memanfaatkan internet dengan bijak (Sánchez-Valle, de-Frutos-Torres, & Vázquez-Barrio, 2017). Anak-anak mungkin saja belajar tanpa guru yang bertatapan namun dapat dibimbing melalui bimbel online atau pembelajaran jarak jauh.

Referensi:

 

Belina, E., & Batubara, F. R. (2013). Perancangan dan implementasi aplikasi e-learning versi mobile berbasis android. Jurnal Singuda Ensikom, 4(3), 76-81.

Hanum, N. S. (2013). Keefektifan e-learning sebagai media pembelajaran (studi evaluasi model pembelajaran e-learning smk telkom sandhy putra purwokerto). Jurnal Pendidikan Vokasi, 3(1), 90-102.

Kebritchi, M., Lipschuetz, A., & Santiague, L. (2017). Issues and challenges for teaching successful online courses in higher education: A literature review. Journal of Educational Technology Systems, 46(1), 4-29.

Nazarlou, M. M. (2013). Research on negative effect on e-learning. International Journal of Mobile Network Communications & Telematics, 3(2), 11-16.

Sánchez-Valle, M., de-Frutos-Torres, B., & Vázquez-Barrio, T. (2017). Parent’s influence on acquiring critical internet skills. Comunicar, 25(53), 103–111. https://doi.org/10.3916/C53-2017-10

Tur-Porcar, A. (2017). Parenting styles and Internet use. Psychology and Marketing, 34(11), 1016–1022. https://doi.org/10.1002/mar.21040