ISSN 2477-1686

Vol.2. No.3.Februari 2016

Apa Kata Sains Tentang Putus Cinta 

Chandradewi Kusristanti

Fakultas Psikologi Universitas YARSI 

Jika ada satu topik yang menarik perhatian ilmuwan, filsuf, ahli sejarah, penyair, penulis skenario, penulis novel, penulis lagu, dan lain sebagainya, topik tersebut adalah cinta (Reis & Aron, 2008). Cinta juga merupakan topik yang tidak asing bagi beberapa tokoh psikologi. Dalam teori perkembangan psikososial yang dipopulerkannya, Erikson menyatakan bahwa cinta merupakan virtue yang harus diperoleh individu dalam masa dewasanya. Sternberg, yang mencetuskan konsep triangular cinta, menyatakan bahwa cara cinta berkembang merupakan sebuah cerita. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa hampir setiap manusia memiliki cerita cintanya sendiri. Namun apa yang terjadi ketika cerita cinta itu berakhir?

Pengalaman Emosional

Akhir cerita cinta dapat dilatarbelakangi oleh berakhirnya hubungan romantis dengan pasangan. Menurut sejumlah penelitian, putusnya suatu hubungan romantis (seperti dengan kekasih) dapat menjadi salah satu pengalaman paling emosional yang dirasakan individu. Meski demikian, terdapat banyak variasi antar individu pada beberapa hal, seperti emosi spesifik yang dirasakan, level distres emosional yang dialami, serta seberapa lama distres emosional tersebut dialami (Frazier & Cook, 1993; Sprecher, 1994; dalam Sprecher, Schmeeckle, & Felmlee, 2006). Beberapa penelitian yang dilakukan di luar negeri juga menemukan bahwa jenis kelamin, pola kelekatan, kepuasan dalam hubungan, durasi hubungan, bahkan pihak yang menginisiasi berakhirnya suatu hubungan merupakan sejumlah faktor yang berhubungan dengan tingkat distres yang dialami pasca putus. Dengan demikian, adanya perbedaan pada perilaku ataupun emosi individu yang mengalami putus cinta merupakan suatu hal yang lazim.

Physical Pain & Social Rejection

Individu yang mengalami putus cinta seringkali mengatakan bahwa mereka mengalami rasa sakit (pain). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Kross, Berman, Mischel, Smith, & Wager (2011) yang mengungkap bahwa terdapat overlap aktivitas saraf antara individu yang mengalami rasa sakit pada fisik (physical pain) dan rasa sakit yang berasal dari social rejection (misalnya diputuskan oleh kekasih). Penelitian ini menggunakan instrumen penelitian berupa fMRI (functional Magnetic Resonance Imaging) dan menjadikan 40 orang yang baru mengalami putus cinta sebagai partisipan. Penelitian ini menemukan bahwa terdapat aktivasi pada area otak yang berkaitan dengan physical pain, yaitu korteks somatosensori sekunder dan dorsal posterior insula, ketika partisipan ditunjukkan foto mantan kekasihnya. Penelitian lain yang dilakukan oleh Gunther Moor, Crone, & Van Der Molen (2010) juga mengaitkan antara social rejection dengan kondisi fisik individu. Penelitian yang bertujuan untuk melihat manifestasi psikofisiologis dari rasa sakit yang dialami individu yang mengalami social rejection ini menemukan bahwa ada kaitan antara sistem saraf parasimpatetik dengan rasa sakit tersebut. Secara lebih spesifik, ditemukan adanya pelambatan detak jantung saat individu mengalami social rejection, terlebih lagi social rejection yang tidak terduga.

Bagaimana Meregulasi Emosi Pasca Putus Cinta?

Terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan dalam menghadapi putus cinta. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Lewandowski (2009), individu dapat mencoba untuk menuliskan pikiran dan perasaan mendalam terkait berakhirnya hubungan tersebut. Hal ini bertujuan agar individu dapat memahami peristiwa tersebut dengan lebih jelas, termasuk kemungkinan untuk menemukan sisi positif dari putusnya hubungan tersebut. Media sosial yang sangat lekat dengan keseharian kita saat ini juga turut berperan pada emosi yang dirasakan individu pasca putus. Penelitian yang dilakukan oleh Marshall (2012) menemukan bahwa terdapat peningkatan level distres pada individu yang kerap mengamati aktivitas mantan pasangannya di media sosial Facebook. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa salah satu hal yang dapat dilakukan individu pasca putus adalah menahan diri untuk tidak mencari tahu kondisi terbaru mantan pasangan, salah satunya di media sosial. Penelitian menarik lainnya yang dilakukan oleh Taruffi dan Koelsch (2014) menemukan bahwa mendengarkan musik yang ‘sedih’ atau ‘mellow’ justru membantu proses regulasi emosi negatif dan mood yang dirasakan individu. Mengacu pada hasil penelitian tersebut, maka individu yang mengalami putus cinta disarankan untuk mendengarkan musik sesuai dengan perasaan melankolik yang sedang dirasakan. Terakhir, penelitian yang dilakukan oleh Lewandowski, dkk (2006) menganjurkan individu yang mengalami putus cinta agar memperbaiki konsep dirinya untuk memudahkan proses coping yang dilakukan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Slotter, dkk (2010) yang menemukan adanya perubahan konsep diri pada individu yang mengalami putus cinta, terutama pada hubungan yang telah berlangsung lama.

Putus Cinta Tentulah Ada Hikmahnya

Tidak ada yang bisa memastikan seberapa lama waktu yang dibutuhkan individu untuk ‘bangkit’ kembali pasca putus. Hanya saja penelitian yang dilakukan oleh Bizzoco dan Lewandowski (2007) menemukan bahwa rata-rata partisipan membutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk melihat aspek positif dari putusnya hubungan romantis dengan pasangan. Hal ini juga membuat mereka merasa bertumbuh sebagai individu dan menjadi lebih berorientasi pada pencapaian tujuan hidup. Meski demikian, hal ini tidak dapat dijadikan acuan baku, mengingat pengalaman putus cinta yang bersifat subyektif bagi tiap individu. Berdasar penjelasan di atas, sudahkah Anda siap mengalami putus cinta?

 

Referensi

Bizzoco, N. M., Lewandowski, G. W. (2007) Addition through subtraction: growth following the dissolution of a low quality relationship. The Journal of Positive Psychology, 2(1), 40 – 54. doi:10.1080/17439760601069234

Gunther Moor, B. M., Crone, E. A., Van Der Molen, M. W. (2010). The heartbrake of social rejection: heart rate deceleration in response to unexpected peer rejection. Psychological Science, 21(9), 1326 – 1333. doi:10.1177/0956797610379236

Kross, E., Berman, M. G., Mischel, W., Smith, E. E., & Wager, T. D. (2010). Social rejection shares somatosensory representations with physical pain. Proceedings of the National Academy of Sciences, 108(15), 6270 – 6275. doi:10.1073/pnas.1102693108

Lewandowski, G. (2009). Promoting positive emotions following relationship dissolution through writing. The Journal of Positive Psychology, 4(1), 21 – 31. doi:10.1080/17439760802068480

Lewandowski, G. W., Jr., Aron, A., Bassis, S., & Kunak, J. (2006). Losing a self-expanding relationship: implications for the self-concept. Personal Relationships, 13(3), 317-331. doi:10.1111/j.1475-6811.2006.00120.x

Marshall, T. C. (2012). Facebook surveillance of former romantic partners: associations with post breakup recovery and personal growth. Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking, 5(10): 521-526. doi:10.1089/cyber.2012.0125

Reis, H. T. & Aron, A. (2008). Love: what is it, why does it matter, and how does it operate? Perspectives on Psychological Science, 3(1), 80 – 86. doi:10.1111/j.1745-6916.2008.00065.x

Slotter, E. B., Gardner, W. L., Finkel, E. J. (2010). Who am I without you? the influence of romantic breakup on the self-concept. Personality and Social Psychology Bulletin, 36(2): 147-160. doi:10.1177/0146167209352250

Sprecher, S., Schmeeckle, M., & Felmlee, D. (2006). The principle of least interest: inequality in emotional involvement in romantic relationship. Journal of Family Issues, 27(9), 1255 – 1280. doi: 10.1177/0192513X06289215

Taruffi L., Koelsch, S. (2014). The paradox of music-evoked sadness: an online survey. PLoS ONE, 9(10). doi:10.1371/journal.pone.0110490