ISSN 2477-1686
Vol.2. No.2. Januari 2016

 

 

 

Sri W Rahmawati

Fakultas Psikologi

Universitas Tama Jagakarsa

Bullying, istilah ini menjadi semakin sering terdengar dan popular di telinga kita saat ini, baik dalam pembicaraan santai maupun senda gurau sehari-hari kita, kata bullying kerap muncul. Seseorang yang dijadikan sasaran olok-olok antar teman, tak jarang memposisikan dirinya sedang menjadi  korban bully. Padahal di saat yang sama, yang bersangkutan dapat dengan leluasa membalas ejekan tersebut. Pada peristiwa lain, sebuah media massa memberitakan  seorang dengan inisial MA, yang adalah warga dari masyarakat kebanyakan. MA dianggap membully tokoh negara, karena ia melakukan rekayasa gambar tokoh tersebut dan mengganti badannya dengan gambar yang tidak senonoh. Sebenarnya, apa yang dilakukan MA dapat dikategorikan sebagai perbuatan penghinaan, tetapi apakah tepat mengatakan ia telah melakukan bullying? Berdasar dua peristiwa tersebut, ada hal yang menarik, di mana masyarakat sebenarnya masih banyak yang belum memahami secara benar makna harfiah dari bullying.

Apa itu Bullying?

Bullying merupakan salah satu bentuk tingkah laku agresi. Selain bullying, bentuk tingkah laku agresi lainnya  antara lain adalah perkelahian antar warga, tawuran berkelompok, dan tindakan kekerasan lainnya lainnya. Sebagian peneliti berpendapat bullying memiliki kesamaan dengan tingkah laku agresi (Davis, Parault dan Pellegrini, 2007); sementara peneliti lain menyatakan bullying adalah bagian dari tingkah laku agresi (Sullivan, 2000). Secara harfiah, kata bully berarti menggertak, dan mengganggu orang lain yang lebih lemah. Istilah bullying di kemudian hari digunakan untuk merujuk pada perilaku agresif seseorang atau sekelompok orang, yang dilakukan secara berulang-ulang terhadap orang atau sekelompok orang lainnya yang lebih lemah dengan tujuan menyakiti korbannya secara fisik maupun mental. Di samping itu, bullying merupakan perilaku agresif yang dibangun dari adanya niat dengan sengaja untuk menyebabkan ketidaknyamanan secara fisik maupun psikologis (Randall, 2000).

Ketidakseimbangan Kekuatan & Intensitas Waktu

Perbedaan bullying dengan tingkah laku agresif lainnya adalah dari segi jumlah dan intensitas waktu. Peneliti lain memberikan batasan yang lebih tegas mengenai bullying, yaitu tingkah laku agresi yang terjadi karena adanya perbedaan faktor kekuatan dari pelaku terhadap korbannya. Pelaku memiliki kekuatan yang tidak berimbang dibandingkan korbannya, dengan demikian terjadi kondisi imbalance of power. Dengan kata lain, korban merasa tersakiti, namun tidak dapat membalas perlakuan tersebut karena faktor ketidakseimbangan kekuatan yang dimiliki. Perbedaan kekuatan tersebut dapat tampil dalam beberapa bentuk, seperti: perbedaan status sosial, kekuatan fisik, ataupun perbedaan jumlah, yang diarahkan untuk menindas korbannya.Ketidakseimbangan kekuatan yang dimiliki bisa juga terjadi pada hal-hal seperti perbedaan ukuran badan, kekuatan fisik, jumlah pelaku dibandingkan dengan korbannya, perbedaan jenis kelamin, status sosial, perasaan lebih tinggi/ merasa lebih senior. 

Selain perbedaan kekuatan tersebut, sebuah perbuatan dikatakan bullying bila terjadi secara sistematis, yang terlihat dari kurun waktu tertentu, dan intensitas yang tertentu pula. Unsur ketidakseimbangan kekuatan dan intensitas yang berulang-ulang inilah yang membedakan bullying dengan bentuk tingkah laku agresif lainnya. Ketidakseimbangan yang berlangsung, membuat pola penyelesaian masalah akan terhalangi akibat pelaku dan korbannya tidak memiliki kapasitas yang sama. Hal tersebut memicu terjadinya perilaku bullying secara berulang. Pelaku bullying dapat mengulang-ulang perbuatannya karena faktor ingin menunjukkan kekuasaan atau superioritas, kepentingan ekonomi ataupun karena dorongan untuk mendapatkan kepuasan diri melihat orang lain tunduk kepada dirinya (Rigby, 2003).

Dampak Bullying

Bullying memiliki dampak tertentu yang ditimbulkannya. Pada jangka pendek, korban dapat merasa cemas pergi ke tempat di mana bullying terjadi; perasaan tidak aman; merasa terisolasi; mengalami harga diri rendah;  merasa depresi; hingga yang paling ekstrim adalah munculnya keinginan melakukan bunuh diri. Pada jangka panjang, korban bullying dapat mengalami gangguan emosional dan kepribadian. Sementara bagi pelaku, bullying akan berdampak pada hilangnya rasa empati, menipisnya toleransi dan penghargaan terhadap orang lain, mudah memberikan label/stigma tertentu, mudah menyalahkan orang lain, hingga mengambil hak orang lain dengan menggunakan kekuasaaan yang dimiliki, ataupun menjadi pelaku tindak kriminal.

Sudahkah Kita Memahami arti Bullying...?

Merupakan hal yang positif bila bullying kini menjadi kosa kata yang semakin dikenal oleh masyarakat kita. Namun demikian, mengembalikan arti bullying ke dalam makna yang tepat adalah hal yang perlu dilakukan. Membiarkan bullying terkikis maknanya sehingga menimbulkan salah kaprah tertentu, justru akan membuat kita kehilangan kepekaan untuk segera bertindak ketika terjadi praktik bullying yang sebenarnya terjadi. Dengan adanya tulisan ini, diharapkan dapat membantu masyarkat untuk dapat lebih memahami aa sebenarnya makna dari kata bullying.

 

Referensi:

Pellegrini. A. D., Bartini. M., Brooks. F. (1999). School Bullies, Victims, and Aggressive Victims: Factors Relating to Group Affiliation and Victimization in Early Adolescence. Vol. 91, Journal of Educational Psychology. 2. 216-224.

Rigby. K. (2003). Stop the bullying: a handbook for schools. Acerpress.

Sullivan, K. (2000). The Anti-bullying handbook. UK: Oxford University Press.

Randall. P.(2001). Bullying in adulthood: assessing the bullies and their victims. East Sussex : Brunner-Routledge Taylor & Francis Group.

 

http://issn.pdii.lipi.go.id/data/1446201810.png