ISSN 2477-1686  

   Vol.5 No. 13 Juli 2019

I’m Sorry, Please Forgive Me

(Jangan Hanya Diucapkan, Mari Praktikkan) 

 

Oleh

Ni Komang Karmini Dwijayani

Program Studi Psikologi, Universitas Udayana

“Katanya semua orangtua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya, tapi  keinginan itu malah membuatku tidak bahagia. Haruskah tetap ku jalani dengan terpaksa agar tidak durhaka?"

Anak sering bermain peran dalam skenario hidup yang dirancang sedemikian rupa oleh orangtua sebagai sutradaranya. Tidak semua realita dapat berjalan sesuai ekspektasi, tidak semua orang dapat bebas berekspresi menentukan jalan hidupnya sendiri. Apa yang menurut orangtua baik, bagi anak malah berbalik. Permulaan konflik yang dapat berujung pelik lalu menjadi siklik. Lalu, ketika anak terluka dan menolak semua hal tentang orangtua, mau dikata apa? Carl Jung menyatakan “Apa yang Anda tolak akan bertahan.” Penolakan yang terpendam dan belum termaafkan akan menyerang ke dalam, melukai diri sendiri lebih mendalam. Kata maaf adalah jawaban untuk penyembuhan. Maaf sangatlah mudah diucapkan, namun nyatanya tidak semua orang memaknai dan melaksanakannya dengan baik.

Makna Memaafkan dan Manfaatnya

Sebagai makhluk sosial, manusia selalu berinteraksi dengan orang lain. Manusia memiliki tendensi untuk menghindar atau membalas perlakuan orang lain sebagai bagian dari sifat manusia dalam tingkat biologis, psikologis, dan budaya. Kecenderungan manusia untuk membalas dendam secara psikologis juga disesuaikan dengan norma timbal balik, yaitu kecenderungan bawaan untuk membalas perilaku interpersonal negatif dengan perilaku yang lebih negatif. Memaafkan (forgiveness) merupakan pendekatan dimana individu menurunkan tanggapan negatif mereka terhadap pelanggar dan menjadi semakin termotivasi untuk memberlakukan yang positif sebagai gantinya. Memaafkan juga didefinisikan sesuai dengan sifat-sifatnya (Snyder, 2002) yaitu :

1.    Sebagai respons : perubahan prososial dalam pikiran, emosi, dan/atau perilaku korban terhadap pelanggar yang patut disalahkan. Ketika orang memaafkan, tanggapan mereka terhadap orang-orang yang telah melukai mereka menjadi kurang negatif atau prososial seiring waktu.

2.    Sebagai disposisi kepribadian : dipengaruhi oleh berbagai keadaan interpersonal.

3.    Sebagai karakteristik unit sosial : atribut yang mirip dengan keintiman, kepercayaan, atau komitmen. Beberapa struktur sosial (beberapa pernikahan, keluarga, atau komunitas) dicirikan oleh tingkat memaafkan yang tinggi atau komunitas dimana peserta dimaafkan dengan mudah atas pelanggarannya, sedangkan struktur sosial lainnya ditandai dengan kurangnya pemaafan (misalnya, lembaga sosial yang cepat mengucilkan atau membalas terhadap anggota yang melakukan pelanggaran).

 

Memaafkan dapat mengalahkan kemarahan dan menghilangkan pikiran untuk melakukan balas dendam, lebih lajut memaafkan dapat membawa kita untuk menghilangkan emosi negatif, bahkan orang yang memaafkan akan merasa lebih bahagia, kurang khawatir, dan lebih positif, daripada orang yang tidak pemaaf. Individu yang lebih pemaaf dapat menurunkan tekanan darah dan detak jantung terhadap stres (Rienneke, 2018). Memaafkan merupakan cara yang baik bagi anak broken home dalam mengatasi berbagai dampak buruk dari perceraian orangtua (Safitri, 2017). Hal ini didukung oleh penelitian dengan studi kasus yang menemukan bahwa dengan memaafkan, anak broken home dapat menemukan tujuan hidup dan tidak lagi merasa tertekan bahkan sering mengalami perasaan positif (Azra, 2017).

Memaafkan tidak hanya terjadi di tahap afeksi, tetapi juga pada tahap perilaku. Antara individu satu dengan lainnya akan melalui tahapan memaafkan yang berbeda-beda, prosesnya berjalan perlahan dan memerlukan waktu. Enright dan Coyle (Nashori, 2009 dalam Safitri, 2017) menyatakan terdapat empat tahapan proses memaafkan; uncovering, decision, work, outcome or deeping.

Mempraktikkan Terapi Memaafkan

Salah satu teknik healing untuk memaafkan adalah mempraktikkan Ho’oponopono. Ho’oponopono berasal dari Hawai, berarti proes pengampunan, pengulangan, dan perubahan. Pono artinya melihat hati seseorang, Ho’omanawanui artinya bersabar, tidak pergi mengambilnya dan melupakan tanpa menyetuhnya (Chun, 2006). Ho’oponopono dapat membantu kita belajar melepaskan ikatan pada pikiran negatif dan membetulkan sebuah kekeliruan. Penelitian ilmiah menyatakan Ho’oponopono dapat meningkatkan taraf kedamaian hidup (Leo, 2018). Cara mempraktikkannya sangat sederhana, dengan mengafirmasikan dan mengulang empat kalimat berikut, dapat dipadukan dalam meditasi, dapat juga dihayati secara audio-visual melalui lagu ho’oponopono yang sudah tersebar di youtube.

I am sorry (saya menyesal)

Please forgive me (maafkan saya)

Thank you (terima kasih)

I Love You (saya mencintaimu)

Secara psikologis, memaafkan tanpa perwujudan interpersonal akan menyakitkan. Namun ungkapan interpersonal tanpa ketulusan akan menjadi sebatas  ritual (Wardhati dan Faturrochman, 2009 dalam Safitri, 2017). Perilaku memaafkan akan efektif dan positif apabila terdapat penuntasan persoalan psikologis yang ditandai ketulusan serta kesungguhan untuk memperbaiki relasi di masa mendatang. Berbesar hatilah mengawali langkah baru dan lepaskan masa lalu negatif yang mengganggu. Maafkanlah orang yang telah menyakitimu, dan yang terpenting maafkan dan terima dirimu sendiri seutuhnya.

 

Forgiveness is not something we do for other people, we do it for ourselves

to get well and move on

-Merry Riana

 

Referensi:

Azra, F.N. (2017). Forgiveness Dan Subjective Well-Being Dewasa Awal Atas Perceraian Orang Tua Pada Masa Remaja. PSIKOBORNEO,5 (3) : 529-540. Diakses dari ejournal.psikologi.fisip-unmul.ac.id 

Chun, M. N. (2006). Ho’oponopono: Traditional Ways of Healing to Make Things Right Again. Hawai : Manoa.

Leo, N. Tribunnews. (2018, Maret 8).  Ho Oponopono, Lagu Ini Sangat Terkenal di Dunia, Bisa Hilangkan Stres, Coba Dengarkan. Diakses dari kupang.tribunnews.com.

Rienneke, T. C. dan Setianingrum, M. E. (2018). Hubungan Antara Forgiveness dengan Kebahagiaan Pada Remaja yang Tingga Di Panti Asuhan. Persona: Jurnal Psikologi Indonesia, 7 (1). Diakses dari http://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/persona

Safitri, A.M. (2017). Proses Dan Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Memaafkan Pada Remaja Broken Home. PSIKOBORNEO, 5 (1) : 152 – 161. Diakses dari ejournal.psikologi.fisip-unmul.ac.id 

Snyder, C.R & Lopez, S.J. (2002). Handook of Positive Psychology. New York: Madison Avenue.

 

 

 

 

 

 

 

 

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh