ISSN 2477-1686  

   Vol.5 No. 13 Juli 2019

 

Berbincang Motivasi Guna Menghadapi Kehidupan Perguruan Tinggi

 

Oleh

Eko A Meinarno

Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia

 

 

Pendahuluan

Pada bulan Agustus hingga Oktober mendatang, tahun ajar baru universitas akan dimulai. Para mahasiswa baru mulai akan memasuki jenjang perguruan tinggi dengan sebutan mahasiswa setelah sebelumnya menyandang gelar siswa. Bagaimana sebetulnya kehidupan mahasiswa dalam perguruan tinggi? Dunia perguruan tinggi tidaklah seindah yang dibayangkan. Dalam sebuah penelitian disebutkan bahwa angka putus kuliah secara nasional adalah 9,57%. Secara khusus, tingkat putus kuliah di PTN adalah 14% dan di PTS 8% (Suhendro, 1996, dalam Sukadji dan Singgih, 2001).

 

Tingginya angka putus kuliah ini tadi menarik perhatian banyak pihak. Salah satu peneliti, Julianti (1997 dalam Sukadji dan Singgih, 2001) mengemukakan hal-hal yang dapat menghambat prestasi belajar di perguruan tinggi yakni malas belajar, suka menunda pekerjaan dan rendahnya motivasi belajar.

 

Mengapa Motivasi Penting dalam Kehidupan Belajar Mengajar di Perguruan Tinggi?

Umumnya di perguruan tinggi, mahasiswa diharapkan tidak lagi bergantung dengan apa yang disajikan oleh gurunya. Hal ini berangkat dari pemahaman bahwa mahasiswa adalah murid yang secara fisik dan mental telah berkembang, sehingga dianggap memiliki kemampuan berpikir yang dapat disetarakan dengan pola pikir orang dewasa. Penelitian Hasnin (2015) menunjukkan bahwa pemilihan perguruan tinggi ternyata didasari keinginan meniti karir tertentu.

 

Ini berarti maju atau tidaknya kondisi belajar seorang mahasiswa amat bergantung dari dirinya, bukan orang lain. Justru di sinilah letak dari pangkal keberhasilan mahasiswa di perguruan tinggi. Di perguruan tinggi banyak hal yang menarik dan meningkatnya aktivitas. Oleh karena banyaknya “godaan” tadi, mahasiswa harus menciptakan kondisi-kondisi di dalam dan luar diri yang sekiranya dapat membuat diri tetap stabil atau berprestasi, di lingkungan akademis maupun dalam aktivitas lainnya. Kondisi itu sering disebut motivasi.

 

Apa itu Motivasi?

Jika memang motivasi itu penting, apakah motivasi itu? Bagaimana motivasi dapat membuat seseorang bertingkah laku tertentu? Secara konkrit motivasi tidaklah kasat mata. Yang dapat dilihat adalah tingkah laku seseorang. Berdasar kondisi itulah konsep motivasi yang secara umum dapat diterima diartikan sebagai kondisi psikologis (internal states) yang menimbulkan, mengarahkan dan mempertahankan tingkah laku tertentu (Sukadji dan Singgih, 2001). Sebagai contoh, untuk berprestasi belajar, faktor motivasi menjadi hal penting yang dibutuhkan, jika tidak maka akan menimbulkan hambatan (Julianti 1997, dalam Sukadji dan Singgih, 2001).

Walau demikian motivasi tidak melulu muncul dari dalam diri, terkadang ia muncul dari luar diri. Sebagai gambaran, seorang anak yang belajar bisa dikarenakan dua hal. Pertama, ia mau belajar karena ia tertarik pada temanya dan mau mendalaminya sehingga ia dapat merasakan kegunaannya. Atau, bisa jadi karena bulan depan ada ujian maka si anak harus membuka-buka materi tadi dengan berat hati. Yang pertama bisa disebut sebagai motivasi intrinsik, yang berikutnya bisa dianggap sebagai motivasi ekstrinsik.

 

Dalam dunia pendidikan khususnya di perguruan tinggi, motivasi intrinsik terasa lebih berperan daripada motivasi ekstrinsik. Hal ini mungkin dapat kita perhatikan dari beberapa gejalanya. Untuk memilih jurusan, anak cenderung memilih apa yang ia inginkan, bukan lagi perintah dari orangtuanya. Beberapa ciri umum yang diminta oleh perguruan tinggi terhadap mahasiswa adalah mandiri, memotivasi diri dan mampu bekerja sendiri (Takwin, Meinarno, Salim, Kurniawati, Diponegoro, Prasetyawati, 2011). Merujuk ciri mahasiswa ini, maka motivasi intrinsik yang lebih diharapkan tumbuh. Motivasi intrinsik juga lebih bisa bertahan lama ketimbang ekstrinsik. Tentu hal ini dikarenakan adanya dorongan bahwa diri membutuhkan hal tersebut. 

 

Maslow (1970), seorang peneliti tentang motivasi mencoba untuk meneliti hirarki-hirarki kebutuhan manusia. Hasilnya, ia mengurutkan kebutuhan-kebutuhan diri yang mendasar secara hirarkis. Menurutnya, kebutuhan mendasar pertama manusia adalah pemenuhan kebutuhan tubuh/fisiologis. Kebutuhan ini antara lain dipenuhi melalui makan, minum, istirahat, berhubungan badan dan lain-lain. Pada hirarki berikutnya adalah kebutuhan akan rasa aman. Rasa aman ini tidak semata aman secara fisik (ada satpam), juga aman secara mental.

 

Beranjak pada hiraki berikutnya adalah kebutuhan akan cinta dan kebersamaan. Ini diwujudkan dengan mencintai seseorang dan atau memberi perhatian dan berkontribusi terhadap masyarakat. Pada hirarki keempat adalah esteem, yakni kebutuhan untuk menumbuhkan rasa keberhargaan diri, di mata diri sendiri dan juga orang lain. Dan yang terakhir, aktualisasi diri. Suatu kondisi pemenuhan pencapaian yang disadari oleh diri seseorang karena potensi dan keunikannya (disarikan dari Feldman, 2003).    

 

Memotivasi Diri (umum dan untuk prestasi)

Gambaran kehidupan perguruan tinggi dan pengertian motivasi telah dijabarkan. Lantas bagaimana memotivasi diri untuk belajar? Moran (1997, dalam Sukadji dan Singgih, 2001) memberikan beberapa kiat untuk motivasi belajar antara lain:

1.  Pemberian ganjaran pada diri sendiri untuk membentuk tingkah laku yang diinginkan. Setelah Anda menjalani kegiatan yang amat melelahkan (kuliah selama satu semester, atau melewati serangkaian tugas-tugas), bolehlah kita memanjakan diri kita dengan sesuatu yang menyenangkan hati diri. Jalan-jalan atau beli baju yang diidam-idamkan atau bahkan membeli ponsel baru adalah beberapa kegiatan yang merupakan upaya menghadiahi diri kita. Namun ingat, hadiah tidak perlu mahal. Hal yang mendasarnya adalah hadiah dan dapat menjadi penyemangat kita di kesempatan lain.

2.  Penetapan sasaran secara efektif. Motivasi butuh pengarahan, tidak asal dan bekerja serabutan. Perlu adanya sasaran yang jelas bagi diri sehingga tingkah lakunya tidak melenceng dari apa yang diinginkan. Setidaknya ada dua hal yang perlu ditegakkan (McKeachie, 1994), yaitu tetapkan dengan jelas sasaran Anda, jika perlu dikhususkan dengan detail. Contoh, dalam tiga tahun ke depan saya akan menjadi sarjana, tepatnya sarjana psikologi, dengan waktu tiga tahun dan IP 3,99. Kedua, ketika ketetapan telah diperjelas, “tulis”! Langkah selanjutnya membuat tahapan-tahapan kecil untuk mencapai sasaran utama. Misalnya untuk lulus tiga setengah tahun di psikologi mungkinkah? Jika ya, saya harus  punya jadwal belajar yang baik, dalam seminggu 14 jam untuk belajar. Nilai-nilai harian saya harus 85, minimal! Dengan semakin jelas sasaran yan ingin diraih, juga berguna untuk memonitor perkembangan hasil kita selama beberapa waktu. 

3.  Penataan lingkungan belajar (Moran, 1997 dalam Sukadji dan Singgih, 2001). Hal utama adalah temukan “ruang belajar” Anda. Tidak mesti sebuah rungan yang nyaman seperti hotel, tapi justru yang nyaman dan memudahkan Anda untuk belajar. Tak hanya fisik, secara sosial mungkin perlu dipertimbangkan “ruang-ruang belajar” tadi, misalnya di perpustakaan, masjid/gereja dll. Kurangi waktu untuk kegiatan yang percuma, pikirkan bahwa kegiatan-kegiatan yang dipilih nantinya berguna untuk masa depan diri kita dan lain-lain.

 

Penutup

Bagi para mahasiswa baru, status mahasiswa akan sangat membanggakan. Namun perlu diingat bahwa masa berbangga hati hanya sebentar. Sangat penting menjalani masa studi dengan rapi dan bersemangat. Jaga motivasi, agar dapat lulus tepat waktu dengan hasil yang baik.

 

Referensi:

 

Feldman, R. S. (2003). Essentials understanding psychology (5th. ed.). New York: McGraw Hill.

 

Hasnin, H. D. (2015). Pengaruh kepribadian, letak kendali perilaku, dan motivasi terhadap otonomi remaja memilih perguruan tinggi. Jurnal Psikologi Ulayat: Indonesian Journal of Indigenous Psychology, 2(1), 381-395.

 

McKeachie, W. J. (1994). Teaching tips: Strategies, research, and theory for college and university teachers. DC Heath and Company.

 

Sukadji, Soetarlinah., Singgih Evita E (editor). (2001). Sukses belajar di perguruan tinggi.

 

Takwin, B., Meinarno., EA., Salim, ES., Kurniawati, F., Diponegoro, M., Prasetyawati, W. (2011). Buku orientasi belajar mahasiswa: Belajar di perguruan tinggi. Depok: Direktorat Pendidikan Universitas Indonesia.

 

 

 

 

 

 

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh