ISSN 2477-1686  

 

   Vol.5 No. 13 Juli 2019

Inferiority Complex & Perfeksionisme

 

Oleh

Debora Octaviani Wiguna dan Mutiara Mirah Yunita

 

Program Studi Psikologi, Universitas Bunda Mulia

 

Tampaknya sebagian besar orang menganggap bahwa memiliki standar yang tinggi merupakan hal baik. Mengejar kualitas daripada kuantitas dapat menunjukkan bahwa diri anda memiliki etos kerja yang baik dan memberikan nilai positif pada karakter anda. Standar yang tinggi juga dapat mendorong diri anda untuk melakukan yang terbaik dalam berbagai situasi. Contohnya, penulis membaca banyak buku dari berbagai disiplin ilmu agar dapat menghasilkan sebuah karya yang akurat dan tidak mengecewakan pembaca.

 

Kemudian muncul pertanyaan: Memang apa salahnya memiliki standar tinggi? Atau berusaha sebaik mungkin? Bukan hal yang salah untuk memiliki standar yang tinggi dalam hidup dan bukan masalah juga untuk berusaha sebaik mungkin. Namun menjadi masalah ketika anda ingin segala aspek dalam hidup anda sempurna dan tanpa cela. Keinginan untuk sempurna dan tanpa cela dikenal dengan istilah perfeksionisme. Perfeksionisme adalah disposisi kepribadian yang ditandai dengan adanya usaha keras untuk menjadi sempurna dan menetapkan standar kinerja yang terlalu tinggi dan terlihat mustahil untuk dicapai dan seandainya dapat tercapai pun diperlukan usaha yang sangat besar, perfeksionisme juga disertai dengan kecenderungan untuk melakukan evaluasi yang terlalu kritis terhadap diri sendiri (Flett & Hewitt, 2002; Frost, Marten, Lahart & Rosenblate, 1990).

 

Standar Tinggi vs Perfeksionisme

Orang dengan standar tinggi berusaha untuk melakukan yang terbaik tanpa berbuat kesalahan tetapi disaat yang sama individu ini percaya bahwa kesalahan dapat terjadi dari waktu ke waktu dan tidak bisa dihindari dan kesalahan ini tidak lantas menghancurkan segala aspek dalam hidupnya. Namun, orang yang perfeksionis cenderung menganggap bahwa kesalahan sekecil apapun mendefinisikan bahwa hidupnya merupakan suatu kegagalan atau dirinya adalah orang yang gagal dan mengecewakan banyak orang.

 

Pemikiran seperti ini membuat orang yang perfeksionis sangat takut untuk berbuat salah, pada akhirnya pemikiran ini akan mempengaruhi pola pikir, perilaku dan emosi. Perfeksionisme membuat individu merasa depresi, frustasi, cemas dan khawatir berlebih

(Stober & Joorman, 2001), insomnia (Jansson-Frojmark & Linton, 2010), mengalami penyakit fisik (Magee, 2014) dan atau psychological distress (Macedo, Marques & Pereira, 2014). Hal ini terjadi karena individu tidak mampu mencapai standar yang ditetapkan dengan mudah walau sudah menghabiskan banyak waktu dan tenaga. Seiring berjalannya waktu, individu mulai percaya bahwa dirinya tidak sepandai dan semampu orang lain.

 

Asal Mula Perfeksionisme

Teori mengenai perfeksionisme dimulai oleh Alfred Adler dan teorinya masih sejalan dengan konsep perfeksionisme hingga masa kini (Hewitt, Flett, & Mikail, 2017). Menurut Adler, setiap manusia pasti memiliki perasaan inferior karena perasaan inferior merupakan representasi elemen dasar dari eksistensi manusia, oleh karena itu setiap manusia pasti pernah mengalami inferiority complex, inferiority complex dapat dihadapi dengan cara adaptif maupun maladaptif (Feist, Feist & Roberts, 2013). Indikator yang paling terlihat dari inferiority complex adalah kecemasan, kecemasan yang terus bertambah menyebabkan individu mengembangkan kepribadian compulsory neurosis. Dimana, individu akan terus mengalami keinginan yang tidak tertahankan untuk mengungkapkan perasaan inferiornya dan jika tidak diungkapkan ia akan merasa cemas, tapi disaat yang sama individu tidak ingin orang lain tau mengenai perasaan inferiornya.

 

Akhirnya individu berusaha mengatasi kecemasan lewat mencapai kesempurnaan dengan asumsi bahwa kesempurnaan ini akan menunjukkan bahwa individu lebih superior dari individu lainnya, apabila individu lebih superior maka individu tidak perlu lagi merasa inferior dan orang lain tidak perlu tau bahwa individu memiliki inferiority complex (Feist, Feist & Roberts, 2013; Hewitt, Flett, & Mikail, 2017). Superiority complex melibatkan permintaan yang mustahil untuk dicapai baik oleh diri individu maupun oleh orang-orang disekitar individu dan mendorong individu untuk menjadi sosok yang penuh talenta dan memiliki kemampuan superhuman, dimana hal ini hampir mustahil untuk dicapai. Superiority Complex pada tahap ekstrim membuat individu mengejar kesempurnaan Tuhan, yang artinya kesempurnaan yang mustahil untuk dicapai dengan cara apapun (Hewitt, Flett, & Mikail, 2017). Dari sini dapat dilihat bahwa konsep awal perfeksionisme adalah superiority complex.

 

Kemudian, bagaimana cara menangani perfeksionisme?

1. Belajar untuk mengenali perfeksionisme. Ingat standar tinggi bukanlah suatu masalah, menjadi masalah ketika anda menetapkan standar yang mustahil untuk dicapai dan akhirnya malah mengganggu kehidupan kerja/pendidikan dan sosial anda.

2. Cara menghadapi perfeksionisme.

a. Berpikir Realistis. Ganti pemikiran yang terlalu kritis pada diri sendiri dengan pernyataan yang lebih realistis dan bermanfaat (cth. Tidak ada yang sempurna, semua orang berbuat kesalahan, dsb)

 

 

b. Melihat dari sudut pandang lain. Setiap anda mulai terlalu kritis pada diri anda, cobalah untuk berpikir bagaimana teman anda akan menyikapi pemikiran ini? Apakah ada cara lain untuk melihat hal ini?

c. Lihat gambaran besarnya. Terkadang anda terlalu fokus dengan hal kecil hingga tidak menyadari gambaran besarnya, perhatikan apakah hal kecil yang menjadi fokus anda akan mempengaruhi gambaran besar secara signifikan? Dan jika mempengaruhi secara signifikan, apakah anda bisa bertahan dan apakah kesulitan ini akan bertahan seumur hidup?

d. Kompromi. Tentukan berapa level ketidaksempurnaan yang bisa anda toleransi.

3. Berikan Hadiah untuk Diri Anda. Anda telah bekerja keras untuk menghadapi ketakutan anda dan telah berusaha mengubah cara lama dalam melakukan sesuatu, pastikan untuk selalu meluangkan waktu untuk menghargai diri sendiri untuk semua pekerjaan yang anda lakukan (cth. Jalan-jalan, pergi bersama teman, membeli makanan enak).

 

Referensi:

Feist, J., Feist, G.J & Roberts, T. A. (2013). Theories of Personality (8th Ed). New York: McGraw-Hill Education.

 

Flett, G. L., & Hewitt, P. L. (2002). Perfectionism and maladjustment: An overview of theoretical, definitional, and treatment issues. Washington D.C: American Psychological Association.

 

Frost, R. O., Marten, P., Lahart, C., & Rosenblate, R. (1990). The dimensions of perfectionism. Cognitive Therapy and Research, 14, 449–468.

 

Hewitt, P. L., Flett, G. L., & Mikail, S. F. (2017). Perfectionism: A relational approach to conceptualization, assessment, and treatment. Guilford Publications.

 

JanssonFröjmark, M. J., & Linton, S., J. (2010). Is perfectionism related to preexisting and future insomnia? A prospective study. The British Psychological Society, 46(1), 119–124.

 

Macedo, A., Marques, M & Pereira, A. (2014). Perfectionism and psychological distress: a review of the cognitive factors review. International Journal of Clinical Neurosciences and Mental Health 1(6). http://dx.doi.org/10.21035/ijcnmh.2014.1.6

 

Magee, A. (2014). Perfectionism could be ruining your health. Retrieved May 8, 2019, from Daily Mail website: https://www.dailymail.co.uk/health/article- 2604621/Trying-perfect-ruining-health-It-trigger-heart-disease-IBS-insomnia- experts-say-bad-smoking.html.

 

Stöber, J & Joorman, L. (2001). Cognitive Therapy and Research, 25(1), 49-60. doi:10.1023/a:1026474715384.

 

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh