ISSN 2477-1686  

 

   Vol.5 No. 12 Juni 2019

Sisi Gelap Optimisme: Pesimisme Juga (Terkadang) Dibutuhkan

 

Oleh

Garvin

Program Studi Psikologi, Universitas Bunda Mulia

 

Pentingnya Optimisme

Martin Seligman melalui gerakan Psikologi Positif berhasil mengangkat kembali pentingnya optimisme dalam sistem psikologis manusia. Orang yang optimis diketahui akan lebih memiliki daya tahan dalam menghadapi situasi sulit, lebih terlindungi dari depresi, dan juga lebih bahagia dalam kehidupannya sehari-hari (Seligman, 1991). Tidak hanya secara psikologis, bahkan optimisme juga diketahui dapat meningkatkan kesejahteraan fisik, seperti memicu pola hidup yang sehat ( Conversano, Rotondo, Lensi, Vista, Arpone, & Reda, 2010) dan kesehatan kardiovaskular (Hernandez, Kershaw, Siddique, Boehm, Kubzansky, Diez-Roux, Ning, H., & Lloyd-Jones, 2015). Optimisme dapat diterapkan dalam berbagai latar, seperti pendidikan, industri (perusahaan), klinis, dan sosial. Bahkan Hassett, Fisher, Vie, Kelley, Clauw, & Seligman (2019) baru-baru ini mempublikasikan penelitiannya terkait dengan optimisme pada tentara. Hasilnya, tentara dengan tingkat optimisme rendah melaporkan rasa sakit yang lebih tinggi ketika kembali dari medan tempur dibandingkan dengan tentara dengan tingkat optimisme yang lebih tinggi (Hassett et al., 2019). Beragam manfaat serta sifatnya yang aplikatif membuat optimisme menjadi salah satu konstruk psikologis yang cukup sering dibicarakan.

 

Optimisme vs Pesimisme

Pertanyaannya, sehebat apakah optimisme? Apakah optimisme diperlukan untuk berbagai hal dan kesempatan? Apakah orang yang memiliki tingkat optimisme tinggi akan selalu bahagia dan berhasil dalam berbagai area hidupnya? Apakah optimisme bisa menjadi “obat mujarab” untuk semua permasalahan psikologis?

 

Penelitian yang dilakukan oleh Alloy dan Abramson (1971) dapat memberikan jawaban

awal dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Sekumpulan mahasiswa (depresi dan non-depresi) dilibatkan dalam sebuah eksperimen, berupa aktivitas menekan sebuah tombol untuk menyalakan lampu di dalam ruangan. Manipulasi pun diberikan, ada kelompok yang diberikan kendali terhadap cahaya lampu: lampu akan menyala setiap mereka menekan tombol dan lampu tidak akan menyala apabila mereka tidak menekan tombol (situasi kontrol). Namun, ada kelompok yang tidak memiliki kendali terhadap cahaya lampu: lampu akan menyala sekalipun mereka tidak menekan tombol (situasi tanpa kontrol). Tujuan dari eksperimen ini adalah untuk melihat bagaimana orang-orang yang mengalami depresi dan non-depresi mempersepsikan kontrol yang mereka miliki terhadap lingkungan sekitar mereka.

 

Hasilnya menarik. mahasiswa yang masuk dalam kategori depresi memiliki penilaian yang akurat terhadap kontrol mereka baik dalam kondisi apapun. Mereka sadar ketika mereka sedang memiliki kontrol dan mereka sadar ketika mereka sedang tidak memiliki kontrol. Di sisi lain, mahasiswa yang masuk dalam kategori non-depresi menunjukkan hasil yang berbeda. Mereka tahu bahwa mereka memiliki kontrol saat berada dalam situasi kontrol. Namun ketika mereka dimasukkan ke dalam situasi tanpa kontrol, mereka tetap berpikir bahwa mereka memiliki kendali atas lampu tersebut! Simpulannya, orang-orang yang pesimis dapat dengan akurat menilai situasi mereka; sedangkan orang-orang yang optimis selalu memiliki penilaian yang lebih positif sekalipun mereka berada pada situasi sulit sekalipun.

 

Sisi Lain Pesimisme

Penelitian ini kemudian memunculkan pemikiran bahwa pesimisme pun bisa jadi berguna (Seligman, 1991). Pesimisme bisa membantu seseorang untuk menilai situasi sulit dengan lebih akurat, kontras dengan orang-orang optimis yang kadangkala melihat situasi sulit secara bias. Orang-orang yang terlalu optimis dapat memiliki pandangan yang terdistorsi tentang lingkungannya, karena mereka hanya terfokus pada sisi-sisi baik yang tersisa dari situasi sulit dan tidak menyadari kemungkinan buruk yang berpotensi muncul. Pesimisme dapat membantu kita untuk menarik diri dari tindakan tergesa-gesa yang berisiko tinggi. Dengan menimbang sisi buruk dari suatu kondisi, kita akan berpikir dua kali lebih keras, mencegah kita untuk terburu-buru dan bertindak secara grasa-grusu.

 

Bayangkan apabila kita memiliki optimisme yang berlebihan dan selalu berpikir optimis dalam berbagai situasi, hal-hal apa saja yang mungkin terjadi? Meski sudah terjatuh berkali-kali, kita tetap berpikir optimis dan menganggap bahwa jalan keluar akan muncul apabila kita terus mengupayakan hal yang sama. Bisa-bisa kita menjadi “berdarah-darah” dan tumbang. Penulis menjadi berpikir bagaimana bila seorang pedagang saham yang selalu berpikir optimis sekalipun kondisi ekonomi berada dalam situasi sulit. Saham-saham yang “jelek” sekalipun bisa saja dibeli dan akibatnya mengalami kebangkrutan. Atau bisa saja seseorang memiliki pendekatan yang salah dalam melakukan sebuah wirausaha dan terus berpikir optimis. Ia yang seharusnya mengevaluasi caranya dan mencari pendekatan yang lebih tepat, justru menjadi berpikir terlalu optimis dan membiarkan dirinya tenggelam dalam kerugian. Seorang alkoholik yang optimis bisa saja mengabaikan pesan-pesan berbahaya dari meminum alkohol secara berlebihan karena ia berpikir belum tentu penyakit itu akan menghampirinya (Dillard, Midboe, & Klein; 2009).

 

Penggunaan Sikap Optimisme yang Tepat

Kalau begitu, sejauh mana optimisme dibutuhkan agar dapat memberikan manfaat bagi diri manusia? Dillard, Midboe, dan Klein (2009) menyampaikan bahwa optimisme yang tidak realistis (unrealistic optimism) adalah optimisme yang berbahaya. Optimisme yang tidak realistis merupakan sebuah keyakinan keliru bahwa peluang seseorang untuk mengalami masalah lebih kecil daripada orang lain (Weinstein dalam Dillard et al., 2009). Tentu saja, berbagai macam penelitian sudah menunjukkan bahaya dari optimisme yang tidak realistis ini. Secara psikologis, seseorang dengan optimisme yang tidak realistis akan lebih mudah mengalami kekecewaan dan penyesalan (Carroll, Sweeny, & Shepperd; 2006). Orang-orang dengan optimisme yang tidak realistis juga akan lebih rentan terhadap permasalahan fisik akibat peningkatan alkoholisme (Dillard et al., 2009) dan memiliki intensi yang lebih rendah untuk berhenti merokok (Dillard, McCaul, & Klein; 2006).

 

Dari berbagai kajian tersebut, penulis kemudian menyimpulkan bahwa sepenuhnya mengandalkan optimisme saja adalah hal yang terlalu naif, bahkan berbahaya apabila optimisme tersebut tidak realistis. Inilah sisi gelap optimisme. Optimisme memang diperlukan, tetapi dalam konteks yang realistis. Artinya, optimisme pun perlu dilandasi dengan berbagai bukti yang dapat mendukung pemikiran optimistis tersebut, dan tanpa mengabaikan kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa terjadi. Pesimisme tidak dapat diabaikan sepenuhnya, karena pesimisme bisa memberikan sikap berhati-hati dan preventif terhadap kemungkinan buruk yang bisa terjadi di masa depan. Namun, mengingat besarnya efek negatif dari pesimisme, “porsi” pesimisme perlu diperhatikan dan dikendalikan agar tidak melebihi “porsi” optimisme dalam sistem psikologis manusia. Lebih jauh lagi, ada perlunya kita mampu menimbang baik-buruk dalam segala hal, agar terhindar dari optimisme yang tidak realistis dan pesimisme yang berlebihan. Kemampuan berpikir yang kontemplatif dan bijaksana dibutuhkan dalam konteks ini. Pada akhirnya, penulis menyarankan agar kita memiliki optimisme yang realistis: yakni optimisme yang dikembangkan setelah melalui proses pertimbangan baik-buruk dari suatu kejadian.

 

Semoga dapat dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari kita.

 

Referensi:

Alloy, L.B., & Abramson, L.Y. (1979). Judgment of contingency in depressed and nondepressed students: Sadder but wiser? Journal of Experimental Psychology General, 108(4), 441-485.

 

Carroll, P., Sweeny, K., & Shepperd, J.A. (2006) Forsaking optimism. Review of General Psychology, 10(1),56-73.

 

Conversano, C., Rotondo, A., Lensi, E., Vista, O.D., Arpone, F., & Reda, M.A. (2010). Optimism and its impact on mental and physical well-being. Clinical Practice & Epidemiology in Mental Health, 6, 25-29.

 

Dillard, A.J.; McCaul K.D.; Klein W.M.P. (2006). Unrealistic optimism in smokers: Implications for smoking myth endorsement and self-protective motivation. Journal of Health Communication, 11(1), 93–102.

 

Dillard, A., Midboe, A.M., & Klein, W.M.P. (2009). The dark side of optimism: Unrealistic optimism about problems with alcohol predicts subsequent negative event experiences. Personality and Social Psychology Bulletin, 35(1), 1540-1550.

Hassett, A.L., Fisher, J.A., Vie, L.L., Kelley, W.L., Clauw, D.J., & Seligman, M.E.P. (2019). Association between predeployment optimism and onset of postdeployment pain in US army soldiers. JAMA Network Open, 2(2):e188076. doi:10.1001/jamanetworkopen.2018.8076.

 

Hernandez, R., Kershaw, K.N., Siddique, J., Boehm, J.K., Kubzansky, L.D., Diez-Roux, A., Ning, H., & Lloyd-Jones, D.M. (2015). Optimism and cardiovascular health: Multi-ethnic study of atherosclerosis. Health Behavior and Policy Review, 2(1), 62-73.

 

Seligman, M. (1990). Learned optimism: How to change your mind and your life. NY: Vintage Books.

 

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh