ISSN 2477-1686  

   Vol.5 No. 11 Juni 2019

 Apa Adanya atau Ada Apanya?

Oleh

Sandra Handayani Sutanto

Fakultas Psikologi, Universitas Pelita Harapan

Illustrasi

X, laki-laki, bungsu dari 3 bersaudara. Ia memiliki 2 orang kakak perempuan dan dibesarkan dalam keluarga yang harmonis. Kedua orang tuanya berasal dari suku tertentu di Sumatera. Menurut orang tuanya, sebagai anak laki-laki dan penerus marga, X terlalu lembut, kurang berani dan kurang bersemangat. Orang tuanya kerap kali mempertanyakan mengapa anak laki-laki mereka seperti ini, tidak seperti kakak sulung perempuan yang berani mengambil resiko. Pola asuh yang diterapkan oleh orang tua seringkali membuat X tertekan dan tidak berani mengemukakan pendapat. Ia cenderung menuruti semua keinginan orang tua tanpa perlawanan.

Dalam sesi konseling, orang tua X pada akhirnya menyadari keunikan X yang berbeda dengan kakak-kakaknya. Pengasuhan terhadap X tidak bisa disamakan dengan pengasuhan kakak sulung. Ketika orang tua memutuskan untuk merubah pola asuh, sikap X juga ikut berubah. Saat orang tua menerima diri X dengan semua keunikannya, X pun menjadi lebih berani menyuarakan opininya dan mulai menjadi dirinya apa adanya. Familiar dengan kasus tersebut? Pernah mengalami sendiri dalam posisi X atau pernah menjadi orang tua X?

Unconditional Positive Regards

Rogers mendefinisikan unconditional positive regard sebagai kebutuhan untuk disukai atau dihargai tanpa syarat (dalam Feist, Feist & Roberts, 2018). Unconditional positive regard bukan diartikan sebagai menerima setiap tindakan yang dilakukan individu, tetapi menerima dengan lebih dalam—apa adanya dengan semua keunikannya. Dalam sesi konseling dan terapi, unconditional positive regard  berkaitan dengan menghargai klien sebagai manusia dengan keinginan bebas dan bahwa mereka akan melakukan terbaik yang mereka bisa lakukan. Untuk memahami konsep ini, kita bisa mengkontraskan dengan positive regard yaitu mengasihi dengan syarat tertentu, seperti menyayangi anak jika mendapatkan nilai ujian minimal 90. Rogers percaya individu yang tidak mendapatkan unconditional positive regard, cenderung akan memiliki rasa keberhargaan diri yang minim dan kurang maksimal untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki.

Pengasuhan dengan Unconditional Positive Regard

Ackerman (2018) menegaskan bahwa pengasuhan dengan unconditional positive regard tidak berarti menerima dan menyetujui semua yang dilakukan oleh anak. Unconditional positive regard bukan juga sebuah sikap yang membiarkan anak berkuasa dan melakukan sesuatu yang berbahaya dan tidak sehat, tetapi lebih menyerupai sikap yang diberikan oleh orang tua dan membuat anak merasa dicintai dan dihargai dan memfasilitasi perkembangan keberhargaan diri dan kepercayaan diri.

Dampak Pengasuhan dengan Unconditional Positive Regard

Ackerman (2018) menambahkan ketika orang tua mempraktikan unconditional positive regard kepada anak, maka orang tua mengijinkan anak untuk mencoba hal yang baru, membuat kesalahan dan berlaku spontan. Unconditional positive regard yang diberikan orang tua membantu memenuhi dua kebutuhan yang esensial yaitu pengalaman positive regard—perasaan positif dari orang lain dan memiliki perasaan positif mengenai dirinya. Hasil penelitian oleh Roth, Kanat-Maymon dan Assar (2015) menunjukan bahwa unconditional positive regard akan mendukung praktik pengasuhan orang tua yang otonom dan penuh dukungan, dan berujung pada motivasi otonom pada remaja.

Teknik Pengasuhan Unconditional Positive Regard

Untuk melakukan unconditional positive regard, Ackerman (2018) menyarankan orang tua bisa mencoba beberapa teknik sebagai berikut :

1.    Memodifikasi kata-kata, contoh kalimat seperti “Tingkah lakumu memalukan dan tidak bisa diterima.” menjadi “Mama tetap dan akan selalu menyayangimu, namun mama kecewa dengan tindakanmu”. Perubahan kata-kata tersebut memiliki dampak yang besar terhadap perkembangan harga anak.

2.    Fokus dengan perasaan, daripada memarahi atau terfokus dengan kesalahan yang telah mereka perbuat. Hal ini efektif pada saat anak mengakui kesalahan atau meminta nasihat dari orang tua. Tanyakan mengenai perasaan setelah melakukan kesalahan dan pandulah anak-anak untuk membuat keputusan yang lebih baik.

3.    Melatih beberapa frasa atau kata-kata sebagai pengingat bagi diri sendiri, contohnya  “Saya menyayangi anak saya tanpa kondisi, walaupun saya tidak membenarkan semua pilihan yang diambil.” Kalimat lain seperti “Saya ada untuk menolong, mengerti dan menyediakan panduan –bukan untuk mengkritisi.”

Ketika kita membiasakan dan melakukan teknik unconditional positive regard, kita sedang mengambil peranan besar dalam perkembangan keberhargaan dan kepercayaan diri anak.

When you criticise me, I intuitively dig in to defend myself

However when you accept me like I am, I suddenly am willing to change.

-Carl Rogers

Referensi

 

Ackerman, C. (2018). Unconditional positive regard in psychology : Definition + 7 seven examples and techniques. Positive Psychology Program. Retrieved from : https://positivepsychologyprogram.com/unconditional-positive-regard/

 

Feist, J., Feist, G.J., & Roberts, T. (2013). Theories of personality (8th ed.). New York: McGraw-Hill.

 

Roth, G., Kanat-Maymon, Y., & Assor, A. (2016). The role of unconditional parental regard in autonomu-supportive parenting. Journal of Personality, 84(6),716-725. DOI : 10.1111/jopy.12194.

 

 

 

 

 

 

 

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh