ISSN 2477-1686

 

  Vol.5 No. 8 April 2019

Dumbo & Efikasi Diri

 

Oleh

Sandra Handayani Sutanto

Fakultas Psikologi Universitas Pelita Harapan

 

 

Kisah Dumbo

Dumbo adalah film klasik Disney yang dibuat ulang, disutradarai oleh oleh Tim Burton, dan edar di bioskop pada tahun 2019. Film ini mengisahkan mengenai Dumbo, seekor anak gajah yang lahir dari Nyonya Jumbo dan dilahirkan dalam rombongan Sirkus Medici Bersaudara. Dumbo dilahirkan berbeda dengan anak gajah yang lain, ia memiliki telinga yang cukup lebar hingga bisa menutupi wajahnya. Ia merasa malu dengan telinga lebarnya. Dalam sebuah pertujukan, tanpa sengaja Dumbo menampilkan telinga lebarnya. Penonton merasa terkejut  lalu menertawakan dan mencaci Dumbo. Cacian dan makian pada Dumbo, membuat Nyonya Jumbo marah dan melindungi anaknya.  Mengamuknya nyonya Jumbo membuat kelompok sirkus merasa dirugikan dan akhirnya dikembalikan pada penjual dan dipisahkan dengan Dumbo. Suatu hari, penghuni sirkus yang bernama Joe dan Milly Farrier mengajak Dumbo bermain dengan bulu dan menemukan bahwa dengan bulu yang membuatnya bersin maka telinga lebarnya bisa digunakan untuk terbang. Sejak saat itu, untuk bisa terbang, Dumbo perlu dibantu dengan sehelai bulu yang akan dihisap oleh belalainya dan setelah itu Dumbo akan melebarkan telinganya dan terbang. Singkat cerita, dalam usaha membebaskan Nyonya Jumbo, bulu yang Dumbo percaya bisa membantunya terbang terbakar. Ayah Milly (Holt Farrier) menegaskan bahwa Dumbo bisa terbang tanpa memerlukan bulu. Awalnya Dumbo ragu, namun perlahan ia mempercayai apa yang dikatakan oleh Holt dan Milly, dan pada akhirnya berhasil terbang dan bersatu dengan Nyonya Jumbo. Berdasarkan cerita tersebut, dapat dikatakan bahwa keberhasilan Dumbo untuk dapat terbang adalah karena kepercayaannya/keyakinan dirinya, atau bisa diebut efikasi diri.

 

Efikasi Diri

Bandura (dalam Feist, Feist, & Roberts, 2013) menyatakan efikasi diri adalah keyakinan individu terhadap kemampuannya untuk menggunakan sejumlah kontrol terhadap diri dan fungsi mereka, dan juga atas kejadian-kejadian yang terjadi di lingkungan.  Singkatnya efikasi diri merujuk pada keyakinan individu bahwa mereka memiliki kemampuan untuk mengerjakan perilaku tertentu.

 

Efikasi diri tidak merujuk pada kemampuan yang berhubungan dengan kemampuan motorik, atau tidak berarti bisa mengerjakan sesuatu terbebas dari rasa cemas, stres atau takut. Pada akhir cerita, Dumbo memiliki keyakinan bahwa ia bisa terbang dan ia berhasil terbang dengan menggunakan kedua telinganya, walaupun ia sempat mengalami ketakutan.

 

Faktor yang mempengaruhi efikasi diri

Efikasi bisa meningkat karena beberapa faktor sebagai berikut :

1.    Pengalaman menguasai kemampuan. Keberhasilan seseorang mengerjakan tugas yang sulit akan meningkatkan  efikasi diri. Kesuksesan seseorang untuk menyelesaikan tugas seorang diri—daripada tugas berkelompok juga akan meningkatkan efikasi seseorang.

2.    Social modeling. Efikasi diri seseorang akan meningkat ketika mengobservasi keberhasilan orang lain yang memiliki kompetensi yang sama. Misalnya A dan B sama-sama memiliki kemampuan rata-rata dalam Matematika. Ketika A mengobservasi B yang memperoleh nilai 100 untuk Matematika, maka efikasi diri A akan naik dan memiliki keyakinan bahwa dirinya juga mampu mencapai nilai 100.

3.    Persuasi sosial, persuasi dari orang lain bisa meningkatkan atau menurunkan efikasi seseorang dalam kondisi tertentu. Selain itu status dan otoritas seseorang turut mempengaruhi efikasi terhadap individu. Contohnya Psikoterapis—yang memiliki kompetensi-- menyarankan treatment tertentuakan lebih didengar daripada saran sahabat yang tidak memiliki latar belakang Psikologi. Persuasi yang diterima Dumbo oleh Holt dan Milly membantunya untuk memiliki keyakinan ia dapat terbang tanpa bulu.

4.    Kondisi fisik dan emosi. Emosi yang intens dan kuat cenderung menurunkan kinerja seseorang, dibandingkan dengan kondisi emosi yang tidak terlalu intens / tegang.

 

Manfaat efikasi diri

Hasil penelitian Zimmerman (2000) menyatakan bahwa anak-anak yang memiliki efikasi yang tinggi akan lebih siap berpartisipasi, bekerja lebih keras, bertahan lebih lama dan memiliki reaksi emosional merugikan yang lebih sedikit dibandingkan mereka yang memiliki efikasi yang lebih rendah.

Penelitian Bandura (1997) menyebutkan bahwa siswa yang memiliki efikasi yang lebih tinggi lebih bisa mengelola tuntutan akademik dan secara emosional akan memengaruhi dalam menurunkan kecemasan, stres dan depresi.

 

Meningkatkan efikasi diri

Nwiran (2018) memberikan beberapa cara untuk meningkatkan efikasi diri :

1.    Mulai dari yang kecil. Mulailah dengan membuat target yang lebih kecil,maka  pencapaian tugas yang lebih kecil akan membantu untuk menjadi katalis pencapaian tugas yang lebih besar.

2.    Mengamati orang lain. Individu tidak hanya belajar dari pengalaman langsung tetapi juga dengan mengamati orang lain. Contohnya saat seseorang diberikan tugas yang belum pernah dilakukan sebelumnya, belajarlah dengan mengamati dan bertanyalah pada orang lain yang pernah mengerjakan tugas tersebut, termasuk pelajari pula kegagalan yang pernah mereka alami.

3.    Melihat ke belakang. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan efikasi adalah dengan melihat pada pencapaian  yang pernah diraih sebelumnya. Keahlian dan hal yang telah dipelajari sebelumnya akan membantu dalam mengerjakan tugas pada saat ini.

 

Penutup

Sebagai kesimpulan, efikasi bisa dimiliki oleh setiap orang dan bisa dikembangkan lebih lanjut. Jika Dumbo saja bisa memiliki efikasi untuk mengepakan telinganya dan terbang, bagaimana dengan kita?

 

 

People’s level of motivation, affective states and actions are based more on what they believe than on what is objectively the case.

–Albert Bandura

 

 

Referensi:

 

Bandura, A. (1997). Self-efficacy : The exercise of control. New York : Freeman.

 

Feist, J., Feist, G.J., & Roberts, T. (2013). Theories of personality (8th ed.). New York: McGraw-Hill.

 

Nwiran, Y. (November 22, 2018). 3 ways to build self efficacy and boost your reslience. Positive Psychology Program. Retrieved from :  https://positivepsychologyprogram.com/3-ways-build-self-efficacy/.

 

Zimmerman, B.J. (2000). Self efficacy : An essential motive to learn. Contemporary Educational Psychology, 25, 82-91. Doi : 10.1006/ceps.1999.1016