ISSN 2477-1686

  Vol.5 No. 5 Maret 2019

Nilai-nilai Moral dan Psikologis Permainan Tradisional Bagi Anak

 

Oleh

Raja Ahmad Fauzan Rizky Hasibuan dan Ruth P.M. Ginting

Fakultas Psikologi, Universitas Sumatera Utara

Permainan tradisional merupakan permainan yang diwariskan secara turun temurun dan mempunyai berbagai macam fungsi atau pesan. Permainan tradisional merupakan hasil budaya yang besar nilainya bagi anak-anak dalam rangka berimajinasi, berekreasi, berkreasi, berolahraga yang seklaigus sebagai sarana berlatih untuk bermasyarakat, keterampilan, kesopanan, dan ketangkasan. Permainan tradisional sangatlah popular sebelum masuknya teknologi yang berkembang seperti saat ini.

Saat ini, permainan tradisional sangatlah sulit ditemukan di masyarakat, bahkan terkadang anak-anak banyak yang tidak mengetahui contoh dan cara kerja permainan tradisional. Kelangkaan dari permainan tradisional itu sendiri disebabkan oleh beberapa faktor seperti maraknya permainan modern, kurangnya kesadaran untuk melestarikan, dan dianggap kuno atau tidak kekinian yang menimbulkan rasa gengsi pada diri anak-anak jika dimainkan pada zaman ini. Permainan modern seperti playstation, nintendo, virtual reality dan sejenisnya yang dimainkan di perangkat elektronik lebih menarik perhatian anak-anak saat ini karena permainan tersebut dianggap lebih mudah dan menarik untuk dimainkan dan tidak terlalu banyak melibatkan kontak fisik dan sosial seperti permainan tradisonal. Menurut Haerani (2013), permainan tradisional memang berbeda dengan permainan digital. Tidak hanya dari kesan yang ditimbulkannya, tetapi juga dari makna dan pengaruhnya pada anak-anak Indonesia. Walaupun permainan modern terlihat lebih menarik dan canggih dibanding permainan tradisional untuk di zaman sekarang, tetapi ia (permainan modern) memiliki dampak negatif yang lebih banyak daripada permainan tradisional.

Permainan tradisional memiliki beberapa keuntungan, seperti tidak perlu biaya yang besar seperti permainan modern untuk memainkannya, hanya dengan mengandalkan kreativitas dan bahan-bahan yang ada disekitar lingkungan, kita bisa dengan mudah menciptakan dan memainkannya. Salah satu contohnya adalah permainan engklek, yang hanya membutuhkan sepetak tanah dan gambar bentuk pola garis di permukaan tanah yang nantinya dijadikan sebagai bidang lompatan dan batu sebagai target dan lemparan.

Permainan tradisional juga memiliki banyak manfaat dan nilai-nilai moral serta psikologis yang lebih baik bagi anak dibanding permainan modern. Dalam permainan tradisional anak selalu dituntun aktif secara fisik, verbal, dan mental dalam bermain. Sedangkan dalam permainan modern, anak cenderung bermain secara pasif dan hanya sedikit mengandalkan gerakan fisik.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Iswinarti (2010:9) pada 30 anak  SD kelas III dan IV di Malang menunjukkan bahwa terdapat sejumlah nilai yang terkandung pada permainan tradisional engklek bagi anak, seperti nilai deteksi dini untuk mengetahui masalah-masalah pada anak-anak, nilai untuk perkembangan fisik yang baik bagi anak karena anak dituntut beraktivitas fisik pada permainan tersebut dan berusaha untuk mengontrol keseimbangan tubuhnya juga mengembangkan keterampilan dalam pertumbuhan anak, nilai untuk kesehatan mental yang baik karena dapat membantu pengendalian dirinya, perasaannya dapat berkomunikasi efektif secara alami, dan mengurangi kecemasannya, nilai problem solving, anak belajar memecahkan masalah pada permainan ini agar ia bisa menyelesaikannya dengan baik, dan nilai sosial karena dalam permainan ini membutuhkan lebih dari seorang pemain dan anak harus berkomunikasi dengan lawan atau kawan bermainnya agar permainan ini berjalan lancar.

Selain itu, ada juga penelitian terhadap permainan tradisional cublak-cublak suweng. Menurut Herawati (2015:7), cublak-cublak suweng memiliki nilai-nilai seperti nilai kerjasama, karena pada permainan ini anak harus bekerja sama dengan teman mainnya dan mereka harus sama-sama bernyanyi dan bergerak mengikuti ritme lagu yang dinyanyikan dan harus mematuhi aturan permainan. Karena apabila ada yang tidak bernyanyi atau tidak bergerak, maka jalan permainan menjadi tidak baik; nilai keresponsifan, yakni anak yang memiliki berbagai sifat seperti pendiam atau pasif, aktif maupun hyperaktif biasanya akan melebur sehingga menciptakan kerukunan; dan nilai kreatifitas, permainan ini akan melatih anak untuk lebih kreatif karena memanfaatkan biji maupun kerikil sebagai bahan permainan yang dari lingkungan alam sekitar dan melatih anak untuk berfikir karena anak yang dadi menebak anak yang menggenggam uwer atau biji.

Secara umum, permainan tradisional berfungsi sebagai stimulus bagi perkembangan kognisi, fisik dan mental bagi anak. Secara alami, anak akan mengembangkan kreativitasnya karena mereka akan menciptakan permainan hanya dari bahan-bahan lingkungan sekitar, dan dari kreativitas tersebut nantinya akan membantu anak mengembangkan kecerdasan lainnya seperti kecerdasan spasial dan natural.

Permainan tradisional juga bisa menjadi terapi bagi anak. Pada saat anak bermain, mereka akan melepaskan emosinya pada permainan, mereka akan merasa suka cita, berteriak, tertawa dan bergerak aktif. Walaupun terkadang bisa juga ditemukan perselisihan dan perkelahian pada permainan anak karena emosi mereka yang belum terkontrol dan tidak stabil dimasanya. Pada saat tersebut, orang dewasa berperan aktif sebagai penstabil emosi dan pengawas anak dalam pelaksanaan permainan agar anak bisa terkontrol dan dapat mengambil kesan yang baik dan positif dari setiap permainan yang dimainkan.

Dari pernyataan-pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa permainan tradisional perlu digali dan dikembangkan karena memiliki berbagai nilai-nilai moral dan psikologis bagi anak. Selain itu, permainan ini juga dapat membentuk perilaku ekstrovert pada anak. Hal ini terjadi karena anak yang memainkan permainan tradisional akan selalu berhubungan sosial dengan teman bermainnya dan hal ini akan berdampak positif bagi kehidupan sosialnya di masa yang akan datang. Permainan ini juga dapat membentuk pribadi yang openness pada anak karena anak akan mengembangkan kreatifitasnya dalam permainan tradisional dengan memanfaatkan benda-benda yang ada di sekitar lingkunnya dan menjadikannya sebagai objek bermain, serta dapat membentuk perilaku yang conscientiousness pada anak karena dalam permainan tradisional menjunjung tinggi sportifitas dan memiliki nilai-nilai tanggung jawab dan taat akan aturan.

Oleh karena itu, kita tidak boleh meninggalkaan permainan tradisional, melainkan kita harus melestarikan permainan tradisonal  dengan mengajarkannya ke generasi berikutnya.  Hal ini dikarenakan banyaknya nilai-nilai moral, sosial, budaya, serta psikologis yang terkandung dalam permainan tradisional.


Referensi

Herawati, E. N. (2015). Nilai-Nilai karakter yang terkandung dalam Dolanan Anak pada Festival Dolanan Anak Se-Diy 2013. Jurnal Penelitian, 13 (1), 7-17.

Iswinarti. (2010). Nilai-nilai terapiutik permainan tradisional Engklek untuk Anak usia Sekolah Dasar. Jurnal Humanity, 6 (1), 8-18.

Nur, Haerani. (2013).  Membangun karakter anak melalui permainan anak tradisional. Jurnal pendidikan karakter, 3.