ISSN 2477-1686

   Vol.5 No. 5 Maret 2019

Kuliah Antistres

Oleh

Andre Yohanes Sebayang dan Nani Melinda

Fakultas Psikologi, Universitas Sumatera Utara 

Latar Belakang

Proses belajar (learning) adalah setiap perubahan perilaku yang relatif permanen yang dibawa melalui pengalaman (Lahey, 2005). Pada tingkat lanjut, individu akan memutuskan untuk meneruskan pendidikannya sampai ke jenjang perguruan tinggi. Proses pembelajaran di perguruan tinggi atau “perkuliahan” cenderung berorientasi kepada pengembangan mahasiswa. Oleh karena itu, dibuatlah program belajar yang menekankan keterlibatan mahasiswa yang lebih dominan untuk pengembangan dirinya sendiri. Ada banyak tantangan yang harus dihadapi mahasiswa di masa perkuliahan seperti mempersiapkan materi perkuliahan sebelum kelas kuliah dimulai, menyelesaikan tugas-tugas yang ada dengan deadline waktu yang singkat, serta persiapan untuk ujian dengan menguasai bahan materi yang pernah diajarkan diperkuliahan dengan mencapai standar minimal nilai yang telah ditetapkan agar mahasiswa dapat lulus di mata kuliah yang mereka ambil. Bila tantangan tersebut tidak dapat diselesaikan mahasiswa, konsekuensinya akan berujung pada lamanya masa kuliah yang akan terus dijalani mahasiswa yang akan mempengaruhi waktu untuk wisuda. Hal tersebut dapat menimbulkan stres pada mahasiswa jika tidak ditemukan pemecahan masalahnya.

Definisi Stres

Stres adalah suatu kondisi di lingkungan yang membuat tuntutan yang tidak biasa pada organisme, seperti ancaman, kegagalan, atau kehilangan. Stres juga merupakan kondisi internal, respon individu terhadap situasi yang menekan (Garrett, 2005). Kejadian atau keadaan yang menggangu individu melebihi kemampuan individu tersebut untuk mengatasinya juga merupakan pemicu lain dari stres. Stres kronis akan berdampak buruk terhadap kesehatan fisik dan psikologis seperti dapat mengganggu memori, meningkatkan atau menurunkan nafsu makan, menghabiskan energi, dan menyebabkan gangguan suasana hati. Stres meningkatkan tekanan darah tinggi, sehingga dapat merusak jantung atau menyebabkan stroke. Stres yang sangat tinggi dapat menyebabkan kematian, tetapi mengurangi stres dapat meningkatkan kesehatan (Garrett, 2005). Ini artinya, efek negatif stres berpengaruh terhadap tubuh manusia dan sangat fatal akibatnya jika tidak diatasi.

Sumber Stres dan Upaya Menghadapinya

Upaya mengatasi stres dimulai dari mencari sumber stres tersebut. Stres bersumber dari peristiwa dalam kehidupan, frustrasi, konflik, tekanan, dan kondisi lingkungan (Lahey, 2005). Berdasarkan survey dari 46 mahasiswa Universitas Sumatera Utara, sumber stres mereka yang signifikan adalah frustrasi dan tekanan yang dialami. Frustrasi adalah hasil dari ketidakmampuan untuk memuaskan motif (Lahey, 2005). Frustrasi yang dialami mahasiswa diakibatkan oleh keinginan-keinginan mereka seperti mendapat nilai baik, menyelesaikan tugas dengan tepat, dan waktu tidur yang cukup tidak tercapai, padahal mereka telah memberikan yang terbaik menurut mereka. Sedangkan, tekanan adalah stres yang muncul dari ancaman kejadian negatif (Lahey, 2005). Tekanan yang dialami mahasiswa diakibatkan oleh kemungkinan-kemungkinan mahasiswa akan gagal pada tugas perkuliahan, mengingat tuntutan yang mereka terima sangat banyak, dan tuntutan itulah yang menekan mereka. Setelah mendapatkan sumber stres, selanjutnya yang dilakukan adalah coping stress. Coping adalah upaya-upaya oleh individu untuk menangani sumber stres dan/ atau mengendalikan reaksi-reaksi mereka terhadapnya (Lahey, 2012). Hal ini dapat dilakukan melalui 3 metode, yaitu:

Metode yang pertama adalah removing or reducing stress. Salah satu cara efektif untuk menghadapi stres adalah untuk menghapus atau mengurangi sumber stres dari kehidupan kita. Sumber stres mahasiswa umumnya adalah frustrasi dan tekanan karena persoalan nilai kuliah dan IP semester. Untuk mengurangi atau menghapus sumber stres tersebut, dapat dilakukan dengan belajar tentunya. Buatlah jadwal-jadwal yang baik dan sistematik terkait dengan waktu yang harus digunakan untuk belajar, jadwal mengerjakan serta menumpulkan tugas pada catatan yang bisa anda lihat kapan saja saat anda perlukan, seperti di aplikasi note pada handphone. Pada umumnya, mahasiswa terlalu sibuk memikirkan banyaknya tugas yang sudah menumpuk karena kurangnya pengaturan waktu yang tepat agar semua hal itu dapat dikerjakan satu-persatu dengan lebih santai, sehingga beban stress akibat terlalu memikirkan jadwal deadline pengumpulan tugas ataupun jadwal untuk meringkas pelajaran sebelun ujian dapat dikurangi bahkan dapat dihilangkan.

Metode yang kedua adalah cognitive coping (Lahey,2012). Tiga strategi cognitive coping yang efektif yaitu,

1.  Mengubah bagaimana cara kita berpikir tentang peristiwa yang membuat stres. Misalnya mahasiswa stres akibat terlalu memikirkan kegagalan atau kesalahan yang pernah dialami saat ujian dimana hal tersebut sangat membuatnya merasa seperti orang yang gagal. Individu dapat mengubah mindset semacam itu dengan menanamkan prinsip bahwa setiap orang yang sukses pasti pernah mengalami kegagalan juga. Kuncinya adalah terus berusaha menampilkan yang terbaik dan tidak mudah menyerah.

2.  Tidak berfokus pada peristiwa-peristiwa stres yang tidak dapat diubah. Anda tidak perlu memfokuskan pikiran anda dengan meratapi nilai mengecewakan yang telah anda dapatkan. Fokus saja pada ujian selanjutnya untuk mendapatkan nilai yang lebih memuaskan.

3.  Religious coping, yaitu mengatasi secara efektif dengan menginterpretasi peristiwa dipandang dari segi kepercayaan religius (Folkman & Moskowitz dalam Lahey, 2012). Disini cara mengatasi stres adalah dengan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan yang Maha Esa.

 

Metode yang ketiga adalah managing stress reaction (Lahey, 2012). Ketika sumber stres tidak dapat dihapus atau diubah secara realistis, opsi efektif lain adalah mengelola reaksi psikologis dan fisiologis terhadap stress. Hal ini lebih tepatnya mengatur pola pikir Anda terlebih dahulu. Ada baiknya setiap permasalahan yang ada jangan terlalu diambil pusing yang justru dapat menyebabkan stres. Bila terlalu stuck atau dengan kata lain “buntu” dengan masalah yang ada, lepaskanlah sejenak permasalahan tersebut dengan melakukan hal yang disukai, seperti melakukan hobi dan kegiatan relaksasi, hangout dengan teman dan sahabat, ataupun menghabiskan waktu dengan keluarga dan orang-orang yang disayangi. Berilah waktu pada diri anda sendiri untuk bisa lebih tenang dan santai.

Stres berdampak baik jika stres tersebut tidak berkepanjangan dan dapat diatas dengan baik, tetapi stres berdampak buruk jika stres tersebut berkepanjangan dan tidak dapat diatasi.  Jika mahasiswa melakukan effective coping pada saat mengalami stres, maka mereka tidak akan mengalami stres kronis pada saat menjalani proses belajar. Sehingga, proses belajar yang mereka jalani secara signifikan mendekati tahap tanpa stres.

Referensi:

Garrett, B. (2005). Brain and behavior. California: Wadsworth, a division of Thomson Learning, Inc.

Lahey, B. B. (2012). Psychology: An Introduction. New York: McGraw-Hill Higher

Education.

Sistem Pendidikan Tinggi di Indonesia. (2013). Diunduh dari http://tesispendidikan.com/sistem-pendidikan-tinggi-di-indonesia/