ISSN 2477-1686

  Vol.5 No. 5 Maret 2019

Curhat di Media Sosial : Trend Katarsis Masa Kini

Oleh

Frida Medina Hayuputri

Fakultas Psikologi, Universitas Persada Indonesia YAI

Curhat di Media Sosial

Curhat merupakan singkatan dari curahan hati. Curahan hati adalah ungkapan suara hati seseorang mengenai suatu hal ataupun seseorang. Dahulu, ketika belum ada media sosial, orang biasa mengungkapkan suara hatinya di buku harian (diary), dan biasanya bersifat rahasia. Diary bersifat pribadi, bahkan biasanya dilengkapi dengan kunci dan gembok, agar tidak bisa dibaca oleh orang lain.

Namun, setelah dunia virtual akrab dengan kehidupan kita sehari-hari, trend curhat di diary semakin tergerus, dan bahkan menghilang. Kini orang lebih menyukai curhat di media sosial. Dengan menuangkan permasalahan pribadi ke media sosial, bukan hanya keluarga dan teman-teman dekat yang bisa mengetahui keluh kesah kita, tetapi seantero teman dalam dunia virtual akan mengetahuinya, karena telinga dan mata publik di media sosial sangatlah luas.

Katarsis

Istilah ‘katarsis’ berasal dari kata dalam Bahasa Yunani, kathoros, yang berarti ‘untuk membersihkan.’ Istilah ini telah digunakan dalam beberapa bidang keahlian, salah satunya bidang Psikologi yang mengaplikasikan istilah katarsis untuk menggambarkan sebuah momen berdasarkan teori Freud, ketika seseorang mampu melepaskan rasa sakit di masa lalu dengan cara mengartikulasikan segala kesakitan tersebut dengan jelas dan secara menyeluruh (Wahyuningsih, 2017). Berdasarkan analisis hasil-hasil penelitian pada topik ini, disimpulkan bahwa aktivitas katarsis merupakan instrumen yang efektif untuk mengurangi agresi yang bersifat terbuka (Baron & Byrne, 2012).

Dalam bahasa sederhana, katarsis adalah salah satu cara untuk menyalurkan emosi atau agresi yang terpendam. Atau dengan kata lain, katarsis sebagai pelampiasan kecemasan dan ketegangan yang ada didalam diri seseorang.

Curhat di Media Sosial: Trend Katarsis Masa Kini

Terdapat beberapa alasan untuk curhat di media sosial (Kirnandita, 2017), yaitu:

1.    Media sosial memungkinkan munculnya respons orang lain terhadap permasalahan kita dengan cepat. Ketika menuliskan pengalaman di media sosial, yang diharapkan adalah seluruh mata teman virtual akan tertuju kepada kita. Serta ungkapan simpati, dukungan, bahkan popularitas bisa diraih dengan cepat.

2.    Media sosial bisa mengukuhkan kubu kita. Dengan banyaknya pihak yang membela, kita bisa menyerang balik pihak yang dianggap merugikan. Bisa juga melakukan aksi mempermalukan “si musuh”, karena terciptanya solidaritas dari status atau caption yang kita unggah.

3.    Di media sosial, kita bisa dengan sepuasnya membeberkan hal-hal yang menyinggung “si musuh” tanpa perlu menyebutkan namanya. Sehingga kita tidak perlu berkonfrontasi langsung. Karena jika kita berbicara langsung dengan “si musuh”, ada konsekuensi dan resiko yang harus kita tanggung.

Media sosial sebagai katarsis, sebenarnya tidak melulu berdampak negatif. Tetapi juga memiliki faktor positif maupun negatif. Bagaimanapun juga, media sosial itu hanyalah sebuah media, yang kesemuanya bergantung pada penggunanya. Media sosial bisa dipakai menyalurkan aspirasi secara positif, atau hanya sekadar dipakai untuk pelampiasan kemarahan saja (Nurudin, 2015).

Dampak Negatif Curhat di Media Sosial

Menggunakan media sosial sebagai wadah katarsis, perlu kita pertimbangkan dengan baik, karena hal tersebut memiliki beberapa dampak negatif, yaitu:

1.    Menghadapi konflik yang semakin besar, jika reaksi teman virtual tidak sesuai harapan kita. Bisa saja mereka malah menyalahkan dan menghakimi kita terhadap permasalahan yang kita unggah.

2.    Pelepasan emosi di media sosial hanya bersifat sementara, karena setelah emosi kita mereda, dan kita membaca kembali curhatan kita, biasanya emosi negatif akan meningkat kembali. 

3.    Jika permasalahan (konflik) sudah berhasil kita selesaikan, di kemudian hari kita akan merasa bersalah dan malu jika membaca kembali curhatan kita di media sosial.

4.    Memiliki dampak negatif pada pekerjaan kita, misalkan teguran dari pihak kantor yang membaca curhatan kita, atau citra buruk bagi kantor yang ada di benak semua orang, yang pada akhirnya dapat berujung pada Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Selain itu, jika rekam jejak kita mengeluhkan kehidupan kantor di media sosial menyebar, pemberi kerja lain akan memberi label buruk atau tidak profesional pada diri kita. Sehingga kita akan kesulitan mencari pekerjaan baru.

Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kita harus lebih bijaksana dalam menggunakan media sosial sebagai wadah katarsis, karena bisa membawa banyak kerugian bagi diri kita sendiri.

Referensi

Baron, R. A., & Byrne, D. (2012). Psikologi sosial jllid 2. Jakarta: Erlangga.

Kirnandita, Patresia. (2017, Desember). Mengapa orang curhat di media sosial? Gaya Hidup. Diunduh dari http://tirto.id.

Nurudin. (2015). Media sosial sebagai katarsis mahasiswa. Jurnal Komunikator Universitas Muhammadiyah Malang, 7, (2), 93-102.

Wahyuningsih, Sri. (2017). Teori katarsis dan perubahan sosial. Jurnal Komunikasi Universitas Trunojoyo Madura, 9, (1), 39-52.