ISSN 2477-1686
Vol. 2., No. 1, Januari 2016

Clara Moningka

PIC Event, KPIN

 

Sudah beberapa tahun ini saya mencari teman masa kuliah saya yang entah ada di mana. Kerinduan itu datang karena dia tidak hanya sekedar teman namun juga orang yang selalu ada dalam suka dan duka. Percakapan terakhir kami melalui telepon sekitar 10 tahun yang lalu mengenai usaha yang akan dirintisnya di daerah. Beberapa bulan kemudian telepon genggamnya tidak bisa dihubungi sehingga saya pun mulai melakukan pencarian yang cukup panjang. Akhirnya di penghujung tahun 2015 ini saya bisa menemukan teman saya… Terima kasih pada teknologi dan jejaring sosial yang membuat semua orang bisa menjadi lebih dekat. Pencarian ini tidak mudah memang...karena ia memang tidak aktif di media sosial… 

 

Teman saya adalah cucu seorang yang memiliki nama cukup besar di tanah air namun kini keadaannya jauh dari kekayaan berlimpah. Ia harus jatuh bangun: bangkrut dalam merintis usaha dan kini tinggal di rumah dengan yang jauh berbeda dari rumahnya dahulu.  Saya sempat menanyakan bagaimana dia dapat menerima semua ini dan tetap bisa ceria saat bertemu. Ia pun bercerita dengan cukup lancar. Ia mengakui, memang sulit menerima keadaan yang terjadi namun kemudian ia bersyukur atas apa yang dialami. Paling tidak, menjadi lebih bersahaja dan menghargai yang ada dalam hidupnya saat ini: selalu ada kata “untungnya”.

 

Bagi saya pribadi sulit untuk membayangkan seseorang dengan kehidupan mewah; papan atas kemudian hidup cukup sederhana. Jauh dari kehidupan sebelumnya, terlebih bukan karena pilihan namun karena suatu bencana.

 

Bersyukur, Kebaikan Hati

Bersyukur sendiri seringkali dikaitkan dengan agama atau religi. Bersyukur merupakan “keharusan” umat beragama atas karunia Yang Esa. Di satu sisi, kata “bersyukur” ini merupakan kata yang cukup sering digunakan,di sisi lain kata ini tidak mudah untuk dilakukan. Bersyukur seringkali didefinisikan sebagai rasa bahagia dan berterimakasih; respon emsosional atas suatu berkat atau karunia. Berkat tersebut bisa berupa keuntungan, keindahan alam, pencapaian atau apapun yang dipersepsikan orang bersangkutan sebagai suatu keuntungan.  (Peterson & Seligman dalam Johan dan Moningka, 2015, Puyser dalam Snyder, 2005). Dari asal katanya, bersyukur berasal dari bahasa latin ‘gratia’ yang bermakna kebaikan hati, keindahan dalam memberi dan menerima ((Emmons, McCullough, & Tsang dalam Snyder, Lopez, Pedrotti, 2006; Pruyser dalam Snyder, Lopez, Pedrotti, 2006).

 

Emmons (dalam Snyder, Lopez, Pedrotti, 2006) menjelaskan bahwa bersyukur bisa bermakna mendayagunakan diri, melakukan sesuatu yang bernilai atau bermakna bagi orang lain, juga keadaan di mana individu menghargai segala pengalaman dalam hidupnya. Berdasarkan pendapat Emmons, bersyukur berhubungan dengan individu lain, namun pada dasarnya peristiwa dalam kehidupan juga dapat menimbulkan rasa syukur. Menurut banyak agama, bersyukur seharusnya menjadi bagian dari kehidupan seseorang. Seorang filsuf, David Humme (dalam Snyder, Lopez, Pedrotti, 2006) berpendapat bahwa tidak bersyukur, tidak berterima kasih merupakan kejahatan yang paling buruk yang dilakukan oleh manusia.

 

Penelitian eksperimen yang dilakukan Emmons dan Mc Cullough (2003) berkenaan dengan bersyukur mengindikasikan bahwa individu yang mampu melakukan pencatatan atau mengingat apa saja kejadian dalam hidupnya yang membuat ia bersyukur cenderung memiliki kesejahteraan psikologis yang lebih baik. Penelitian Bono (2012) mengenai perilaku bersyukur melibatkan 700 remaja berusia 10-14 tahun di Amerika menghasilkan data 20% dari sampel memiliki perilaku sangat tidak bersyukur dan 20% dari sampel memiliki perilaku sangat bersyukur. Penelitian ini merupakan penelitian longitudinal, di mana empat tahun setelah penelitian tersebut mahasiswa yang memiliki perilaku bersyukur ternyata merasa lebih bahagia dan lebih memiliki hidup yang berarti, walaupun ada beberapa orang yang mengalami stres dan depresi, namun jumlahnya lebih kecil dibandingkan dengan remaja yang merasa bahagia.

 

Penelitian mengenai bersyukur juga dilakukan oleh Johan dan Moningka (2015). Penelitian dilakukan untuk mengetahui bersyukur atau tidaknya remaja marjinal yang ada di Jakarta. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa lebih dari 50% partisipan cenderung kurang bersyukur atas kehidupan mereka.  Hidup dalam kondisi marjinal memang bukanlah hal yang menyenangkan, namun dalam hal ini Johan dan Moningka ingin melihat apakah dalam kehidupan yang sulit mereka juga dapat mengambil hikmah dan menikmati apa yang ada.

 

Every Cloud has a Silver Lining

Sulit memang untuk bersyukur secara nyata. Pernahkah Anda mendengar kalimat  “every cloud has a silver lining”? Apakah itu hanya akan menjadi kalimat yang indah ataukah akan menjadi nyata sangatlah bergantung pada cara kita melihat hal di sekeliling. Georg Simmel, seorang sosiolog menjelaskan bahwa dengan bersyukur manusia pada dasarnya menjalin relasi dengan orang lain. Emmons (2007) juga mengemukakan bahwa dengan tidak bersyukur, maka kita membatasi diri dan menyusutkan kemanusiaan kita sendiri.

 

Bersyukur dapat dilakukan dengan cara yang sederhana yaitu dengan menuliskan hal apa yang menggembirakan kita kemudian dengan membaca kembali tulisan tersebut, perasaan kita akan menjadi lebih hangat, lebih bersahabat, lebih bahagia. Banyak orang yang kemudian mendeskripsikan momen bersyukur sebagai momen yang paling baik dalam hidupnya.

 

Belum lama ini gerakan bersyukur mulai dilakukan di jejaring social facebook di mana individu menyebutkan tiga hal yang menggembirakan dirinya dan ia diminta untuk meminta tiga orang temannya melakukan hal yang sama, dan seterusnya. Adalah hal yang menggembirakan ketika kita membaca kembali sesuatu yang menggembirakan; bahkan sesuatu yang kecil atau sederhana. Mensyukuri hal yang kecil seperti menikmati warna bunga, pepohonan di sepanjang jalan, juga merupakan suatu hal yang istimewa. Kesadaran bahwa hal yang kecil tersebut adalah karunia menunjukkan bahwa kita merupakan individu yang menyadari eksistensi kita.  

 

Jadi.., sudahkah anda (mulai) bersyukur?

 

Referensi:

 

Emmons, R.A. (2007). Thanks! How practicing gratitude can make you happier. Boston: Houghton Mifflin Company.

Emmons, R. A., & McCullogh, M. E. (2003). Counting Blessings Versus Burdens: An Experimental Investigation of Gratitude and Subjective Well-Being in Daily Life. Journal of Personality and Social Psychology. 84 (2), 377–389.

Johan, J., Moningka,C. (2015). Gambaran beryukur pada remaja dengan status sosial ekonomi rendah di Jakarta. Psibernetika.

Peterson,C. (2006). A primer in Positive Psychology. Oxford: Oxford University Press.

http://issn.pdii.lipi.go.id/data/1446201810.png