ISSN 2477-1686

 Vol.5 No. 4 Februari 2019 

Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di Kelas Inklusif

Oleh

Rismalinda

Fakultas Psikologi, Universitas Bhayangkara Jakarta Raya 

Pendahuluan

Pendidikan merupakan pengalaman belajar seseorang sepanjang hidup yang dilakukan secara sadar untuk meningkatkan kemampuan, pengetahuan, pemahaman dan atau keterampilan tertentu. Artinya, pendidikan dapat dilakukan tanpa mengenal batas usia, ruang dan waktu. Pendidikan juga tidak mengenal pembatasan kegiatan dan bentuk aktifitas apapun yang berguna untuk menambah pengetahuan dan keterampilan tertentu, sehingga setiap warga negara berhak untuk mendapatkan pendidikan yang bermutu yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun lembaga-lembaga non pemerintah. Karena pendidikan diyakini sebagai pemotong mata rantai kemiskinan, seperti diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 yang menyatakan bahwa setiap warga negara berhak untuk mendapatkan pendidikan , bunyi ayat ini sejalan dengan konsep pendidikan untuk semua (education for all) yang ditegaskan dalam deklarasi universal Hak Asasi Manusia (HAM) dan slogan tersebut selayaknya mengawal kita untuk bisa terus peduli dengan isu pendidikan, karena hak pendidikan adalah hak semua orang tanpa memandang kelas, ras, jenis kelamin, agama dan bentuk fisik, termasuk bagi anak berkebutuhan khusus. Anak berkebutuhan khusus merupakan mereka yang mengalami perbedaan secara signifikan dari keadaan orang pada umumnya (rata-rata), sehingga mereka membutuhkan pelayanan pendidikan secara khusus agar mereka dapat mengembangkan potensinya secara optimal.

Hal itu dapat terjadi pada aspek fisik, mental, sosial dan atau emosi. Anak-anak yang mengalami hambatan atau keterbelakangan fungsi kecerdasan atau intelektual, serta keterlambatan dalam fungsi fisik tersebut membutuhkan pelayanan pendidikan khusus agar bisa mengembangkan kemampuan yang dimiliki secara optimal. Pelayanan pendidikan tersebut bisa di dapat dengan model segregatif dan mainstreaming. Model Segregatif menghendaki anak-anak berkebutuhan khusus untuk memperoleh layanan pendidikan di lembaga khusus yang terpisah dengan anak-anak “normal”. Lembaga ini biasa disebut dengan Sekolah Luar Biasa (SLB). Sedangkan pendekatan mainstreaming menunjukkan kepada suatu model pelayanan pendidikan dimana anak dengan kebutuhan khusus sedapat mungkin memperoleh layanan pendidikan secara terintegrasi bersama-sama anak yang lain dalam lingkungan yang ”normal”.

Pendidikan inklusi merupakan salah satu strategi dalam pelayanan dan penyelenggaraan pendidikan, di mana anak berkebutuhan khusus memperoleh perhatian dan layanan pendidikan di lingkungan belajar yang sama bersama anak-anak lainnya, secara bermutu dan sesuai dengan kebutuhannya. Secara konseptual, model pendidikan inklusi menjanjikan sejumlah keunggulan dalam penyelenggaraan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Pendidikan inklusi dianggap sebagai strategi yang efektif untuk menuntaskan wajib belajar 9 tahun bagi anak-anak yang memilki kebutuhan khusus, hal ini dimungkinkan karena anak dapat memperoleh pendidikan pada sekolah manapun yang terdekat dengan tempat tinggalnya. Di sisi lain, model pelayanan pendidikan seperti ini juga dianggap lebih efisien karena tidak perlu mendirikan sekolah khusus bagi mereka. Pendidikan Inklusif juga memungkinkan anak untuk belajar sosial dan emosi secara lebih wajar.

Di sisi lain, model ini juga akan mendorong siswa lain yang normal untuk belajar menghargai dan menerima anak-anak dengan kekurangan tersebut. Melalui pendidikan inklusif diharapkan anak berkebutuhan khusus dapat dididik bersama-sama dengan anak normal lainnya. Tujuannya adalah agar tidak ada kesenjangan diantara anak berkebutuhan khusus dengan anak normal lainnya. Diharapkan pula anak dengan kebutuhan khusus dapat memaksimalkan kemampuan dan potensi yang dimilikinya. Tujuan dari semua upaya menuju pendidikan inklusif adalah kesejahteraan anak berkebutuhan khusus baik secara permanen maupun temporer untuk memperoleh pendidikan dan segala haknya sebagai warga negara. Sedangkan apakah penempatan anak berkebutuhan khusus di sekolah reguler saat ini benar-benar baik bagi kesejahteraannya, hal ini membutuhkan waktu untuk membuktikannya, tetapi kita dapat percaya itu akan terjadi selama mereka diberi kesempatan dan dukungan yang tepat sebagaimana dirancang bagi mereka. Hingga saat ini, yang tampak pasti adalah jumlah anak berkebutuhan khusus yang bersekolah telah meningkat, sehingga target untuk mewujudkan pendidikan untuk semua pada tahun 2015 tampaknya menjadi lebih realistis.

Layanan dalam pendidikan inklusif harus memperhatikan hasil identifikasi dan asesmen anak berkebutuhan khusus. Berdasarkan hasil identifikasi dan asesmen tersebut dikembangkan berbagai kemungkinan alternatif program layanan yang sesuai dengan kebutuhan anak. Layanan alternatif yang dimaksud adalah layanan pendidikan yang disesuaikan dengan kemampuannya yang dalam hal ini anak berkebutuhan khusus belajar bersama di dalam komunitas kelas yang beragam di bawah bimbingan bersosialisasi dan hidup dalam lingkungan nyata.

Pendidikan inklusif adalah sistem layanan pendidikan yang mensyaratkan anak berkebutuhan khusus belajar di sekolah-sekolah terdekat di kelas biasa bersama teman-teman seusianya. Menurut Sunanto (2012) dalam tulisannnya yang berjudul Pendidikan yang Terbuka untuk Semua, menyebutkan bahwa pendidikan inklusif adalah pendidikan yang memberikan layanan terhadap semua anak tanpa memandang kondisi fisik, mental, intelektual, sosial, emosi, ekonomi, jenis kelamin, tempat tinggal, suku, budaya, bahasa dan sebagainya.

Referensi  

 

Arikunto, S. (2002). Dasar-dasar evaluasi pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Bandhi. (2006). Pembelajaran anak berkebutuhan khusus. Bandung: Aditama.

Direktorat PSLB. Pedoman khusus penyelenggaraan pendidikan inklusif. Jakarta.

Lilik Maftuhatin 228 Religi: Jurnal Studi Islam Perdana, Herlambang. Amandemen UUD 1945.

Sunanto, J. (2012). Media dunia disabilitas. Jakarta: Diffa.