ISSN 2477-1686

 Vol.5 No. 4 Februari 2019 

Mengapa Kita Bisa Percaya Berita Hoax?

Oleh

Clara Moningka dan Bonita Maulida

Program Studi Psikologi, Universitas Pembangunan Jaya

Berita hoax bukanlah suatu fenomena baru, khususnya di jaman teknologi saat ini. Kita sering menemukan berita hoax tersebar di media sosial, seperti Facebook, Twitter, WhatsApp, dan lain-lain. Sebenarnya apa yang dimaksud dengan hoax? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ‘hoaks’ adalah berita bohong. Dalam Oxford English dictionary, ‘hoax’ didefinisikan sebagai malicious deception atau kebohongan yang dibuat dengan tujuan jahat. Sebelum zaman internet, ‘hoax’ bahkan lebih berbahaya dari sekarang karena sulit untuk diverifikasi.

Salah satu berita hoax yang menghebohkan di tahun 2018 yaitu mengenai penganiayaan yang dialami oleh aktivis RS yang merupakan salah satu anggota baru Pemenangan Nasional salah satu calon Presiden RI. Berita itu pertama kali tersebar dari akun Facebook milik seseorang yang mengunggah foto wajah bengkak RS. Berita tersebut akhirnya beredar luas di media sosial dan menjadi perbincangan hangat, terutama setelah berita itu dibenarkan oleh sejumlah pihak, bahkan dari pihak pengacara yang bersangkutan. Para pengguna media sosial memberi berbagai respon terkait dengan berita penganiayaan tersebut.  Ada yang mendoakan kesembuhan RS dan ada juga yang mengutuk pelaku. Responnya menunjukkan bahwa mereka mempercayai kebenaran berita itu; dan tentu saja tidak melakukan pengecekan. Setelah berbagai opini tersebar luas dan berita kian memanas, ternyata berita tersebut adalah hoax. Bengkak di wajah RS bukan disebabkan oleh pemukulan, melainkan operasi plastik.

Fenomena ini menunjukkan betapa mudahnya masyarakat kita percaya pada informasi yang tersebar di media sosial. Bahkan orang-orang terkemuka dari dunia politik yang dianggap sebagai orang berpendidikan juga termakan oleh berita hoax. Mengapa hal ini bisa terjadi? Manusia secara alami sulit dalam membedakan antara berita yang asli dan palsu (Shu, Sliva, Wang, Tang, & Liu, 2017). Menurut Shao dan rekan-rekannya (2017), berita dari media sosial biasanya dipenuhi oleh konten yang menyesatkan, seperti hoax, rumor, teori konspirasi, laporan yang salah, bahkan sindiran. Walaupun manusia berusaha menghindari informasi berkualitas rendah, adanya informasi yang berlebihan disertai perhatian terbatas yang kita miliki menyebabkan kesulitan dalam membedakan informasi. Dalam kondisi ini, informasi yang salah di media sosial dapat dianggap sebagai informasi yang dapat dipercaya. Kondisi lain yang menyebabkan orang mudah percaya terhadap suatu berita adalah mereka percaya bahwa pandangannya adalah akurat. Konsep ini dijelaskan sebagai naïve realism. Individu akan menganggap siapapun yang tidak setuju pada pandangan yang anggapnya benar, akan dianggap kurang informasi dan tidak rasional. Dalam hal ini, individu akan melihat atau mendengar informasi yang sesuai dengan keyakinannya dan akan mempercayainya. Misalnya, ketika mendengar pemberitaan mengenai tokoh masyarakat yang tidak kita  sukai terlibat suatu kejahatan, maka kita akan mudah mempercayai berita tersebut; karena sesuai dengan pandangan kita yaitu orang yang bersangkutan memiliki kepribadian buruk. Sebaliknya, bila yang terlibat kejahatan adalah tokoh masyarakat yang cenderung kita sukai, kita akan berusaha memastikan apakah berita tersebut adalah benar. 

Gelfert (2018) mengemukakan bahwa berita hoax bukanlah fenomena baru, namun ketika disebarkan di media sosial dan dilakukan framing, memungkinkan seseorang termanipulasi atau menuntun individu melakukan kesalahan dalam berpikir. Alangkah bijak, untuk membaca atau mendengar dengan selektif dan melakukan pengecekan sebelum percaya atau menyebarkan suatu berita. Jadilah pembaca atau pendengar yang cerdas!

Referensi

Gelfert, A. (2018). Fake news: A definition. Informal Logic, 38(1), 84-117. Diakses pada tanggal 3 November 2018 dari https://scholar.google.co.id/scholar?hl=id&as_sdt=0%2C5&q=Fake+news+%3A+a+definition&btnG=.

Shao, C. Giovanni, L. C. Onur, V. Allesandro, F. dan Fillipo, M. (2017). The Spread of Fake News by Social Bots. arXiv preprint. Diakses pada tanggal 3 November, 2018 dari https://andyblackassociates.co.uk/wp content/uploads/2015/06/fakenewsbots.pdf.

Shu, K. Amy, S. Suhang W. Jiliang, T. dan Huan, L. (2017). Fake news detection on social media: A data mining perspective. ACM SIGKDD Explorations Newsletter, 19(1), 22-36. Diakses pada tanggal 3 November, 2018 dari https://dl.acm.org/citation.cfm?id=3137600.