ISSN 2477-1686

  Vol.5 No. 4 Februari 2019 

Menyembuhkan Luka Hati Akibat Cinta Tak Terbalas

Oleh

Frida Medina Hayuputri

Fakultas Psikologi, Universitas Persada Indonesia YAI

 

 Cinta

Setiap orang pastilah pernah merasakan cinta. Sternberg (1988) mendefinisikan cinta sebagai sebuah cerita kehidupan yang ditulis seseorang. Peristiwa-peristiwa yang terkait karakter pribadi, minat, dan koneksi dengan orang lain adalah bagian dari pertimbangan seseorang membentuk suatu hubungan.

Sternberg (dalam Taylor, Peplau, & Sears, 2005) mempunyai teori yang lebih luas mengenai cinta, yaitu Sternberg’s Triangular Theory of Love. Menurutnya semua pengalaman cinta mempunyai tiga komponen yaitu:

1.    Kedekatan (intimacy) adalah rasa terikat, lekat, dan perasaan dekat dalam sebuah hubungan romantis. Perasaan tersebut dilandasi oleh unsur emosi yang dikombinasikan dengan rasa percaya antara dua pihak individu.

2.    Hasrat (passion) adalah dorongan kuat untuk bersama seseorang yang didukung dengan adanya ketertarikan secara fisik dan seksual. Tidak seperti intimacy, komponen hasrat ini terbatas pada hubungan romantis antar individu.

3.    Komitmen (commitment) juga dikenal dengan decision karena merujuk pada keputusan untuk mencintai dan menetapkan ingin selamanya bersama pasangan hidupnya. Perasaan ini tidak hanya muncul pada pasangan, melainkan juga keluarga dan hubungan kerabat.

Tipe-tipe Cinta

Dari hasil analisa  ketiga komponen cinta, Sternberg mengidentifikasikan delapan tipe cinta, (Silmina, 2016), yaitu:

1.    Non-Love (Tidak Ada Cinta).

Kondisi dimana tidak terdapat tiga unsur dari teori cinta Sternberg. Contohnya pada hubungan perkenalan atau hubungan dengan orang-orang biasa.

2.    Liking (Menyukai).

Kondisi dimana yang  mendominasi adalah unsur intimacy (perasaan menyukai). Contohnya ada pada hubungan pertemanan yang tidak menimbulkan gairah. Bahkan ketika passion itu muncul, maka seketika salah satu pihak akan merasakan kehilangan.

3.    Infatuation (Cinta Gila).

Kondisi dimana gairah mendominasi kuat, namun tidak ada hasrat dan komitmen. Contohnya cinta pada pandangan pertama.

4.    Empty Love (Cinta Kosong)

Tidak sedikit hubungan pernikahan mengalaminya. Ini adalah kondisi dimana dalam suatu hubungan komitmen tanpa ada kedekatan dan hasrat. Contohnya pada pernikahan paksa.

5.    Romantic Love (Cinta Romantis)

Hubungan ini hanya didominasi oleh hasrat dan kedekatan tanpa adanya komitmen. Contohnya, cinta lokasi antara dua individu, yang bisa berakhir ketika sudah tidak berada pada lokasi bersama.

6.    Companionate Love (Cinta Persahabatan)

Contoh dari hubungan ini adalah hubungan persahabatan yang keduanya saling menjaga untuk waktu yang lama. Berisi komponen kedekatan dan hasrat

7.    Fatuous Love (Cinta Bodoh)

Contoh hubungan cinta yang ironis. Yaitu adanya komitmen dan hasrat. Namun tanpa adanya kedekatan. Contohnya ada pada pernikahan yang terjadi dengan cepat atas pertimbangan passion.

8.    Consummate Love (Cinta Sempurna)

Ini adalah puncak cinta dari sebuah hubungan yang diidamkan oleh semua orang. Yakni keseimbangan yang terjadi antara intimacy, passion, dan commitment. Meskipun Sternberg sendiri menyatakan bahwa kondisi yang seperti ini sulit dan membutuhkan kecerdasan dari pasangan tersebut dalam rangka mempertahankannya.

Cinta Tak Berbalas

Setiap orang pasti pernah merasakan cinta. Tetapi tidak semuanya berjalan baik dan berakhir bahagia. Misalkan kita mencintai seseorang, lalu memberanikan diri untuk mengungkapkannya. Ternyata ia memiliki tipe cinta yang berbeda dengan kita, yaitu non-love (tidak ada cinta) atau hanya sekedar liking (menyukai sebagai teman). Hal seperti ini pasti sangat menyakitkan dan di luar kendali diri kita. Bersedih, patah hati, dan mengasihani diri, boleh-boleh saja dilakukan tetapi jangan berlarut-larut. Kita harus berani untuk memulai proses penyembuhan luka hati tersebut. Hal utama yang harus dilakukan yaitu move on, karena kita harus berhenti mengharapkannya.

Berikut ini langkah-langkah untuk move on dari cinta tak berbalas, yaitu:

1.    Memberikan ruang dan waktu untuk diri sendiri, misalkan pergi ke suatu tempat untuk menenangkan diri.

2.    Hindari bertemu dia untuk sementara waktu, agar proses penyembuhan berjalan lebih mudah.

3.    Berpikir bahwa hidup kita akan jauh lebih baik tanpa dia.

4.    Jangan menyalahkan diri sendiri ataupun menyalahkan dia, karena semua itu di luar kendali diri masing-masing.

5.    Singkirkan dan hindari segala memori dan barang-barang kenangan yang mengingatkan tentang dia.

6.    Menceritakan (curhat) kepada sahabat dan keluarga tentang hal ini, biasanya setelah bercerita hati kita akan lebih lega.

7.    Alihkan diri kita setiap kali pikiran tentang dia muncul, misalkan mengalihkan pada kegiatan-kegiatan lain yang kita senangi.

8.    Jangan menggagalkan penyembuhan kita sendiri, misalkan memiliki pikiran-pikiran negatif, seperti “aku tidak bisa hidup tanpanya”, “aku tidak bisa berhenti mencintainya”, dan sebagainya.

Referensi

 

Silmina. (2016). Teori cinta sternberg (the triangular theory of love). Psikologi cinta. Diunduh dari http://dosenpsikologi.com.

 

Sternberg, R. J. (1988). The triangle of love: intimacy, passion, commitment. New York: Basic Books Inc.

 

Taylor, S. E, Peplau, L. A, & Sears, D. O. (2005). Social psychology. New Jersey: Prentice Hall International Inc.