ISSN 2477-1686
Vol. 2., No. 1, Januari 2016

Eko A Meinarno,

PIC Modul-Buku KPIN 

Pengalaman mempersiapkan pengajaran bukan hal asing bagi pengajar lain di Indonesia, meski demikian, penulis memilih untuk berbagi proses yang mendebarkan di balik layar para dosen. Satu proses yang mungkin telah berlangsung otomatis di antara tanggung jawab dalam Tri Darma Perguruan Tinggi.

Persiapan dan Perencanaan  

Setiap awal semester, para dosen menyiapkan banyak hal untuk kelancaran proses belajar mengajar. Proses yang besar kemungkinan tidak diperhatikan oleh para mahasiswa. Padahal proses ini paling penting dalam pengajaran. Hasil dari proses itu menurut hemat penulis adalah apa yang selama ini kita sebut sebagai kompetensi. Untuk mendesai kompetensi bukan perkara mudah. Maka itulah, proses di belakang layar menjadi penting.   Rapat rapat dan rapat. Rapat dengan tim ajar sangatlah penting karena isi rapat merupakan kesepakatan-kesepakatan dengan mitra kita. Namun sebelumnya tentukan ketua tim ajar. Ketua tim bukan menjadi tukang beresin segala, melainkan fasilitator rekan-rekan pengajar lain. Ia perlu membuat rapat-rapat untuk membuat kerja pengajar lebih baik. Terlepas dari efektif atau tidaknya rapat, rapat memungkinkan terjadinya pencatatan resmi (log book).

Pencatatan resmi ini yang menjadi acuan pengajar ketika ada hal-hal yang perlu diingat kembali saat pengajaran. Kebiasaan yang perlu dibangun adalah setelah rapat, hasil atau catatan bisa dikirimkan kepada rekan-rekan. Jikalau tidak minimal kesepakatan rapat yang lalu diingat bersama. Berdasarkan pengalaman, saya menyarankan rapat dilakukan minimal 2-3 kali untuk sebuah perkuliahan. Satu kali sebelum perkuliahan dimulai, satu kali jelang UTS (sekaligus untuk UAS), dan satu kali pasca-UAS.      

Check and re-check materi.

Sebelum memastikan bahan sudah siap (ini dengan asumsi bahwa perkuliahan yang akan dilakukan adalah kuliah yang sudah dilakukan terus-menerus). Mulai dari keberadaan GBPP (Garis-garis Pokok Pembelajaran) atau RPS (Rancangan Pengajaran Semester) ada untuk kuliah yang Anda ajar. Akan lebih baik jika SAP juga ada. Yang dikhawatirkan adalah bahan tidak ada!! Keberadaan RPS dan SAP adalah penting, jangan diremehkan.

Salah satu indikator mutu sebuah kuliah justru terletak pada RPS. Jika belum memilikinya, segera buat dengan arahan dari fakultas atau membuat dalam versi generik. Keberadaan RPS juga mengawal pengajar untuk mencapai kompetensi yang dituju dari sebuah mata ajar. Penyusunan RPS sebuah mata ajar harus jauh lebih awal ketimbang rapat persiapan perkuliahan. Dalam RPS biasanya mengandung: informasi umum, kompetensi, bahan atau rujukan yang digunakan, metode pembelajaran, evaluasi dan tugas, mariks kegiatan, dan lampiran-lampiran seperti contoh soal atau petunjuk kerja. Untuk buku ajar umumnya minta buku rujukan kepada toko buku langganan. Akan lebih menyenangkan jika Anda adalah penulisnya. Ada peluang mendapatkan buku gratis.

Selain itu tak lupa persiapkan materi presentasi dalam powerpoint atau bacaan singkat (hand out). Keberadaan mereka akan meningkatkan mutu dari perkuliahan. Ingat, materi presentasi atau bacaan singkat juga modal awal untuk menulis modul atau buku.  

Metode pengajaran (atau sekarang lebih dikenal metode pembelajaran).

Dalam rapat juga disiapkan metode pengajaran yang akan digunakan dalam pengajaran selama satu semester. Namun saya sarankan, untuk membicarakan metode pengajaran satu semester sebelumnya. Hal ini berbeda dengan yang lainnya karena perubahan metode pengajaran bisa jadi mengubah paradigma pengajaran seluruh tim.

Tentu ini bukan hal yang mudah. Misalnya menurut petunjuk pengajaran DIKTI 2012 dan 2014, metode yang saat ini diangap lebih baik adalah metode pembelajaran berorientasi mahasiswa atau student centered learning (SCL) yang berupaya membuat mahasiswa aktif dalam menggali ilmu. Ragam bentuk SCL banyak, bisa dipilih dan digunakan, dengan catatan perhatikan sesuai kebutuhan dan capaian (kompetensi) yang ingin diraih. Terkadang perlu pelatihan ekstra keras agar para pengajar dapat memahami metode itu.  

Soal Ujian.

Ada baiknya para pengajar mempersiapkan dan mendiskusikan soal ujuan saat persiapan pengajaran. Bahkan akan sangat baik jika soal telah disiapkan alias sudah jadi lebih awal. Hal ini penting karena proses pengajaran bisa melelahkan, sehingga ujian terkadang terlupakan. Situasi yang paling umum terjadi adalah soal ujian dibuat hanya seminggu atau bahkan H-1 dari ujian. Untuk itu, saya menyarakankan agar membuat soal untuk UTS-UAS justru jauh sebelum waktunya plus jawabannya.

Saran lainnya, untuk soal ujian yang bersifat pilihan majemuk, Betul-salah (B-S) dan sejenisnya dapat dianalisis statistik segera setelah pelaksanaan. Untuk soal jenis esai, kisi-kisi jawaban akan sangat menolong saat proses pemeriksaan nantinya. Mulai dari kata kunci, ide dasar dari buku yang digunakan, nilai dari jawaban dan lain-lain. Hal ini akan menguntungkan setidaknya dari sudut waktu (menghemat waktu) saat memeriksa dan pengisian nilai. Jangan lupa, tuliskan juga komponen dan bobot dari ujian-ujian tadi.   Sentuhan akhir. Cek akhir tidak ada salahnya. Sentuhan ini dapat berupa rapat koordinasi terakhir seluruh tim ajar. Bagi saya, rapat ini akan memberikan kenyamanan psikologis bagi semua anggota tim ajar. Terlebih jika saat rapat itu, ketua tim memberikan paket pengajaran yang sudah jadi dan pasti. Kenyamanan itulah modal dasar motivasi untuk mengajar.  

Para pembaca yang budiman, tulisan ini hendak mengantar bagi para pengajar dalam tugasnya sehari-hari. proses yang dituliskan belum tentu atau bahkan bisa tidak sama antar sekolah. Namun saya yakin garis merahnya tetap sama. Semoga tulisan singkat ini dapat menambah wawasan untuk bidang pengajaran untuk membangun mahasiswa yang lebih baik dan berguna bagi diri dan masyarakatnya.

http://issn.pdii.lipi.go.id/data/1446201810.png