ISSN 2477-1686

 

                                                                                       Vol.4. No.20 Oktober 2018

Saya Yakin Maka Saya Bisa!

Oleh:

Laila Midori dan Gita Widya Laksmini Soerjoatmodjo

Mahasiswa dan Dosen Program Studi Psikologi Universitas Pembangunan Jaya

 

Anggapan mengenai "saya yakin saya bisa" merupakan fenomena psikologis yang dapat meningkatkan pencapaian tujuan. Hal ini dikenal sebagai disebut self-efficacy. Self-efficacy meliputi keyakinan bahwa seseorang mampu dan cakap dalam menghasilkan hasil yang diinginkan sehingga dapat mencapai tujuan (Adams, 2017).

McShane and Von Glinow (2010) menjelaskan bahwa self-efficacy mengacu pada keyakinan seseorang bahwa dia memiliki kemampuan, motivasi, persepsi peran yang benar, dan situasi yang menguntungkan untuk menyelesaikan sebuah tugas dengan sukses. Umumnya self-efficacy adalah persepsi seseorang bahwa dirinya memiliki kompetensi untuk tampil di berbagai situasi. Semakin tinggi self-efficacy seseorang, maka semakin tinggi evaluasi dirinya secara keseluruhan.

Seseorang dengan self-efficacy yang  tinggi cenderung menunjukkan usaha yang lebih keras daripada orang-orang dengan tingkat self-efficacy rendah. Selain itu, individu dengan self efficacy yang tinggi akan mempersepsikan diri sebagai orang yang berkompetensi tinggi. Hal ini menyebabkan ia akan merasa tertantang jika dihadapkan pada tugas-tugas dengan derajat kesulitan dan risiko yang tinggi. Sebaliknya orang-orang dengan self-efficacy yang rendah selalu menganggap dirinya kurang mampu menangani situasi yang dihadapinya. Dalam mengantisipasi keadaan, mereka juga cenderung mempersepsikan masalah-masalah yang akan timbul jauh lebih berat daripada yang sesungguhnya sehingga individu seperti ini sering merasa pesimis terhadap hasil yang akan didapat, mudah mengalami stress dan mudah putus asa (Kolondam, 2017).

Self-efficacy juga berkaitan dengan kinerja seorang karyawan. Penelitian Sebayang dan Sembiring (2017) menyatakan bahwa ada hubungan positif antara self-efficacy dengan kinerja karyawan. Semakin baik nilai self-efficacy maka semakin baik pula kinerja karyawan.

Melihat pengaruh positif self-efficacy terhadap kinerja individu maka penting bagi kita untuk menemukan cara mengembangkan self-efficacy. Untuk dapat mengembangkannya, kita perlu mengetahui sumber self-efficacy. Menurut Bandura (dalam Cherry, 2017) terdapat beberapa sumber utama self-efficacy, yaitu penguasaan pengalaman (mastery experiences), meniru orang lain (social modeling), persuasi verbal dan respons psikologis.

Penguasaan pengalaman merupakan cara paling efektif untuk mengembangkan rasa self-efficacy dengan kuat. Melakukan sebuah tugas dengan berhasil dapat memperkuat rasa percaya diri kita. Namun, gagal menangani tugas atau tantangan mampu merusak dan melemahkan self-efficacy (Cherry, 2017).

Melihat orang lain yang mirip dengan dirinya berhasil menyelesaikan sebuah tugas adalah sumber penting lainnya dari self-efficacy. Menyitir Bandura, melihat orang-orang yang serupa dengan dirinya berhasil dengan usaha yang berkelanjutan, meningkatkan keyakinan pengamat sehingga mereka juga memiliki kemampuan untuk menguasai kegiatan yang sebanding untuk berhasil (Cherry, 2017).

Persuasi verbal juga bisa berperan dalam mengembangkan self-efficacy. Mengutip Bandura, orang bisa dibujuk untuk percaya bahwa mereka memiliki keterampilan dan kemampuan untuk sukses. Mendapatkan dorongan verbal dari orang lain membantu orang mengatasi keraguan diri dan bahkan berfokus untuk memberikan usaha terbaik mereka terhadap tugas yang ada (Cherry, 2017).

Respons kita sendiri dan reaksi emosional terhadap situasi juga memainkan peran penting dalam self-efficacy. Suasana hati, keadaan emosional, reaksi fisik, dan tingkat stres dapat mempengaruhi bagaimana perasaan seseorang tentang kemampuan pribadi mereka dalam situasi tertentu. Bandura juga pernah mencatat bahwa bukan intensitas emosional dan reaksi fisik belaka yang penting melainkan bagaimana persepsi dan interpretasinya. Dengan belajar bagaimana meminimalkan stres dan meningkatkan mood saat menghadapi tugas yang sulit atau menantang, orang dapat mengembangkan rasa self-efficacy mereka (Cherry, 2017).

Setelah mengetahui cara  mengembangkan self-efficacy, seseorang juga harus berhati-hati dengan tingginya kadar self-efficacy. Steel (2017) menjelaskan bahwa terlalu banyak self-efficacy juga bisa menjadi bumerang bagi seseorang, terutama jika tidak berdasarkan kemampuan diri yang sebenarnya. Hal tersebut karena kita terlalu percaya diri terhadap diri sendiri, sehingga kita berhenti berusaha untuk mengembangkan kemampuan yang dibutuhkan agar mencapai tujuan yang diinginkan. Tingkat self-efficacy yang tinggi selama tahap perencanaan suatu tujuan akan menghasilkan bias terlalu percaya diri. Dalam kasus ini, seseorang akan memberikan lebih sedikit usahanya untuk mencapai tujuan karena mereka menganggap bahwa hal itu dapat dicapai dengan mudah. Selain itu, orang yang terlalu percaya diri dapat lebih membuka diri terhadap situasi yang menggoda sehingga dapat menggantikan tujuan jangka panjang mereka. Misalnya, mereka mungkin memilih untuk bekerja sambil menonton televisi atau tergoda untuk 'istirahat sebentar' sambil minum kopi bersama teman-teman, bukan berfokus pada tujuan jangka panjang mereka.

Oleh karena itu, langkah pertama  yang boleh jadi harus kita lakukan adalah menemukan di mana gambaran self-efficacy kita. Setelah itulah, kita baru dapat memutuskan apakah kita harus meningkatkan atau menyelaraskan self-efficacy kita demi mewujudkan impian.

Referensi

Adams, A.J. (2017). If you think you can’t. Think again: The sway of Self-Efficacy. Psychology Today. Diakses dari https://www.psychologytoday.com/blog/flourish/201002/if-you-think-you-can-t-think-again-the-sway-self-efficacy.

 

Cherry, K. (2017). Self efficacy: Why believing in yourself matters. Verywell Mind. Diakses dari https://www.verywellmind.com/what-is-self-efficacy-2795954.

 

Kolondam, G. S. (2017). Pengaruh kepemimpinan, Self efficacy dan Komitmen organisasi terhadap kinerja Guru di SMP Negeri 7 Manado. Jurnal Administrasi Publik, 4 (49). Diakses dari https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/JAP/article/view/18939.

 

McShane, S. L. & Von Glinow, M. A. (2010). Organizational behavior (5th edition). New York: McGraw-Hill.

 

Sebayang, S., & Sembiring, J. (2017). Pengaruh self esteem dan self efficacy Terhadap kinerja karyawan studi kasus di PT. Finnet Indonesia. eProceedings of Management, 4 (1), 355-345. Diakses dari http://libraryeproceeding.telkomuniversity.ac.id/index.php/management/article/view/4388.

 

Steel, P. (2017). Self-efficacy and success: Is there any relationship?. Psychology today. Diakses dari https://www.psychologytoday.com/blog/the-procrastination-equation/201411/self-efficacy-and-success-is-there-any-relationship.