ISSN 2477-1686
Vol. 1., No. 4, Desember 2015

Oleh: Subhan El Hafiz

Sejak empat tahun lalu, kami, Fakultas Psikologi UHAMKA, merintis revisi kurikulum yang berorietasi pada pengajaran berbasis kompetensi. Salah satu hasil revisi kurikulum tersebut adalah munculnya mata kuliah Psikologi Sosial Terapan yang berbobot 8 satuan kredit semester (sks). Perubahan ini memberi dampak perubahan system pengajaran yang luar biasa.

Tentu saja perubahan ini bukanlah suatu yang mudah untuk dijalankan karena mata kuliah ini kekurangan model dalam implementasinya. Sejauh pengetahuan saya terhadap sistem perkuliahan level sarjana Psikologi di Indonesia, UHAMKA merupakan satu-satunya yang memiliki mata kuliah Psikologi Sosial Terapan dengan bobot 8 sks. Namun hal ini kami anggap tantangan dalam pengelolaan perkulihan hingga saat ini kami melihat banyak hal luar biasa muncul yang tidak kami sadari sebelumnya.

Jika melihat pada dokumen perkuliahan, mata kuliah ini terdiri dari beberapa bahan kajian, diantaranya: psikologi sosial, perilaku sosial menyimpang, rehabilitasi social, dan psikologi komunitas. Adapun standar kelulusan untuk mata kuliah ini adalah mahasiswa (bersama kelompoknya, 3-4 orang) harus mampu mengenali sense of community dari komunitas, menentukan social problem di komunitas, membuat rancangan intervensi, menjalankan rancangan intervensi, mengevaluasi program intervensi, dan membuat program keberlanjutan (dalam rangka exit strategy), dan tentunya harus menguasai konsep dasar teori Psikologi Sosial. Mahasiswa akan mendapat nilai B, minimal, jika mampu menjalankan program intervensi dengan baik namun jika hanya menguasai teori psikologi sosial maka nilai C sudah siap diberikan.

Sebagai mata kuliah berbobot sks besar, hanya sebagian kecil mahasiswa yang berani untuk tidak serius menjalankan mata kuliah ini. Walaupun tidak dapat dipungkiri tetap akan ada beberapa mahasiswa yang masuk ke kelompok ekstreem rendah. Demikian juga beberapa mahasiswa ada yang menjadi free rider di kelompoknya namun hal itu akan segera terdeteksi saat presentasi akhir.

Setiap tahun, mata kuliah ini membentuk 25-30 kelompok kecil intervesi (dengan rata-rata jumlah mahasiswa 100 dengan satu kelompok maksimal 4 orang) dan hingga tahun ketiga telah dibentuk lebih dari 80 kelompok intervensi pada 80 komunitas berukuran mikro dengan anggota 3-10 anggota komunitas. Hasilnya, lebih dari 75% berhasil melakukan intervensi sosial, bahkan nilai ini masih bisa meningkat jika keberhasilan intervensi dinilai dari perubahan kesadaran. Hal ini dikarenakan tuntutan dari perkuliahan adalah terjadinya perubahan perilaku dari anggota komunitas.

Hal yang unik dari mata kuliah ini adalah masalah dan program yang dijalankan oleh para mahasiswa di kelompoknya. Hal ini memang disesuaikan dengan level mereka di S1 yang masih satu disiplin dan tuntutannya adalah komunitas mikro. Hal lain yang perlu dipertimbangkan dalam melakukan intervensi untuk perkuliahan ini adalah waktu yang diberikan hanya satu semester dan maksimal mahasiswa akan menjalankan program intervensi selama 2-3 bulan.

Komunitas yang disasar selama ini memiliki masalah sederhana dan unik, diantaranya: perokok remaja, anjal yang tidak sekolah, anak nongkrong yang membuat kebisingan, bully, dsb. Berdasarkan analisa mahasiswa terhadap komunitas yang memiliki masalah sosial tersebut, mereka mendesain program intervensi yang beragam. Beberapa melibatkan anggota komunitas dalam mendesain program namun sebagian lainnya program tersebut sudah disiapkan oleh mahasiswa sebelum dijalankan.

Secara umum, model yang diajarkan pada mahasiswa meliputi lima tahapan, yaitu: (1) tahap kesadaran akan masalah, (2) sadar untuk berubah, (3) persiapan perubahan, (4) perubahan, dan (5) program keberlanjutan/ exit strategy. Kesadaran akan masalah merupakan program untuk mendorong anggota komunitas sadar bahwa perilaku yang mereka anggap “wajar" sebenarnya berpotensi masalah. Untuk mencapai tujuan ini, umumnya mahasiswa mendasarkan programnya pada teori disonansi kognisi.

Tahap kesadaran untuk berubah merupakan tahap dimana mahasiswa mendorong anggota komunitas menerima program yang mereka tawarkan untuk mengatasi masalah yang sudah disadari dari tahap sebelumnya. Tahap berikutnya adalah persiapan untuk berubah adalah program yang didesain mahasiswa agar anggota komunitas mulai menjalankan perubahan. Tahap ini dilanjutkan dengan tahap perubahan dimana anggota komunitas mulai menjalankan perubahan.

Pada tahap exit strategy, mahasiswa tidak wajib menjalankan programnya walaupun beberapa kelompok mahasiswa berhasil menjalankan tahap ini walaupun belum sempurna. Pada tahap ini mahasiswa mendesain program yang perlu dilakukan agar perubahan yang sudah terjadi tidak kembali pada perilaku sebelumnya. Beberapa kelompok yang berhasil melakukan ini memang terlihat cukup intens menjalankan intervensinya ke anggota komunitas.

Beberapa contoh intervensi yang dilakukan di UHAMKA untuk memenuhi tuntutan perkuliahan ini diantaranya: mengatasi masalah rokok pada remaja komunitas skate melalui program belajar gitar, mengatasi masalah rokok pada anak SD dengan belajar sulap, mengembalikan anjal ke sekolah (sekolah terbuka), mengajak anak punk wirausaha, mendorong pengamen jalanan tampil di café, mendorong komunitas graffiti menjual karyanya, mendorong anak nongkrong ikut kompetisi film pendek, mengubah berisik waria salon menjadi pengajian, dsb. Program yang dijalankan mahasiwa tampak sederhana namun ternyata efektif. Sebagian besar mengandalkan model AI untuk mengembangkan potensi dalam komunitas untuk mendorong perubahan (Asset-Based Community Development - ABCD).

Namun dari semua program dan semua tahapan yang sudah dijalankan oleh mahasiswa terhadap komunitas yang mereka hadapi, saya mencoba menarik kesimpulan baru terhadap tahapan intervensi karena tidak semua kelompok menjalankan tahapan yang sudah diberikan secara tegas. Dari banyak model dan tahapan intervensi yang kompleks, ternyata intervensi sosial ternyata terdapat model sederhana dalam intervensi, yaitu MKK atau ECE. M/E adalah tahap pertama yang artinya Masuk atau Enter dalam komunitas, K/C adalah tahap kolaborasi dimana intervensionis akan berkolaborasi dengan komunitas apapun teknik dan metodenya, dan terakhir Exit atau Keluar dimana intervensionist harus mendorong komunitas mampu menjalankan perubahan tanpa kehadiran intervensionis.

Tahap Masuk atau Enter merupakan tahap paling penting dimana kelompok mahasiswa yang sukses dalam pelaksanaan program terjadi karena mereka diterima sebagai anggota komunitas. Membangun raport dengan anggota komunitas pada tahap ini merupakan kata kuncinya karena intervensionis yang diterima dalam komunitas adalah mereka yang mampu berbaur dengan anggota komunitas. Pada tahap ini mahasiswa yang sukses dengan programnya adalah mahasiswa yang rajin datang dan berkumpul dengan anggota komunitas.

Pada tahap kedua, kolaborasi adalah tahap dimana mahasiswa menjalankan program bersama dengan anggota komunitas. Pada tahap ini kreatifitas menjadi kata kunci keberhasilan. Program yang kreatif akan lebih mudah diterima dan dijalankan selain juga mengembangkan potensi lokal komunitas tersebut. Pada tahap ini, sebenarnya program mahasiswa tidak terlalu canggih namun unik sehingga dengan didukung keberhasilan pada tahap awal, enter, maka program dapat berjalan dengan lancer.

Pada tahap terakhir, merupakan tahap untuk mencegah ketergantungan anggota komunitas pada intervensionis. Pada tahap ini sebagian besar dilakukan dengan melibatkan anggota lain diluar komunitas namun dekat dengan komunitas tersebut. Pihak lain selain anggota komunitas dilibatkan dalam rangka menjaga perubahan tetap terjadi dan kata kunci yang paling tepat ditahap ini adalah pelibatan.

Namun demikian, semua ini masih butuh perbaikan agar segala yang terjadi pada perkulihan dapat ditransfer pada dosen lain. Menjaga mahasiswa untuk tetap semangat terjun kelapangan bukan hal mudah terlebih kegiatan ini sangat butuh fleksibilitas. Mahasiswa sering mengadukan masalah ini karena seringkali mereka harus merubah rencana yang mereka sudah susun sebelumnya dengan anggota komunitas.

 http://issn.pdii.lipi.go.id/data/1446201810.png