ISSN 2477-1686
Vol. 2., No. 1. Januari 2016

Budi Sarasati

Universitas Bhayangkara Jakarta Raya

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

 

Humor dan Kesehatan

Pandangan umum menyatakan bahwa humor membawa keuntungan bagi kesehatan. Sebagian masyarakat bahkan menganggap individu dengan humor yang baik adalah pribadi yang menyenangkan. Bahkan ada anggapan bahwa orang dengan rasa humor (sense of humor) yang tinggi kemungkinan lebih mampu mengatasi tekanan hidup seperti stress, mampu bersosialisasi dengan baik dan coping terhadap penyakit yang dideritanya.

Pada masa lalu, pengertian humor tidak selalu dipandang positif. Pada masa Aristoteles hingga Plato, humor dipandang sebagai tidak layak dan immoral serta hanya cocok dengan sifat kasar dan bodoh (Chapman & Foot, 1976). Hal ini karena humor digunakan untuk menunjukkan rasa superior seseorang dengan mentertawakan orang lain karena kebodohan, kelemahan dan kekonyolannya (Martin, 2003).  

 

Definisi Humor

Menurut Drever’s (1952) A Dictionary of Psychology, humor didefinisikan sebagai “the character of a complex situation exciting joyful and in the main quiet, laughter, either directly, through sympathy, or through empathy”’. Sedangkan dalam Webster’s New International Dictionary (2nd edition) tertawa didefinisikan “a movement (usually voluntary) of the muscles of the face, especially of the lips, usually with a peculiar expression of the eyes, indicating merriment, satisfaction or derision and attended by an interruptes expulsion of air from the lungs”.

Sementara Wasson (1926) menyatakan bahwa humor adalah sesuatu yang menyebabkan rasa geli di otak dan tertawa adalah untuk cara menggaruknya. Escarpit (1969) mengajukan hipotesis bahwa peran tertawa adalah untuk mengubah sudut pandang realitas, sedangkan Shaw (1960) memandang bahwa tertawa sebagai paradigma pertumbuhan.  

Terminologi “sense of humor” digunakan dalam psikologi kontemporer untuk merujuk pada personality trait yang mempunyai beberapa arti, antara lain : Pola perilaku kebiasaan (kecenderungan tertawa, mengatakan candaan dan menghibur teman, atau tertawa pada candaan orang lain), Suatu kemampuan (untuk membuat humor, menghibur orang lain, mendapat candaan, mengingat candaan), Temperamental trait (habitual cheerfulness), Respon estetik ( terhibur dengan tipe tertentu dari materi humor), Suatu sikap (sikap positif terhadap humor dan orang yang humoris), Pandangan dunia (bemused outlook on life), Strategi koping (tendensi menggunakan perspektif humor dalam kondisi sulit),  (Martin, 2001).

Berbagai variasi definisi sense of humor ini bisa saja sangat tidak berkorelasi satu sama lain dan tidak relevan dengan psikologi positif. Salah satu tantangan riset humor dalam konteks positif psikologi adalah mengidentifikasi aspek dari konstruk humor yang paling relevan dengan kesehatan mental dan keberhasilan adaptasi.

 

Perkembangan Konsep Humor

Ruch (1998 dalam Martin, 2003) mencoba merunut etimologi kata “humor,”. Humor diketahui berasal dari Yunani kuno dari konsep adanya empat humor atau cairan tubuh yaitu darah, plasma, black bile dan yellow bile. Keempat jenis cairan tubuh tersebut dianggap mempengaruhi semua fungsi tubuh dan psikis. Dengan berlalunya waktu, pengertian humor merujuk pada mood yang diartikan sebagai cara kita berbicara dengan seseorang dengan cara baik atau buruk. Selanjutnya humor dikonotasikan dengan merasa lucu terhadap hal-hal yang tidak selalu berkonotasi baik. Sampai akhir abad ke-17, masyarakat umum menerima jika orang menertawakan orang lain yang cacat tubuh atau mental dan bertukar komentar atau canda secara agresif tentang berbagai keanehan adalah hal yang biasa dilakukan pada masa itu.  

Penerimaan konsep humor yang bersifat agresif kemudian berubah saat berkembang gerakan humanistik pada abad ke-18. Para filsuf humanis dan moralis memberi arti baru terhadap humor yang lebih bersifat sosial. Humor kemudian dirujuk sebagai hal-hal yang menghibur yang bersifat simpatik, toleran dan benevolent terhadap ketidaksempurnaan dunia dan kelemahan sifat manusia. Humor juga dikonotasikan sebagai sifat tidak menganggap diri terlalu serius dan mampu melihat hal lucu dalam diri. Humor dibedakan dengan wit yang dipandang sebagai sarkastik, menyerang dan kasar. Pada masa Victoria, sense of humor dianggap sebagai hal-hal yang berkonotasi positif bersama dengan sifat toleran dan kompromi.

Perbedaan antara humor dan sumber tertawa juga dilakukan oleh Freud (1928 dalam Martin, 2003) yang melihat humor (sense of humor) sebagai defense mechanisms yang paling sehat yang dibedakan dengan wit atau  joking (yang diartikan mengekspresikan agresivitas yang tidak diterima dan impuls seksual). Menurut Freud (1960 dalam Martin, 2003) humor membuat seseorang mempunyai pandangan tersendiri saat berada dalam keadaan sulit, yang dapat membuatnya menderita depresi, kecemasan dan kemarahan yang meningkat. Dalam hal ini Freud menerima arti yang baik dan humanis tentang definisi humor.  

Maslow (1954) and Allport (1961 dalam Martin (2003) menyetujui pendapat Freud dan menyatakan bahwa kepribadian yang sehat dan matang diperlihatkan oleh gaya humor yang nonhostile, philosophical dan self-accepting. Maslow dan Allport memandang humor yang sehat ini ternyata jarang terjadi, berlawanan dengan kelucuan-kelucuan yang biasa ditampilkan di media yang bersifat sebaliknya. Kesehatan psikologis berhubungan tidak hanya dengan adanya humor yang adaptif namun juga tidak adanya bentuk humor yang maladaptif. Ide tersebut menjadi sumber perkembangan pandangan terkini tentang humor sebagai komponen psikologi positif.

 

Daftar Pustaka

Capps, D. (2006). The Psychological Benefits of Humor. Pastoral Psychology, Vol. 54, No. 5. Diambil dari www.library.uq.edu.au pada tanggal 29 Oktober 2007.

Chapman, T., Foot, H. (1976). Humour And Laughter: Theory, Research and Applications. London: John Wiley & Sons.

Dowling, J.S., Hockenberry, M., Gregory, R.L. (2003). Sense of Humor, Childhood Cancer Stressors, and Outcomes of Psychosocial Adjustment, Immune Function, and Infection. Journal of Palliative Oncology Nursing, Vol.20 No.6, 271-292. Diambil dari http://jpo.sagepub.com at Universitas Indonesia pada 26 Oktober 2007.

Kuiper, N.A., Martin, R.A., Olinger, L.J. (1993). Coping Humour, Stress, And Cognitive Appraisals. Journal Of Behavioural Science. No. 25:1, 81-9. Diambil dari www.library.uq.edu.au pada tanggal 29 Oktober 2007.

Martin, R.A., Lefcourt, H.M. (1983). Sense of Humor as a Moderator of the Relation Between Stressors and Moods. Journal of Personality and Social Psychology, Vol. 45, No. 6, 1313-1324. Diambil dari www.library.uq.edu.au pada tanggal 29 November 2007.

Martin, R.A., (2001) Humor, Laughter And Physical Health: Methodological Issues And Research Findings. Psychological Bulletin. Vol. 127, No. 4, 504-519. Diambil dari www.library.uq.edu.au pada tanggal 1 November 2007.

Martin, R.A. (2002). Is Laughter The Best Medicine? Humor, Laughter, And Physical Health. Current Directions In Psychological Science. Volume 11, Number 6. Diambil dari www.library.uq.edu.au pada tanggal 29 Oktober 2007.

Martin, R.(2003). Sense Of Humor. Washington, DC, US: American Psychological Association. Diambil pada December 5, 2007 dari Psycinfo Database.

Martin, R.A. (2004). Sense Of  Humor And Physical Health: Theoretical Issues, Recent Findings, And Future Directions. Humor. No. 17–1/2 (2004), hal. 1–19. Diambil dari www.library. uq.edu.au pada tanggal 5 Desember 2007.

Svebak, S., Kristoffersen, B., Aasarod, K. (2006). Sense of Humor and Survival Among A County cohort of Patients With End-Stage Renal Failure: A Two-Year Prospective Study. International Journal Psychiatry in Medicine. Vol. 36(3) 269-281. Diambil dari www.library.uq.edu.au pada tanggal 29 Oktober 2007.

 http://issn.pdii.lipi.go.id/data/1446201810.png