ISSN 2477-1686

                                                                                       Vol.4. No.17 September 2018

Mengenali Gangguan Mental Skizofrenia dan Dukungan Sosial Terhadap Penderita dalam Perspektif Psikologi

Oleh

Mori Vurqaniati

Fakultas Psikologi, Universitas Persada Indonesia YAI

Kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan didalam kehidupan terkadang membuat sebagian individu sulit untuk menerimanya. Tak jarang proses penerimaan yang sulit tersebut menyebabkan kesedihan yang mendalam hingga depresi. Depresi yang berkepanjangan kerap menimbulkan masalah pikiran dan perilaku, timbulnya pikiran-pikiran yang negatif, merasa mendengar suara-suara maupun bisikan-bisikan yang akhirnya mempengaruhi kemampuan membedakan antara hal yang nyata atau hanya halusinasi. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, menunjukkan prevalensi gangguan mental emosional yang ditunjukkan dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan adalah sebesar 6% untuk usia 15 tahun ke atas  atau  sekitar 14 juta orang. Sedangkan, prevalensi gangguan jiwa berat, seperti schizophrenia adalah 1,7 per 1000 penduduk atau sekitar 400.000 orang. Gangguan jiwa ini kerap muncul di usia produktif, sehingga perlu mengenali gejala, serta terapi sedini mungkin, agar dapat meningkatkan probabilitas pemulihan. Bleuer pada tahun 1908 mengajukan istilah skizofrenia dari bahasa Yunani yang artinya “schizen” : membelah dan “phren” : akal pikiran. Skizofrenia adalah gangguan psikotik yang ditandai dengan gangguan utama dalam pikiran, emosi, dan perilaku, pikiran yang terganggu tidak saling berhubungan secara logis, persepsi dan perhatian keliru, emosi yang datar atau tidak sesuai, dan berbagai gangguan aktivitas motorik yang bizzare. Selain itu penderita skizofrenia biasanya menarik diri dari orang lain dan kenyataan, sering kali masuk ke dalam kehidupan fantasi yang penuh delusi dan halusinasi.

Faktor-faktor yang menjadi penyebab dari gangguan skizofrenia diantaranya adalah faktor genetik pada keluarga dengan gen yang sama atau pengalaman yang sama artinya adanya pengaruh lingkungan sebagai risiko morbiditas yang tinggi,  faktor biokimia  norepinefrin dan serotonin, aktivitas dopamin di daerah limbik otak berhubungan dengan gejala-gejala skizofrenia selanjutnya mobilitas sosial, ekonomi rendah, stres kehidupan, komunikasi yang membinggungkan serta konflik dalam keluarga turut berpengaruh sebagai penyebab gangguan mental skiozfrenia dan pada beberapa kasus dapat diakibatkan juga adanya infeksi virus selama trimester kedua kehamilan atau kerusakan yang terjadi dalam proses kelahiran yang sulit.

Kriteria Skizofrenia dalam DSM-IV-TR

  1. Terdapat dua atau lebih simtom-simtom berikut ini dengan porsi waktu yang signifikan selama sekurang-kurangnya satu bulan: waham (keyakinan yang berlawanan dengan kenyataan), halusinasi, disorganisasi bicara, disorganisasi perilaku atau perilaku katatonik, simtom negatif.
  2. Keberfungsian sosial & pekerjaan menurun sejak timbulnya gangguan.
  3. Gejala-gejala gangguan terjadi selama sekurang-kurangnya enam bulan; sekurang-kurangnya satu bulan untuk simtom-simtom pada poin pertama; selebihnya simtom-simtom negatif atau simtom lain pada poin pertama dalam bentuk ringan. 

Terapi Bagi Penderita Skizofrenia

Intervensi farmakologis (obat-obatan) dan pendekatan psikososial diantaranya dengan psikoterapi, terapi keluarga dengan edukasi tentang skizofrenia, menghindari saling menyalahkan, memperbaiki komunikasi.  Terapi personal dengan mengajari penderita mengenal emosi yang tidak sesuai, empati, perhatian, serta dukungan diantaranya dengan memberikan dukungan emosional untuk melanjutkan dan patuh terhadap pengobatan, mengetahui cara merespon pernyataan yang aneh, dan membantu penderita mencapai tujuan sederhana dalam hidupnya.

Upaya Preventif Menghindari Gangguan Skizofrenia

Selanjutnya hal-hal yang dapat dilakukan untuk menghindari gangguan skizofrenia diantaranya adalah menghindari dari frustasi dan kesulitan-kesulitan psikis lainnya, membangun hubungan sosial yang baik, berani mengambil suatu keputusan dan bertanggung jawab terhadap setiap keputusan yang dipilih, berfikir dan bersikap positif, tidak menutup diri serta selalu berusaha untuk menerima setiap kenyataan di dalam kehidupan serta berdamai dengan hal-hal yang coba diingkari. 

Referensi

American Psychiatric Association (1994): Diagnostic and statistical manual of mental disorders. Fourth edition (DSM-IV). Washington D.C. : Author

Davison, G.C., & Neale, J.K. (2001):  Abnormal Psychology & Psychopathology. New York : John Wiley & Sons, Inc

Nevid, S.J., Rathus, A.S., & Greene, B. (2003) : Psikologi Abnormal. Erlangga. Jakarta

http://www.depkes.go.id/article/print/16100700005/peran-keluarga-dukung-kesehatan-jiwa-masyarakat.html  dibuka pada tanggal 25 Agustus 2018