ISSN 2477-1686
Vol. 1., No. 4., Desember 2015

 

 

 

Budi Sarasati, SKM, MSi

 

Universitas Bhayangkara Jakarta Raya

 

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

 

 

 

Diabetes Militus

 

Jumlah pasien diabetes mellitus (DM) di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun. Survei Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) menyebutkan bahwa pada tahun 2001 jumlah penderita DM di Indonesia mencapai 8,6 % dari jumlah penduduk (sekitar 17 juta jiwa dari 210 juta jiwa ). Proyeksi tahun 2025 akan menjadi lebih dari 20 juta penderita. WHO juga menyebutkan bahwa angka tersebut menjadikan Indonesia sebagai  peringkat keempat dengan penderita DM terbanyak setelah India, China dan Amerika Serikat. Penyakit DM berhubungan dengan meningkatnya kadar gula darah karena tubuh tidak mampu mengendalikannya. Hal ini disebabkan tubuh tidak mampu memproduksi insulin (tipe 1) atau produksi insulin tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh yang seharusnya (tipe 2).

 

Diabetes tipe 1 biasanya terdapat pada anak dan adolesens, dengan jumlah penderita sekitar 5 – 10 % dari kasus diabetes (Sarafino, 2006). Tipe I selalu membutuhkan suntikan insulin untuk menjaga metabolisme glukosa dalam darah sehingga tidak timbul komplikasi yang serius. Bila terlambat mendapatkan insulin, dalam keadaan akut akan menyebabkan ketoacidosis, yaitu asam lemak dalam darah meninggi dan akan menyebabkan kerusakan fungsi ginjal. Penanganan yang terlambat terhadap keadaan ketoacidosis ini akan menyebabkan koma dan akhirnya kematian dalam beberapa hari atau minggu.

 

Diabetes tipe II merupakan kasus yang paling banyak terjadi di masyarakat. Penderita tipe ini tidak membutuhkan injeksi insulin, karena kelenjar pankreas masih memproduksi hormon insulin walaupun sedikit. Hampir semua penderita diabetes tipe II dapat mengatur kadar glukosa darah dengan diet dan pengobatan (AMA, 2003 dalam Sarafino, 2006). Meskipun tipe II dapat menyerang semua kelompok umur, biasanya timbul setelah seseorang menginjak usia diatas 40 tahun. Tipe II ditemukan pada orang yang kelebihan berat badan dan memproduksi hormon insulin, tetapi tubuh mereka menolak kontrol insulin terhadap glukosa ( Kohrt dkk, 1993 dalam Sarafino, 2006). Dapat juga terjadi tubuh tidak merespon untuk membuat kerja insulin menjadi efektif, artinya terjadi ketidakseimbangan antara kadar glukosa dalam darah dengan insulin sebagai penetrasinya.

 

 Pola Hidup

 

Individu yang didiagnosis menderita DM, baik tipe I maupun tipe II, harus menjalani pola hidup tertentu yang berbeda dengan sebelumnya. Mereka harus menerapkan kebiasaan baru yang disarankan petugas kesehatan untuk menjaga kualitas hidupnya agar kadar gula darah tidak meningkat di atas ambang normal. Pola hidup tersebut antara lain harus minum obat secara teratur, kontrol kadar gula darah secara rutin, menjaga makanan yang dikonsumsi (diet ketat) dan berolah raga teratur. Pola hidupyang menuntut keteraturan dan disiplin tinggi ini diduga dapat menyebabkan  konsep diri penderita DM mengalami perubahan.  Problem konsep diri kemungkinan juga akan diderita oleh penderita diabetes tipe II dewasa, khususnya penderita pada usia produktif. Penderita yang telah mengalami komplikasi, seperti kebutaan, penyakit ginjal, gangrene (dan harus diamputasi), penyakit jantung dan stroke, mungkin akan merasa dirinya sudah tidak berguna lagi dan mereka akan bergantung pada pendamping yang membantu proses penyembuhan penyakit mereka.  

 

 Dampak Psikososial                                                                    

 

Berbagai literatur menyebutkan bahwa terdapat dampak psikososial pada penderita diabetes. Pada penderita usia remaja dapat terjadi penurunan aktualisasi diri karena mereka harus menjalankan aturan ketat mengikuti berbagai prosedur pengobatan. Di sisi lain perkembangan sosial pada kelompok umur ini (menurut Erikson dalam Papalia, 2007) adalah krisis identitas, pengaruh peer grup yang kuat dan mulai tertarik dengan lawan jenis, yang mana dapat mengalami hambatan akibat ketergantungan dengan regimen pengobatan.

 

 Konsep Diri

 

Konsep diri adalah cara pandang individu memandang diri sendiri (Atwater, 1983). Menurut Atwater (1983), konsep diri merupakan salah satu aspek yang mengalami perubahan sehubungan dengan proses penyesuaian diri individu saat terjadi perubahan di lingkungannya.

 

            Perubahan konsep diri seseorang dipengaruhi oleh kematangan dan pengalaman hidupnya. Tetapi hal terbesar yang mempengaruhi gambaran diri seseorang adalah adaptasi dengan orang dan situasi yang berbeda, seperti teman baru, pekerjaan baru, pernikahan dan lain-lain yang semuanya itu mempunyai efek terhadap cara kita memandang diri kita sendiri.Taylor (2006) menyebutkan bahwa konsep dirimerupakan seperangkat keyakinan tentang sebuah kualitas dan atribut seseorang dalam hidupnya. Penyakit kronik dapat menciptakan perubahan drastis tentang self-concept seseorang. Beberapa perubahan akan bersifat sementara, tetapi banyak hal akan berubah secara permanent, seperti mental deterioration (kemunduran mental).

 

            Penelitian pada remaja penderita diabetes tipe I yang menderita depresimenunjukkan ketidakmampuan dalam mengaktualisasikan dirilah yang menyebabkan depresi. Hal ini karena mereka harus mematuhi segala aturan regimen medis secara ketat setiap hari (antara lain mengontrol kadar gula darah). Belum lagi  manajemen diri tentang pengontrolan pola makan (diet) mereka. Penelitian oleh Johnson, Freund, Silverstein, Hansen & Malone, (1990dalam Taylor 2006) menyatakan bahwa salah satu dilema yang berhubungan dengan konsep diripasien diabetes adalah manajemen diabetes yang mengharuskan pasien menjalani aturan ketat dalam regimen pengobatan, pengontrolan gula darah secara rutin serta diet yang ketat. Semua itu membuat mereka sangat tergantung dengan orang lain sehingga dapat menurunkan konsep diri.

 

 

 

Daftar Pustaka

 

 

 

Anastasi, Anne; Urbina, Susana (1997) Psychological Testing 7ed. EJ Prentice-Hall Inc.

 

Atwater, Eastwood, (1983), Psychology of Adjustment, 2nd edition, New Jersey: Prentice Hall.

 

Azwar, Saifuddin. (1999) Penyusunan Skala Psikologi, Yogyakarta : Pustaka Pelajar

 

Barnes, L., Moss-Morris, R., Kaufusi, M. (2004). Illness beliefs and adherence in diabetes mellitus: a comparison between Tongan and European patients. Journal of the New Zealand Medical Association, 30-January-2004, Vol. 117 No 1188

 

Friedenberg, L (1995). Psychological Testing. USA: Allyn & Bacon.

 

Hadi, Sutrisno (2001), Isu Uji Asumsi, Buletin Psikologi, Tahun IX, Nomor 1, Juni 2001

 

Lazarus, R.S. (1969). Pattern of Adjustment and Human Effectiveness. Japan: McGraw-Hill Book Company

 

Martin, Garry L., Osborne, J Grayson, (1989), Psychology, Adjustment & Everyday Living, New Jersey: Prentice Hall.

 

Murphy, Kevin R; Davidshover, Charles O. (2001) Psychological Testing: Principles and Applications 5th edition. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.

 

Sarafino, E. P. (2006). Health Psychology: Biopsychosocial Interactions. 5th edition. Hoboken, NJ: John Wiley & Sons.

 

Taylor, S. E. (2006). Health Psychology. 6th ed. McGraw-Hill International Edition.

http://issn.pdii.lipi.go.id/data/1446201810.png