ISSN 2477-1686
Vol. 1., No. 4, Desember 2015

 

Ahmad Rusdi

 Fakultas Psikologi, Universitas Borobudur, Jakarta

 Banyak penelitian menemukan bahwasanya spiritualitas memiliki peranan penting pada berbagai aspek psikologis manusia. Davis (2003), Fernando (2007), Plante (2007), dan Worthington (2010) menjelaskan dalam penelitian mereka masing-masing yang dapat disimpulkan bahwa spiritualitas merupakan potensi positif yang berpengaruh penting pada kesehatan psikologis seseorang. Beberapa aspek spiritualitas yang akan dipaparkan diambil dari teori Swinton (dalam Gilbert, 2007) mengenai dimensi-dimensi spiritual. Berikut ini akan dijelaskan bagaimana langkah-langkah mengoptimalkan kualitas spiritual.

Langkah pertama, lakukan lebih banyak perenungan akan tujuan hidup anda (meaning/makna). Tujuan hidup yang anda renungkan bukan sekedar sukses material, mencapai kekayaan, jabatan, dan sebagainya, melainkan tujuan anda hidup secara hakikat, mengapa anda diciptakan, apa yang anda inginkan setelah akhir dari hidup anda. Semakin jauh Anda merenung maka semakin baik Anda memiliki kualitas pemaknaan, dan perenungan terjauh adalah kebahagiaan setelah kematian. Setelah Anda meyakini tujuan hidup Anda, pikirkan bagaimana cara Anda mecapai tujuan itu, Anda bisa mencarinya dalam ajaran agama beserta nilai-nilai kebenaran lainnya.

 Langkah Ke dua, hargai semua kejadian yang terjadi pada anda (values). Berikan pemaknaan atas segala sesuatu secara positif bahkan sekalipun pemaknaan atas kejadian buruk, trauma, permasalahan, atau musibah sebagai sesuatu yang berharga. Selain menghargai  musibah, diri kita perlu menilai segala aktivitas hidup sebagai aktivitas yang berharga dan bernilai. Setiap langkah menuju tempat bekerja, tempat belajar, atau tempat aktivitas lain merupakan sesuatu yang amat berharga yang memulai sesuatu yang besar. Jangan pernah berpikir adanya kesia-siaan dalam hidup. Menilai sesuatu janganlah menilai hanya dari sisi materi, aktivitas yang berharga tidak selalu menghasilkan kesenangan materi, namun lebih dari itu, kesenangan ruhani. Hargailah sekecil-kecilnya perbuatan yang anda lakukan, sadari hal tersebut mulai dari niat kita berbuat hingga hasil dari perbuatan kita.

 Langkah ke tiga, perbaiki hubungan (connection) terhadap empat hal, yaitu: hubungan dengan diri sendiri, orang lain, lingkungan, dan Tuhan. Terkadang kita berbuat buruk terhadap diri sendiri dengan menganggap diri kita lemah, payah, tidak sanggup, tidak baik, dan sebagainya. Kita harus memperbaiki hubungan dengan diri. Hak asasi yang paling asas adalah memenuhi hak diri sendiri. Penuhi kebutuhannya, baik kebutuhan fisik, mental, intelektual, maupun spiritual. Oleh karena itu, perlu kita perlu mengenali diri dengan sebaik-baiknya, ketahuilah apa yang diperlukan. Berhubungan baik dengan diri sendiri adalah awal dari hubungan baik terhadap yang lainnya bahkan kepada Tuhan. Siapa yang mengenal dirinya, barulah dia bisa mengenal Tuhannya. Setelah kita sudah menjalin hubungan yang baik diri sendiri, kemudian berhubungan baiklah terhadap sesama. Jangan mengaku diri sebagai peduli sesama jika masih ada rasa iri dan dendam terhadap teman dekat, keluarga, atau kerabat. Jadilah pemaaf, penolong, dan penuh kasih sayang, berlaku adil terhadap sesama. Sangat penting menumbuhkan sifat tersebut sebelum diri ini berhubungan dengan Tuhan yang bersifat maha pemaaf, penolong, dan penyayang. Selanjutnya berhubunganlah dengan baik terhadap lingkungan. Jangan mengaku berhubungan baik kepada Tuhan jika masih senang merusak lingkungan, meninggalkan sampah di kegiatan-kegiatan keagamaan, dan menganggap lingkungan sebagai benda mati yang dapat dieksploitasi seenaknya. Langkah pertama menjalin hubungan baik dengan lingkungan adalah dengan menyadari bahwa lingkungan kita adalah benda hidup, bahkan menghidupkan kita. Air, tanaman, hewan, bumi, dan langit adalah makhluk hidup yang menghidupi kita, maka kita harusnya berbuat pantas terhadap mereka. Setelah kita dapat menjalin hubungan baik dengan diri, orang lain, dan lingkungan, barulah kita dapat dengan mudah berhubungan baik dengan Tuhan. Mendekatkan diri dengan Tuhan adalah dengan cara mendekatkan diri kita dengan sifat-sifatnya.

 Langkah ke empat, sadari adanya dimensi tertinggi setelah dimensi duniawi (transcendence). Manusia adalah makhluk transenden karena memiliki beberapa elemen untuk mengaksesnya, akal dapat mencapai kebenaran yang terdapat pada dimensi di balik perkara duniawi. Meyakini bahwa kehidupan hanyalah duniawi saja akan mengakibatkan seseorang mengalami kehampaan dan kesia-siaan hidup. Hanyalah manusia yang dapat merasakan adanya dimensi spiritual, dimensi tertinggi tempat kembalinya manusia dan tempat tujuan akhir  manusia hidup. Perbanyak aktivitas ukhrawi dibanding aktivitas duniawi. Aktivitas ukhrawi tidak selamanya dalam bentuk ritual, aktivitas ukhrawi adalah aktivitas yang memiliki nilai tertinggi, seperti berperilaku adil dalam memimpin, jujur dalam tanggung jawab, menyayangi dan memaafkan dalam berinteraksi, dan sebagainya. Semua itu adalah aktivitas transanden yang muncul dari kesadaran akan adanya dimensi yang memuat nilai-nilai luhur. Aktivitas ukhrawi akan menghasilkan kebahagiaan pada diri karena aktivitas tersebut merupakan konsumsi ruhani yang kelezatannya merupakan kebahagiaan yang tak ternilai.

 Langkah ke lima, jalankan kehidupan sebagai proses perubahan diri menjadi lebih baik (becoming). Manusia adalah makhluk yang mampu menempati berbagai bentuk (berubah). Tentu saja diri kita harus diarahkan kepada perubahan bentuk menuju kesempurnaan, tidak ada manusia yang sempurna, namun manusia harus menuju pada kesempurnaan. Banyak orang yang mengalami stagnasi hidup karena merasa telah memenuhi segala kebutuhan, padahal diri ini masih banyak kekurangan bahkan keburukan yang harus diperbaiki. Jadikanlah seluruh aktivitas kita agar merubah diri ini menjadi lebih baik. Kosongkan diri ini dari sifat buruk, isilah diri ini dari sifat baik, dan percantiklah diri ini dengan tampilan akhlak yang sesuai pada tempatnya. Jika diri ini terlupa dan lalai, segera iringin dengan kebaikan, teruslah berproses dan jangan berhenti, karena proses menjadi lebih baik adalah proses sepanjang hidup.

 Manfaat dari peningkatan kualitas spiritual adalah tercapainya kebahagiaan ruhani. Suatu kenikmatan yang tertinggi yang tidak bisa disandingkan dengan kenikmatan jasmani.Suatu kebahagiaan yang tidak bisa diibaratkan kecuali dengan melakukan perjalanan spiritual, salah satunya dengan cara yang telah disebutkan di atas yang sebenarnya bukan sesuatu yang sulit untuk memulainya.

 

Daftar Pusaka

Davis, Timothy L. and Others.(2003). Meaning, purpose, and religiosity in at-risk youth: the relationship between anxiety and spirituality. Journal of Psychology and Theology, Vol. 31, 1.

Farīd, Ahmad. (1985). Tazkiyah al-Nufūs wa Tarbiyatuhā Kamā Yuqarriruhū ‘Ulamā al-Salaf: Ibn Rajab al-Hanbalī, Ibn al-Qayyim, Abū Hāmid al-Ghazālī. Bayrūt: Dār al-Qalam.

Fernando, Suman (2007) Spirituality and Mental Health Across Culture in Spirituality, Values, and Mental Health, ed. Marry Ellen Coyte, Peter Gilbert, & Vicky Nicholls. London: Jessica Kingsley Publishers, 357

Gilbert, Peter (2007). The spiritual foundation: awareness for context people’s live today in Spirituality, Values, and Mental Health, ed. Marry Ellen Coyte, Peter Gilbert, & Vicky Nicholls. London: Jessica Kingsley Publishers.

Plante, Thomas G. (2007). Integrating spirituality and psychotherapy:ethical issues and principles to consider. Journal of Clinical Psychology,Vol. 63, No. 9, 891–902

http://issn.pdii.lipi.go.id/data/1446201810.png