ISSN 2477-1686
Vol. 1., No. 4., Desember 2015

 

Sarah Rachmawati

Fakultas Psikologi, Universitas Bhayangkara Jakarta Raya

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

 

Kekerasan pada remaja menjadi topik hangat akhir-akhir ini. Kekerasan tersebut baik berupa kekerasan verbal, fisik dan seksual. Salah satu hal yang disayangkan adalah kemajuan teknologi dan komunikasi gagal dimanfaatkan dengan bijaksana oleh sebagian remaja sehingga justru menjadi sarana melakukan kekerasan.Hal itu terlihat dari fenomena saling serang hujatan, membuat meme-meme yang bersifat melecehkan dan sebagai sarana orang jahat menentukan target kekerasan seksual. Kekerasan pada remaja yang terus meningkat, menjadi suatu keprihatinan tersendiri bagi generasi penerus bangsa, oleh karena itu diperlukan suatu upaya agar agresivitas akibat penyalahgunaan teknologi informasi dan komunikasi dapat menurun, salah satunya melalui pengembangan kegiatan berbasis kebudayaan.

Saat ini, sekolah-sekolah yang berada di kawasan Jawa Tengah dan Yogyakarta sedang bersemangat-semangatnyamengembangkan kegiatan-kegiatan pelestarian budaya sebagai akar dari karakter kepribadian individu yang berkualitas, bermoral, dan berbudi luhur, salah satu kegiatannya adalah bermain musik gamelan. Gamelan menurut Sarwono dan Lam (2002) berasal dari bahasa Jawa “Gamel” yaitu merupakan jenis palu atau seperti palu yang digunakan pandai besi.Lebih lanjut, Sukinah (2011), Purwadi (2009) dan Yudoyono (1984), menjelaskan musik gamelan dimainkan secara berkelompok dan masing-masing pemain mempunyai tugas untuk menimbulkan bunyi yang teratur dan enak didengar, oleh sebab itu pemain alat musik gamelan tidak hanya belajar teknis memainkan gamelan namun juga memahami makna-makna yang terkandung dalam alat musik dan tata cara memainkannya.

Walton (2001) menyatakan bahwa alat musik gamelan dipercayai bukan merupakan alat musik biasa namun banyak makna yang tersirat di dalam alat musik gamelan maupun gendhing yang dimainkan, sehingga wajib seseorang pemain gamelan untuk bersikap sopan ketika memainkan alat musik gamelan antara lain adalah pemain gamelan harus berdoa kepada Yang Maha Kuasa baik sebelum dan sesudah bermain gamelan, pemain gamelan mengambil posisi duduk bersila yang mengandung makna harus rendah hati dan tenang dalam bersikap, bertutur kata sopan dan tidak boleh untuk melangkahi alat musik gamelan. Pada saatmemainkan alat musik gamelan pemain alat musik mempunyai ruang luas dalam berinteraksi dengan simbol-simbol yang menjadi komponen alat musik gamelan, salah satunya adalah berinteraksi dengan masing-masing alat musik yang memiliki arti yang luhur. Simbol-simbol tersebut dimaknai bersama-sama oleh pemain sehingga berpengaruh pada perilaku pemain yang saling menghormati dan menjaga tata krama.

Seringkali, orang Jawa menganggap satu set gamelan sebagai pusaka, yaitu obyek warisan yang dikaruniai dengan kekuatan supranatural. Cerita pewayangan menjelaskan bahwa gamelan adalah musik dari khayangan yang menyejukkan jiwa. Sebuah gelar kehormatan, “Kyai” atau "Yang Mulia", diberikan kepada  gamelan (Sumarsam, 1984).Hood dan Susilo (1967) mengungkapkan bahwa ada aturan tidak boleh diganggu gugat yaitu bahwa tidak ada seorang pun melangkah di atas salah satu musik instrumen gamelan, karena untuk melakukannya akan dianggap sebagai pelanggaran hormat dan melanggar kesopanan. Jika tidak ada ruang yang cukup, musisi harus memindahkan instrumen sementara untuk memberikan ruang, dan ketika ia melewati  instrumen atau pemain lain, ia tidak melangkah dengan  badan tegak namun dengan membungkuk rendah, memegang satu tangan dan berkata Jawa “nuwun sewu” (ijin dan maaf).

Gamelan selain memiliki makna mendalam seperti saling menghormati, menghargai dan menjunjung tinggi nilai kesopanan namun juga dimainkan secara berkelompok yang artinya butuh usaha bersama untuk menciptakan nada yang harmonis melalui penyelarasan nada antara alat musik satu dengan yang lain. Menurut Yalom (2005) kelebihan pendekatan kelompok adalah adanya kesamaan menciptakan keterbukaan diantara anggota untuk berbagi informasi, bertukar pengalaman, dan saling memberi dukungan, sehingga hal tersebut akan membuat anggota mendapatkan kesempatan untuk belajar mengekspresikan perasaan dan menunjukkan perhatian pada orang lain serta saling berbagi pengetahuan, juga memberi kesempatan untuk mempelajari keterampilan yang baru.Sejalan dengan pernyataan di atas, Mössler, Assmus, Heldal, Katharina & Gold (2012) menyatakan bahwa kegiatan memproduksi musik baik dengan memainkan alat musik dan bernyanyi secara berkelompok dapat mengembangkan keterampilan sosial dan hubungan interpersonal yang baik.

Gamelan merupakan alat musik tradisional budaya Indonesia yang mempunyai muatan nilai-nilai kearifan dan berpengaruh pada perilaku pemain gamelan. Hal tersebut terlihat dari proses usaha pemain gamelan dalam menyelaraskan nada. Proses tersebut menstimulus pemain gamelan dilatih untuk memiliki nilai-nilai kebersamaan, kekompakan, gotong royong, kedisiplinan dan komunikasi yang baik agar tercapai suatu harmonisasi dan keselarasan nada (Arifin, Huda dan Tarmiyati, 2009). Keistimewaan gamelan memiliki nilai ganda, selain bisa menjadi sarana pengembangan kepribadian yang santun dan melatih kepekaan terhadap sekitar, juga berakar dari bangsa sendiri. Hal ini menjadi pendorong bagi para pendidik untuk terus menggali kekayaan budaya bangsa sendiri dalam mengembangkan tunas muda ke depan.

 

Daftar Pustaka

Arifin, M., Huda, M., & Tarmiyanti. (2009). Pemanfaatan seni karawitan untuk menumbuhkan dan meningkatkan nilai kedisiplinan dan kebersamaan anak. PKMI Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta, 3, 1 – 19.

Hood, M., & Susilo,H. (1967). Music of  the venerable  dark  cloud. Los Angeles: Institute of Ethnomusicology, University of California.

Mössler, K., Assmus, J., Heldal, O, T., Katharina, F., & Gold, C. (2012). Music  therapy  techniques  as  predictors  of  change  in  mental  health  care. The  Arts  in  Psychotherapy, 39, 333 –  341

Purwadi. (2009). Seni Karawitan I. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta

Sarwono, J., & Lam, W, Y. (2002). The preferred initial time delay gapand inter-aural cross correlation for a Javanese gamelan performance hall. Journal of Sound and Vibration, 258(3), 451 – 461.

Sumarsam. (1984). Gamelan music and the javanese  wayang kulit.  in  aesthetic tradition and cultural  transition in  Java and  Bali. University of Wisconsin  Center for Southeast Asian Studies,105-116.

Sukinah .(2011). Seni gamelan sebagai alternatif pendidikan karakter bagi anak autis di sekolah luar biasa .Universitas Negeri Yogyakarta, Proceeding, 1, 133 – 141.

Walton, P, Susan. (2001). Aesthetic and spiritual correlationsin Javanese gamelan music. Michigan: University of Michigan Perss.

Yalom, D, Irvin. (2005). The theory and practice of group psychotherapy. New York: Basic Book.

Yudoyono, Bambang. (1984). Gamelan Jawa: awal mula, makna masa depannya. Jakarta: PT Karya Unipress.

 http://issn.pdii.lipi.go.id/data/1446201810.png