ISSN 2477-1686

 

Vol.4. No.6, Maret 2018

Mengajarkan Empati Kepada Anak-anak

Oleh

Jessica Ariela

Fakultas Psikologi, Universitas Pelita Harapan

Contoh Kasus

Pada suatu hari di sebuah SD, seorang wali kelas membagikan kue kering pada siswa-siswi kelas 3 SD. Sang guru pun dengan adil memberikan satu keping kue kering untuk setiap siswa. Bisa dibayangkan betapa riangnya hati anak-anak ini. Seorang siswi pun tidak dapat menahan diri dan langsung menghabiskan kue kering itu dalam sekali lahap dan tidak lama kemudian segera mengutarakan keinginannya untuk meminta tambah, “Miss, mau lagi…”Tepat di samping siswi tersebut, duduk seorang siswi berkebutuhan khusus. Kuenya masih terletak utuh di hadapannya. Memang siswi ini sering asyik dalam pikirannya sendiri sehingga tampak agak lambat dalam bereaksi maupun dalam mengerjakan tugas-tugasnya. Namun, mendengar teman di sebelahnya meminta tambah, ia pun dengan sigap membagi kuenya menjadi dua, lalu memberikan salah satu bagian pada temannya tersebut, “Ini, buat kamu,” katanya. Kejadian tak terduga tersebut terpantau oleh sang guru. Sebuah tindakan empatis yang luar biasa dari seorang siswi berkebutuhan khusus membuat hari yang semula biasa menjadi hari yang luar biasa.

Carl Rogers (1957), pencetus Person-Centered Counseling, mengemukakan bahwa empati merupakan suatu sikap atau cara untuk memahami pengalaman orang lain secara akurat seakan-akan ia juga mengalami hal atau perasaan tersebut. Kata kunci yang penting di sini adalah “seakan-akan” yang berarti saat individu merasakan kemarahan, kesedihan, ataupun kekecewaan orang lain, individu tersebut tidak serta-merta ikut marah, sedih, dan kecewa. Empati merupakan bagian dari kecerdasan emosional anak dan merupakan salah satu aspek yang menolong anak untuk memecahkan masalah, berkomunikasi secara efektif, mencegah konflik, dan mengembangkan ide ataupun solusi (Ioannidou & Konstantikaki, 2008).

Pendidikan Empati bagi Anak

Mempertimbangkan hal-hal tersebut, pendidikan empati merupakan hal yang penting bagi anak dan berkaitan erat dengan perkembangan kecerdasan emosionalnya. Berikut ini adalah beberapa saran yang dapat digunakan oleh orang tua maupun pendidik dalam mengajarkan empati kepada anak-anak. 

Kenali Emosi Anda Lebih Dahulu. Sebuah pepatah mengatakan bahwa kita tidak akan dapat membawa seseorang pergi ke tempat yang tidak kita ketahui. Hal yang sama berlaku dalam mengajarkan kecerdasan emosional, khususnya empati, pada anak-anak. Banyak individu yang sudah menginjak usia dewasa pun masih memiliki kesulitan dalam aspek emosional. Beberapa individu mungkin akan merasa tidak nyaman jika berada dalam situasi yang emosional, misalnya menjadi canggung saat melihat seseorang menangis. Beberapa individu lain mungkin akan berpendapat bahwa menunjukkan emosi adalah hal yang lemah. Namun, jika seorang individu dewasa memiliki kesulitan dalam mengenali dan mengelola emosinya, maka akan sulit bagi mereka untuk mengajarkan identifikasi emosi pada anak-anak. Perlu diingat bahwa anak-anak belajar dari orang dewasa yang ada di sekitar mereka. Jadi, ayah, ibu, guru, pendidik, pengasuh, maupun orang-orang dewasa lainnya merupakan role model yang akan ditiru oleh anak-anak di sekitar mereka.

Biasakan Anak untuk Melabel Perasaan yang Mereka Rasakan. Ajari anak bahwa apa yang mereka rasakan memiliki nama. Sebuah penelitian (Barrett, Gross, Christensen, & Benvenuto, 2001) mengungkapkan bahwa dengan melabel  dan mampu membedakan emosi apa yang sedang dirasakan, individu dapat memiliki kontrol atas perasaannya dan dapat mencegah perasaan itu menjadi meluap dan tidak terkendali (overwhelming). Hal yang sama juga berlaku untuk anak-anak. Orang tua dapat menanyakan pada anak bagaimana perasaan mereka pada suatu situasi tertentu dan membagikan apa yang orang tua sendiri rasakan pada situasi yang sama. Guru di sekolah dapat membuat suatu poster besar berisi gambar wajah dengan berbagai emosi (emoticons) disertai nama masing-masing emosi. Setiap pagi sebelum memulai pelajaran atau setiap sore sebelum pulang sekolah, guru dapat mengadakan “emotional check-up” di kelas dengan meminta siswa menuliskan, menggambar, atau menyebutkan emosi mereka pada hari itu. Kebiasaan untuk melabel perasaan akan membuat anak lebih mahir dalam mengelola serta mengomunikasikan emosinya, sehingga tantrum dan perilaku acting out akan berkurang.

Dengarkan dan Berikan Validasi. Validasi bukan berarti menyetujui semua yang anak katakan. Validasi berarti Anda benar-benar mendengarkan anak tersebut (McKay, Davis, & Fanning, 2009). Laing dan Esterson (dalam Hill, 2010) mengatakan bahwa pemberian validasi akan membuat individu berhenti merasa seperti “gila” – suatu perasaan yang seringkali dialami saat seseorang merasa begitu overwhelmed dengan situasi dan emosinya. Salah satu cara memberikan validasi yang efektif adalah dengan mendengarkan anak dan merefleksikan perasaan. Merefleksikan perasaan bukan hanya sekadar mengatakan, “Saya mengerti perasaanmu.” Lebih dari itu, individu yang merefleksikan perasaan dengan baik dapat mengatakan, “Saya pikir kamu merasa sedih karena tidak diajak bermain oleh teman-temanmu.”

Bedakan antara 3P (Perilaku, Pikiran, Perasaan). Menurut Myers (2009), sikap individu terdiri dari tiga aspek, yakni perilaku, pikiran, dan perasaan (atau dalam istilah Myers, ABC – affection, behavior, cognition). Salah satu kesulitan yang paling besar dalam melabel emosi adalah membedakan antara perasaan, pikiran, dan perilaku. Orang dewasa dapat membantu anak-anak untuk membedakan perilaku, pikiran, dan perasaan dalam bahasa yang mudah dipahami. Misalnya, kakak merebut mainan adik, lalu adik memukul kakak. Orang tua dapat berbicara bahwa perilaku kakak merebut mainan adik tidak dapat diterima, sama seperti perilaku adik memukul kakak. Lanjutkan dengan menanyakan apa yang mereka rasakan yang mendorong mereka berperilaku demikian. Mintalah anak-anak untuk melabel perasaan yang mereka rasakan. Orang tua dapat menanyakan apa yang mereka pikirkan saat itu dan apa yang bisa mereka lakukan secara berbeda. Ingat bahwa perilaku yang salah tetaplah salah, tetapi jangan lupa ajarkan ada cara lain yang lebih adaptif bagi anak untuk mengungkapkan emosinya. 

Paparkan Anak pada Situasi Sosial yang Beragam. Tepat atau tidaknya suatu emosi bergantung pada pemaknaan individu terhadap konteks situasi sosial yang memicunya. Dalam situasi perkabungan, misalnya, rasa sedih atau prihatin dianggap sebagai emosi yang tepat, tetapi rasa gembira bagi sebagian besar orang akan dianggap tidak tepat. Orang dewasa dapat membantu anak dengan cara mengeksplorasi situasi sosial yang berbeda, misalnya lewat film anak-anak, cerita sebelum tidur, dan sebagainya. Bantu anak-anak untuk memahami apa yang terjadi (konteks), lalu identifikasi 3P (Perilaku, Pikiran, Perasaan) yang dialami tokoh dalam cerita, sehingga anak berkembang dalam area kecerdasan interpersonal maupun kecerdasan intrapersonalnya. 

Perhatikan Momen-Momen Kecil dalam Hidup yang Dapat Dipakai Sebagai Momen Pengajaran (Teachable Moments). Saat orang tua atau guru menghabiskan waktu bersama anak, akan ada pengalaman-pengalaman anak yang dapat dijadikan contoh konkret untuk mengajarkan empati pada anak. Pengalaman-pengalaman ini mungkin akan datang secara tiba-tiba dan tidak terduga. Orang dewasa dapat menggunakannya untuk menerapkan apa yang telah diajarkan selama ini. Dengan demikian, anak belajar bahwa empati tidak lepas dari kehidupan sehari-hari dan belajar menginternalisasinya sebagai bagian dari hidupnya.

 

Dengan menerapkan cara-cara ini, anak dapat belajar untuk mengembangkan kemampuan empati mereka dan menjadi individu yang lebih mahir dalam meregulasi emosi, mengomunikasikan perasaan dengan lebih efektif, dan menyelesaikan masalah secara lebih adaptif. 

Referensi

 

Barrett, L. F., Gross, J., Christensen, T. C., & Benvenuto, M. (2001). Knowing what you’re feeling and knowing what to do about it: Mapping the relation between emotion differentiation and emotion regulation. Cognition and Emotion, 15(6), 713-724. DOI:10.1080/02699930143000239.

Hill, C.E. (2010). Helping skills (Third edition). Washington, DC: American Psychological Association.

Loannidou, F., & Konstantikaki, V. (2008). Empathy and emotional intelligence: What is it really about? International Journal of Caring Sciences, 1(3), 118-123. Retrieved fromhttp://www.internationaljournalofcaringsciences.org/docs/Vol1_Issue3_03_Ioannidou.pdf.

McKay, M., Davis, M., & Fanning, P. (2009). Messages: The communication skills book (Third edition). Oakland, CA: New Harbinger Publications, Inc.

Myers, D. (2009). Social psychology. New York, NY: Woodsworth.

 

Rogers, C. R. (1957). The necessary and sufficient conditions of therapeutic personality change. Journal of Consulting Psychology, 21(2), 95-103.

Comments   

0 #2 MyrtleJuicy 2018-08-15 07:42
Hello. I see that you don't update your site too often. I know that
writing content is boring and time consuming.
But did you know that there is a tool that allows you to create new articles using existing content (from article
directories or other blogs from your niche)?
And it does it very well. The new posts are unique and
pass the copyscape test. You should try miftolo's tools
Quote
0 #1 SofiaJuicy 2018-08-11 01:25
Hi. I see that you don't update your site too often. I know that writing content is boring and time consuming.
But did you know that there is a tool that allows you to create new posts using existing content (from article directories or other websites from your niche)?
And it does it very well. The new posts are unique and pass the copyscape test.
You should try miftolo's tools
Quote

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh