ISSN 2477-1686
Vol. 1., No. 2, November 2015

*Subhan El Hafiz (Psikologi UHAMKA)

Sabar mungkin termasuk kata yang sering kita sampaikan kepada orang lain dan  namun apakah kita sudah cukup mengerti dengan kata ini. Sabar merupakan kata yang mengacu pada nilai sabar yang merupakan salah satu nilai positif (virtue) yang diyakini oleh masyarakat secara umum. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Subandi (2011), nilai sabar merupakan nilai yang dianjurkan oleh banyak agama dengan beberapa variasi dalam detail penjelasannya.

Penelitian yang dilakukan oleh tim UHAMKA menghasilkan konsep psikologi kesabaran untuk menjelaskan perilaku yang sesuai dengan nilai sabar (El Hafiz, dkk, 2013). Psikologi kesabaran merupakan konsep yang mengacu pada kompetensi seseorang. Adapun kompetensi tersebut adalah kemampuan individu untuk menjalankan nilai sabar dalam kehidupan sehari-hari.

Konsep ini psikologi kesabaran adalah kemampuan untuk menahan emosi, pikiran, perkataan, dan perilaku. Selain itu, syarat dari kompetensi ini adalah menahan dilakukan secara aktif, merupakan respon awal, bertujuan baik, dan taat aturan. Gagal memenuhi syarat tersebut, maka menahan yang ditunjukkan oleh individu tidak dapat dinilai sebagai kompetensi kesabaran.

Dengan demikian, jika seseorang mencoba menahan diri untuk tidak menjual barangnya saat ini dan menunggu harga tinggi agar bisa memonopoli pasar maka sikap menahannya tidak dapat dikategorikan perilaku sabar. Begitu juga ketika seseorang menahan diri untuk mengambil barang milik orang lain (mencuri) karena situasi yang masih ramai maka hal ini tidak dikategorikan perilaku yang sabar. Kedua contoh di atas tidak dapat dikategorikan baik karena kedua contoh tersebut menahan dengan tujuan yang tidak baik bagi orang lain.

Begitu juga dengan perilaku menahan yang dilakukan setelah berkali-kali individu tidak menahan, tidak dapat dikategorikan sabar. Salah satu contohnya adalah seseorang yang berusaha menyalakan kendaraan berkali-kali walaupun sudah disarankan bahwa lebih baik untuk menunggu esok harinya. Pada saat seseorang akhirnya menahan diri untuk menyalakan kendaraan karena berkali-kali gagal, maka perilaku menahan yang ia tunjukkan mengindikasikan bahwa hal tersebut bukanlah menahan yang termasuk kategori sabar.

Berdasarkan contoh di atas, perilaku menahan juga perlu dilakukan secara aktif artinya orang tersebut memilih untuk menahan karena yakin hal itu lebih baik. Jika menahan dilakukan karena keterpaksaan, maka perilaku tersebut tidak berasosiasi dengan kesabaran. Secara umum, hal ini lebih banyak diasosiasikan dengan pasrah.

Beberapa penelitian yang pernah dilakukan diantaranya bagaimana peran kompetensi kesabaran dalam meningkatkan kematangan emosi pada remaja (El Hafiz, Al Maududi, & Amalina, 2015). Berdasarkan penelitian tersebut ternyata secara signifikan terlihat peran kompetensi kesabaran dalam kematangan emosi remaja walaupun anak mengalami pola pengasuhan yang otoriter dari orangtua. Secara khusus, penelitian tersebut membuktikan bahwa dampak negative dari pola asuh otoriter dapat diminimalisir oleh kompetensi kesabaran dari remaja.

Penelitian lain menunjukkan bahwa kompetensi kesabaran juga memberi sumbangan signifikan terhadap kemampuan remaja untuk melakukan upaya mengatasi konflik. Penelitian yang dilakukan oleh El Hafiz, Al Maududi, & Amalina (2015) menunjukkan bahwa religiusitas seseorang dapat meningkatkan kemampuannya mengatasi konflik interpersonal, namun  jika individu tidak memiliki kompetensi kesabaran yang cukup baik maka kemampuan tersebut akan turun walaupun religiusitasnya tetap tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa religiusitas yang secara umum berdampak positif, tidak akan optimal jika tidak dilengkapi kompetensi yang relevan dengan situasi, sala satunya kesabaran.

Selain dua penelitian diatas, beberapa penelitian lain juga menunjukkan peran kompetensi kesabaran secara positif mempengaruhi kehidupan. Kesabaran berpengaruh positif dengan kepuasan pernikahan (Kumala & Trihandayani, 2015) dan kesabaran juga berpengaruh positif terhadap sikap prososial seseorang (Rozi & Dahlan, 2015). Beberapa penelitian lain juga menunjukkan hasil bahwa kompetensi kesabaran berdampak positif pada seseorang.

Rangkaian penelitian yang sudah dilakukan menunjukkan bahwa Psikologi Kesabaran dapat menjadi sebuah konsep untuk nantinya dilakukan intervensi terhadap perilaku. Hal ini dikarenakan salah satu fungsi teori adalah untuk mengontrol, dalam psikologi yang umumnya dikontrol adalah, perilaku. Penelitian lebih lanjut untuk mengembangkan kompetensi kesabaran seseorang perlu dilakukan karena sebagai nilai positif (virture) yang berasal dari kebijaksanaan lokal dapat mendorong kajian yang lebih sesuai dengan budaya lokal. (seh).

Daftar Pustaka

Dahlan, R. & Rozi, F. (2015). Role of Gratitude and Knowledge of Islamic Philanthropy as Mediator in Relation between Religiosity and Altruism of Islamic Philanthropy in The 11th Biennial Conference of Asian Association of  Social Psychology, Cebu, August 19-22

El Hafiz, S., A.A. Al Maududi, A.A. & N. Amalina (2015). Peran Pola Asuh Otoriter Terhadap Kematangan Emosi yang Dimoderatori oleh Kesabaran. Laporan Penelitian: Unpublish

El Hafiz, S., Mundzir, I., Pratiwi, L., Rozi, F. (2013). Sabar (Patience) as New Psychological Construct in The 10th Biennial Conference of Asian Association of  Social Psychology, Yogyakarta, August 21 -24.

Kumala, A., & D. Trihandayani. (2015). Role of  Forgiveness and Shabr in Marital Satisfaction in The 11th Biennial Conference of Asian Association of  Social Psychology, Cebu, August 19-22

Subandi,. (2011). Sabar: Sebuah Konsep Psikologi. Jurnal Psikologi. Vol 38(2) hal 215-227

http://issn.pdii.lipi.go.id/data/1446201810.png