ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 66 September 2026
Terjebak dalam Feed: Dinamika Fetisisme dan Hiper-Seksualisasi di Era Digital
Oleh:
M. Zaidane Prayoga & Meri Anggraini
Fakultas Psikologi, Universitas Sumatera Utara
Setiap kali jempol menggeser layar, algoritma media sosial diam-diam mempelajari apa yang membuat pengguna berhenti sejenak. Konten yang menonjolkan tubuh, gestur, dan estetika seksual terbukti mempertahankan perhatian lebih lama dibanding konten netral, sehingga sistem rekomendasi cenderung memperbanyak paparan semacam itu di beranda (feed). Pola inilah yang perlahan membentuk lanskap digital yang hiper-seksual, yaitu ruang siber di mana daya tarik seksual menjadi salah satu mata uang utama validasi sosial.
Secara psikologis, hiper-seksualisasi merujuk pada proses ketika nilai seseorang direduksi menjadi daya tarik seksualnya semata, terlepas dari karakteristik lain yang ia miliki. Fetisisme, dalam konteks budaya digital, dapat dipahami sebagai kecenderungan memusatkan ketertarikan secara berlebihan pada objek, bagian tubuh, atau gaya presentasi visual tertentu yang dipopulerkan lewat tren media sosial. Sebuah kajian eksperimental terhadap 916 partisipan yang menilai unggahan Instagram menemukan bahwa penilaian terhadap konten yang mengungkap tubuh berkaitan erat dengan sikap seksis, kenikmatan personal terhadap seksualisasi, dan pola perilaku unggah pengguna itu sendiri (Plieger et al., 2021).
Teori objektifikasi diri (self-objectification) menjelaskan bagaimana paparan berulang terhadap citra yang menonjolkan tubuh mendorong individu, khususnya remaja, untuk mulai memandang tubuhnya sendiri layaknya objek yang dinilai orang lain. Studi longitudinal terhadap remaja menemukan hubungan timbal balik antara perilaku terkait swafoto (mengunggah, menyunting, dan melihat foto) dengan objektifikasi diri serta ketidakpuasan terhadap penampilan wajah dari waktu ke waktu (Wang et al., 2021). Dengan kata lain, pengguna bukan hanya menjadi korban paparan pasif, tetapi juga aktif membentuk ulang identitasnya mengikuti standar visual yang sama.
Isu ini tidak berhenti pada kalangan dewasa. Analisis terhadap ratusan video dari akun-akun TikTok paling populer di Spanyol menemukan perilaku hiper-seksual pada sepuluh dari dua belas akun yang diteliti, tanpa perbedaan signifikan antara pengguna laki-laki dan perempuan, sementara wawancara mendalam dengan remaja berusia 8 hingga 17 tahun menunjukkan bahwa seksualisasi justru dianggap sebagai ciri khas yang melekat pada platform tersebut (Soriano-Ayala et al., 2022). Temuan ini menegaskan bahwa hiper-seksualisasi digital telah menjadi norma yang dianggap wajar bagi generasi yang tumbuh bersama media sosial, bukan lagi sebuah anomali.
Di tingkat global, dinamika ini juga bersinggungan dengan kekerasan berbasis gender. Wacana neoliberal dalam budaya digital disebut turut melanggengkan kekerasan seksual dengan membingkainya sebagai bentuk kebebasan berekspresi individu, sehingga batas antara agensi seksual dan eksploitasi menjadi kabur (Downey et al., 2023). Identitas seksual digital pun bergerak dalam ketegangan antara pemberdayaan dan pelemahan diri, di mana individu bisa merasa memiliki kendali penuh atas presentasi dirinya, namun pada saat yang sama tetap tunduk pada logika pasar perhatian yang mengomodifikasi tubuh manusia (Döring et al., 2022).
Indonesia tidak terkecuali dari tren ini. Dengan jumlah pengguna media sosial yang sangat besar dan waktu penggunaan harian yang tinggi, generasi muda Indonesia terpapar arus konten serupa hampir setiap hari. Riset lokal menunjukkan bahwa perbandingan sosial yang muncul akibat intensnya penggunaan media sosial dapat memicu kelelahan psikologis melalui mekanisme rasa takut ketinggalan atau fear of missing out (Murniasih, 2023), sebuah pola yang sejalan dengan tekanan untuk menyesuaikan diri dengan standar penampilan dan seksualitas yang beredar di feed. Ditambah dengan norma sosial-religius yang cenderung konservatif, banyak remaja Indonesia mengalami disonansi antara nilai yang dianut di dunia nyata dan konten hiper-seksual yang mereka konsumsi secara diam-diam, sebuah kondisi yang berpotensi memunculkan rasa bersalah, kecemasan citra tubuh, hingga kebingungan identitas seksual.
Dari sudut pandang psikologi, seluruh dinamika ini berjalan seperti sebuah lingkaran umpan balik: algoritma mempromosikan konten seksual karena performanya tinggi, konten tersebut menormalkan objektifikasi tubuh, objektifikasi mendorong self-objectification pada pengguna, dan pengguna pun ikut memproduksi konten serupa agar tetap relevan di feed. Lingkaran ini sulit diputus tanpa intervensi yang disengaja, baik dari sisi individu melalui literasi media dan kesadaran diri, dari sisi keluarga melalui komunikasi terbuka mengenai tubuh dan seksualitas, maupun dari sisi kebijakan platform melalui transparansi algoritma dan perlindungan pengguna usia anak dan remaja.
Pada akhirnya, “terjebak dalam feed” bukan sekadar metafora. Ia menggambarkan kondisi psikologis yang nyata, yaitu individu yang perlahan kehilangan otonomi atas cara memandang tubuh dan seksualitasnya sendiri, dibentuk oleh sistem yang dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan, bukan kesejahteraan penggunanya. Memahami dinamika ini menjadi langkah pertama untuk membangun relasi yang lebih sehat dengan teknologi digital, satu geseran layar pada satu waktu.
Daftar Pustaka
Döring, N., Bhana, D., & Albury, K. (2022). Digital sexual identities: Between empowerment and disempowerment. Current Opinion in Psychology, 48, 101466. https://doi.org/10.1016/j.copsyc.2022.101466
Downey, L., Iacobucci, A., & Pyles, M. A. (2023). Sexualized violence and neoliberal discourse. Violence Against Women, 29(3–4), 527–547. https://doi.org/10.1177/10778012221094071
Murniasih, F. (2023). Sisi gelap media sosial: Mediasi perbandingan sosial pada hubungan fear of missing out dan social media fatigue. Jurnal Diversita, 9(1), 93–103. https://doi.org/10.31289/diversita.v9i1.8899
Plieger, T., Groote, O., Hensky, R., Hurtenbach, L., Sahler, S., Thönes, L., & Reuter, M. (2021). The association between sexism, self-sexualization, and the evaluation of sexy photos on Instagram. Frontiers in Psychology, 12, 716417. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2021.716417
Soriano-Ayala, E., Bonillo Díaz, M., & Cala, V. C. (2022). TikTok and child hypersexualization: Analysis of videos and narratives of minors. American Journal of Sexuality Education, 18(2), 210–230. https://doi.org/10.1080/15546128.2022.2096734
Wang, Y., Xie, X., Fardouly, J., Vartanian, L. R., & Lei, L. (2021). The longitudinal and reciprocal relationships between selfie-related behaviors and self-objectification and appearance concerns among adolescents. New Media & Society, 23(1), 56–77. https://doi.org/10.1177/1461444819894346