ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 66 September 2026
Dualisme Cyberloafing dalam Dunia Kerja: Strategi Coping dan Distraksi
Oleh:
Jade Christocie Apostella
Fakultas Psikologi, Universitas Kristen Maranatha
Polaritas Teknologi dalam Dunia Kerja yang Semakin Terdigitalisasi
Pernahkah terbayang seperti apa dunia kerja modern saat ini tanpa pengaruh signifikan dari teknologi? Hal tersebut mungkin terdengar sebagai sesuatu yang mustahil, mengingat seberapa pesat perkembangan teknologi terjadi di masa kini. Saat ini, hampir seluruh aktivitas manusia tidak dapat dipisahkan dari teknologi. Seluruh proses yang berkaitan dengan penggunaan teknologi digital dan informasi yang telah didigitalisasi untuk menciptakan dan menghasilkan nilai melalui cara-cara baru disebut sebagai digitalisasi (Gobble, 2018). Digitalisasi dalam dunia kerja tersebut diwujudkan melalui berbagai format dan bentuk, misalnya telepon genggam, surat elektronik (email), aplikasi telekomunikasi (Skype, Zoom, dan sebagainya), serta berbagai sistem otomatisasi kantor lainnya (Wang et al., 2020).
Mengetahui teknologi yang terus merambat secara ekstensif ke dalam kehidupan manusia, digitalisasi memang menawarkan begitu banyak kemudahan, khususnya dalam meringankan beban pekerjaan seseorang. Namun, pemanfaatan teknologi yang semakin intensif ini pun ternyata memunculkan berbagai konsekuensi yang cukup memprihatinkan, dan tentunya memerlukan perhatian. Manusia sering kali dihadapkan dengan pekerjaan-pekerjaan yang menuntut beban kognitif tinggi, pencarian literatur, serta tugas-tugas yang mungkin bersifat repetitif. Dengan adanya bantuan teknologi, berbagai pekerjaan tersebut dapat diselesaikan dengan mudah (Johnson et al., 2020). Sayangnya, utilitas teknologi tidak hanya berhenti pada hal-hal tersebut, melainkan juga dapat menghasilkan efek samping yang mungkin mendatangkan kerugian. Penggunaan teknologi yang eksesif ternyata menimbulkan peningkatan screen time dan perilaku sedentari pada lingkungan kerja yang dapat mengakibatkan berbagai permasalahan fisik serta permasalahan mental (Machav et al., 2017; dalam Johnson et al., 2020).
Setelah mengetahui berbagai dampak dari penggunaan teknologi tersebut, tampaklah suatu fenomena yang marak terjadi di kalangan para pekerja, yaitu cyberloafing. Cyberloafing didefinisikan sebagai perilaku karyawan yang secara sukarela menggunakan koneksi internet milik organisasi untuk kepentingan pribadi yang tidak memiliki kaitan dengan pekerjaan selama jam kerja (Lim, 2002; Lim & Teo, 2024; dalam Hendryadi, 2025). Menurut Pindek et al. (2018), berbagai studi telah menunjukkan cyberloafing sebagai sebuah Counterproductive Work Behavior (CWB). Namun, benarkah adanya bahwa cyberloafing secara definitif merupakan sebuah perilaku negatif?
Memahami Cyberloafing sebagai Sebuah Fenomena Kompleks
Dalam upaya untuk memahami cyberloafing sebagai sebuah fenomena yang kompleks, tentunya klasifikasi merupakan salah satu hal yang fundamental untuk dibahas. Blanchard dan Henle (2007) menggolongkan cyberloafing ke dalam dua tipe pokok, yaitu cyberloafing ringan (minor cyberloafing) dan cyberloafing berat (serious cyberloafing). Cyberloafing ringan terdiri atas beberapa perilaku yang dianggap masih dapat ditoleransi dalam lingkup tempat kerja. Beberapa perilaku di antaranya termanifestasi dalam bentuk mengirim dan menerima email pribadi, atau mengunjungi situs berita umum, keuangan, dan olahraga. Oleh karena itu, cyberloafing ringan masih dipandang sebagai sesuatu yang mendekati perilaku lain yang sangat umum dilakukan di tempat kerja.
Di sisi lain, terdapat pula cyberloafing berat yang sifatnya sudah jauh lebih serius dibandingkan dengan cyberloafing ringan. Cyberloafing berat terdiri atas perilaku-perilaku yang diyakini sebagai penyalahgunaan dan berpotensi menghadirkan pelanggaran-pelanggaran ilegal. Blanchard dan Henle (2007) menggolongkan cyberloafing berat sebagai sebuah perilaku yang menyimpang karena adanya kecenderungan yang bertentangan dengan norma kelompok dan lingkungan kerja. Dengan demikian, terlihat bahwa cyberloafing merupakan fenomena yang kompleks, sehingga oversimplifikasi terhadap cyberloafing tentunya akan sangat mengaburkan esensi yang terkandung di dalamnya.
Kontinuitas Perdebatan mengenai Paradoks Cyberloafing
Di tengah maraknya penggunaan internet dalam lingkup pekerjaan, salah satu kemungkinan yang memiliki probabilitas paling signifikan adalah terjadinya fenomena cyberloafing di antara para pekerja. Sampai saat ini, cyberloafing masih sangat sering dipandang sebagai sebuah perilaku kontraproduktif yang mungkin menjadi salah satu tantangan terbesar dalam dunia pekerjaan. Namun, nyatanya sejumlah studi terus berkembang, serta menekankan kemungkinan bahwa fenomena cyberloafing memiliki kompleksitas dan nuansa yang sebenarnya masih jauh dari apa yang selama ini diperlihatkan (Andel et al., 2019; Spector, 2024; dalam Hendryadi, 2025).
Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, berbagai perspektif baru mengenai cyberloafing pun semakin marak ditemukan dalam berbagai studi. Salah satu di antaranya yang paling kerap muncul adalah pandangan mengenai cyberloafing sebagai sebuah strategi coping. Strategi coping sendiri merupakan perubahan kognitif dan tindakan yang berlanjut untuk menghadapi dan mengelola berbagai tantangan eksternal maupun internal, yang dianggap melebihi kapabilitas seseorang untuk mengatasinya (Lazarus & Folkman, 1984). Dalam studi yang dilakukan oleh Pindek et al. (2018), sebagian besar karyawan menunjukkan persetujuan mereka bahwa cyberloafing lebih sesuai dikatakan sebagai strategi kebosanan dibandingkan Counterproductive Work Behavior (CWB).
Ketika seseorang mengalami kebosanan dalam bekerja, lebih besar kemungkinannya dalam melakukan cyberloafing. Selain itu, cyberloafing pun dikonseptualisasikan sebagai mekanisme dalam mengatasi kebosanan yang menjadi konsekuensi negatif signifikan terhadap well-being seseorang (Pindek et al., 2018). Tidak hanya sampai di sana, Hasanah (2025) juga menyatakan bahwa, meskipun tidak signifikan, cyberloafing dapat dilihat sebagai strategi coping dalam memengaruhi keseimbangan hidup dan kerja (work-life balance). Maka dari itu, dualisme cyberloafing sebagai strategi coping dan distraksi merupakan sebuah fenomena faktual yang tentunya layak mendapatkan atensi untuk dikaji lebih lanjut.
Mengeksplorasi Alternatif dalam Menyikapi Dualisme Cyberloafing
Melihat banyaknya studi yang menunjukkan sisi dualitas dari fenomena cyberloafing, studi lebih lanjut untuk mengkaji permasalahan ini dapat dipastikan menjadi sebuah hal yang krusial dalam memahami kompleksitasnya. Hendryadi (2025), menyatakan bahwa masih banyak oversimplifikasi terhadap fenomena cyberloafing pada berbagai studi saat ini. Para peneliti pun harus bergerak dari melakukan kajian akan cyberloafing dengan memaksakan suatu konstruk teoretis tertentu ke penggabungan berbagai konstruk yang dapat menghasilkan kajian yang lebih komprehensif mengenai fenomena ini (Hendryadi, 2025). Ketika fenomena dualisme cyberloafing yang memiliki dua sisi sebagai strategi coping dan distraksi dalam dunia kerja dikaji tanpa memandang kompleksitasnya, hal ini akan mengaburkan makna yang sesungguhnya terkandung di dalam cyberloafing. Dengan adanya studi kausalitas dan inferensial atas dualisme cyberloafing, kemungkinan untuk melihat fenomena ini dengan hal-hal yang menjadi penyebab maupun akibatnya akan menjadi lebih komprehensif.
Cyberloafing yang juga memiliki perspektif sebagai sebuah strategi coping tentunya harus diberdayakan. Ketika perilaku cyberloafing dipandang sebagai perilaku adaptif, maka hal tersebut dapat membantu optimalisasi potensi seseorang untuk mencapai well-being, dan meningkatkan performa dalam pekerjaan mereka (Hendryadi, 2025). Dengan melihat fenomena ini sebagai sebuah paradoks, perilaku cyberloafing yang disebabkan dan mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan dalam lingkungan kerja tentunya akan dapat ditanggulangi. Penyusunan konstruk yang komprehensif pun akan sangat membantu menyikapi dualisme cyberloafing sebagai strategi coping dan distraksi, karena menutup mata akan ini berpotensi memperbesar miskonsepsi yang mungkin telah ada.
Daftar Pustaka
Blanchard, A. L., dan Henle, C. A. (2007). Correlates of different forms of cyberloafing: the role of norms and external locus of control. Computers in Human Behavior 24 (2008) 1067–1084. DOI: 10.1016/j.chb.2007.03.008
Gobble, M. A. M. (2018). Digitalization, digitization, and innovation. Research-Technology Management, 61:4, 56-59, DOI: 10.1080/08956308.2018.1471280
Hasanah, A. (2025). Hubungan antara job burnout dan cyberloafing dengan work-life balance di lingkungan kerja: studi empiris pada karyawan perusahaan jasa di kebumen. Journal of Economics and Business UBS, Vol. 14 No. 3. e-ISSN: 2774-7042 p-ISSN: 2302-8025.
Hendryadi. (2025). Cyberloafing: a systematic literature review. Vol 11, No. 2, 2025, pp. 179-196. DOI: https://doi.org/10.36406/jmstei.v11i2.309
Johnson, A., et al. (2020). A review and agenda for examining how technology-driven changes at work will impact workplace mental health and employee well-being. Australian Journal of Management 2020, Vol. 45(3) 402–424. DOI: 10.1177/0312896220922292
Lazarus, R. S., dan Folkman, S. (1984). Stress, Appraisal, and Coping. New York: Springer Publishing Company. ISBN 0-8261-4191-9.
Pindek, S., Krajcevska, A., dan Spector, P. E. (2018). Cyberloafing as a coping mechanism: dealing with workplace boredom. Computers in Human Behavior 86 (2018) 147e152. DOI: https://doi.org/10.1016/j.chb.2018.04.040
Wang, B., Liu, Y., dan Parker, S. K. (2020). How does the use of information communication technology affect individuals? a work design perspective. Academy of Management Annals, DOI: https://doi.org/10.5465/annals.2018.0127