ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 66 September 2026
Seni Bahagia di Era Digital: Lensa Psikologi Positif untuk Keseimbangan Hidup-Kerja
Oleh:
Julia Fanysa Putri
Fakultas Psikologi, Universitas Kristen Maranatha
Menemukan Kebahagiaan Sejati di Tengah Padatnya Dunia Kerja Masa Kini
Beberapa dekade terakhir, perkembangan teknologi sangat menarik untuk dicermati. Kemajuan teknologi merubah dinamika kehidupan manusia modern. Gawai yang diciptakan untuk mempermudah pekerjaan, saat ini menjadi penghilang batasan antara urusan pekerjaan dan kehidupan pribadi. Tanpa disadari, pekerjaan tidak berhenti meskipun waktu bekerja telah habis. Pekerjaan kerap kali ada tanpa mengenal waktu sehingga menyita waktu istirahat yang dapat memperburuk kesehatan mental. Hal ini menjadi tantangan yang menuntut sebuah perubahan sudut pandang dalam menjaga kualitas kesehatan mental. Sejalan dengan studi yang dilakukan oleh Ramadhan dkk. (2026), ditunjukan bahwa keseimbangan hidup kerja dapat memengaruhi kondisi serta perilaku seseorang. Urgensi tersebut dapat dijawab melalui pandangan psikologi positif dalam pembentukan paradigma baru untuk menjaga serta mempertahankan kesejahteraan psikologis yang utuh. Psikologi positif berfokus dalam pemeliharaan dan optimalisasi potensi internal individu. Pendekatan ini melatih seseorang untuk memperkuat kapasitas mentalnya sejak dini. Sehingga fungsi psikologisnya tetap berjalan secara optimal sebelum terjadi gangguan emosional (Carr, 2022: Lopez & Snyder, 2002).
Kebahagiaan sejati (authentic happiness) bukan hanya kondisi pasif tanpa masalah, melainkan proses aktif dimana kita dapat mengenali potensi terbaik dari diri kita dan digunakan untuk menghadapi tantangan hidup, termasuk dunia kerja (Seligman, 2002). Sejalan dengan hal tersebut, istilah mengenai “keseimbangan hidup-kerja” atau yang sering dikenal sebagai work-life balance perlu untuk dimaknai ulang. Pada masa kini paradigma work-life integration perlu menggantikan pandangan work-life balance yang dimaknai secara konvensional (Friedman, 2014; Kossek & Lambert, 2005). Konsep ini memerlukan penyatuan antara fungsi profesional serta personal secara harmonis, sehingga performa karir tetap terjaga tanpa mengorbankan waktu istirahat.
Mengenal Ragam Kesenangan Hedonik Sesaat dan Kepuasan Eudaimonik yang Mendalam pada Manusia Modern
Ahli psikologi membagi orientasi hidup ke dalam dua ranah utama. Yang pertama kebahagian hedonik sedangkan yang staunya adalh kebahagiaan eudaimonik (Kyes & Haidt, 2003). Kebahagian hedonik berasal dari pencapaian kesenangan atau kepuasan instan yang sifatnya sementara sehingga cenderung cepat memudar. Salah satu contohnya adalah perasaan senang sesaat ketika postingan kita mendapat respon positif di media sosial. Kebahagiaan jenis ini memiliki tingkat kerapuhan yang sangat tinggi dikarenakan faktor pengendalinya berada dari luar individu. Jika seseorang menjadikan kebahagian hedonik sebagai poros utama dalam hidupnya, maka ia beresiko terjebak dalam lingkaran psikologis yang dikenal sebagai hedonic treadmill. Dimana individu secara konstan membutuhkan dosis stimulasi eksternal yang lebih kuat untuk mempertahankan kepuasan yang sama (Lopes et al., 2018).
Berbeda dengan hal tersebut, kebahagiaan eudaimonik memberikan fondasi psikologis yang jauh lebih kokoh. Kebahagiaan ini berfokus pada pencarian makna hidup, aktualisasi potensi diri, dan pertumbuhan batin yang optimal atau flourishing (Carr, 2022). Kebahagiaan jenis ini tidak ditentukan oleh validasi semu dari lingkungan luar, melainkan lahir dari rasa puas yang mendalam ketika seseorang berhasil mendedikasikan kekuatan karakter terbaiknya (signature strengths) untuk menyelesaikan tanggung jawab bagi kesejahteraan bersama (Seligman, 2002). Dalam dunia kerja, ketika seseorang berhasil menggeser fokus hidupnya dari kepuasaan hedonik menuju pencapaian eudaimonik, ia memiliki ketahanan mental yang lebih kuat dalam menghadapi tekanan dan tuntutan pekerjaan.
Melampaui Hustle Culture dan Digital Burnout: Seni Pengendalian Diri di Era Digital
Saat ini, kehadiran kecerdasan buatan (artificial intelligence) dapat meningkatkan efisiensi pekerjaan, namun di sisi lain menimbulkan kecemasan massal terkait karir masa depan. Tekanan psikologis ini menjadi katalis bagi berkembangnya hustle culture. Budaya kerja yang memiliki pemikiran bahwa nilai diri seseorang sepenuhnya diukur melalui tingkat kesibukan dan produktivitas harian mereka. Kondisi tersebut diperparah oleh paparan media sosial yang menjadi panggung untuk ajang pamer (flexing). Siklus ini dapat bermanifestasi menjadi digital burnout yaitu kelelahan fisik, emosional, serta mental akibat keterkaitan pada layar pekerjaan tanpa disertai waktu pemulihan yang memadai (Carr, 2022; Lopez & Snyder, 2002). Budaya always-on menuntut karyawan selalu siap sedia yang dapat memicu lonjakan hormon stres (kortisol) akibat pesan kerja yang masuk di luar jam kerja (Carr, 2022). Kondisi ini diperparah oleh kebiasaan doomscrolling sebelum tidur. Perilaku ini dapat memperburuk kualitas tidur, hilangnya kemampuan untuk fokus, serta menurunnya kemampuan deep work. Pada puncaknya, kehilangan makna kerja dapat memicu reaksi pertahanan diri berupa quiet quitting, yaitu perilaku bekerja hanya sebatas standar minimum demi menjaga sisa energi psikologisnya (Seligman, 2012).
Dalam menghadapi krisis digital yang berlebihan, psikologi positif menghadirkan teori well-being Seligman (2012) dengan basis model PERMA (Positive Emotion, Engagement, Relationship, Meaning, Accomplishment). Model PERMA dirancang untuk membawa individu menuju kondisi flourishing, dimana individu dapat berkembang secara utuh dan berfungsi secara optimal. Model ini menjadi panduan dalam melepaskan diri dari pencarian validasi yang semu lewat emosi otentik berbasis mindfulness. Selain itu, model ini juga menjadi panduan untuk membangun keterikatan fokus melalui deep work serta menjaga koneksi tatap muka micro-moments (Fredrickson, 2013). Selain itu, model PERMA mengarahkan kita untuk menemukan makna kerja (calling) sesuai pemikiran Viktor Frankl (2006). Model ini juga mengejar pencapaian internal yang terbebas dari trafficking followers demi kepuasan batin yang sejati. Namun, kelima pilar “Rumah Kesejahteraan” ini tidak akan berdiri kokoh tanpa fondasi penggerak berupa character strengths (Peterson & Seligman, 2004). Kebijakan seperti temperance, yaitu kemampuan mengendalikan diri dari dorongan yang berlebihan dapat mengatasi permasalahan distraksi modern. Temperance dioperasikan melalui self-regulation serta kehati-hatian (prudence) yang berperan sebagai “rem diri” yang matang. Kekuatan karakter inilah yang memberikan kendali penuh untuk menetapkan batas tegas pada kehidupan di era modern. Kekuatan ini secara sadar memutus interupsi notifikasi, menutup laptop, dan beristirahat penuh demi merawat ketahanan emosional serta kesehatan mental berkelanjutan.
Daftar Pustaka:
Frankl, Viktor E. (2006). Man’s Search for Meaning. Boston: Beacon Press.
Fredrickson, Barbara L. (2013). Love 2.0: How Our Supreme Emotion Affects Everything We Feel, Think, Do, and Become. New York: Hudson Street Press.
Kossek, E. E., & Lambert, S. J. (Eds.). (2005). Work and Life Integration: Organizational, Cultural, and Individual Perspectives. Lawrence Erlbaum Associates Publishers.
Lopez, Shane J., & Snyder, Charles R. (2002). The Oxford Handbook of Positive Psychology. New York: Oxford University Press.
Peterson, Christopher, & Seligman, Martin E. P. (2004). Character Strengths and Virtues: A Handbook and Classification. New York: Oxford University Press.
Ramadhan, A. N., Azis, R., & Syafar, M. (2026). Ketidakseimbangan kehidupan-kerja dan kesejahteraan psikologis terhadap keterikatan kerja dokter umum Makassar. Jurnal Ners, 10(2), 3755–3765. http://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/ners/article/view/3755
Friedman, S. D. (2014). Leading the Life You Want: Skills for Integrating Work and Life. Harvard Business Review Press.
Seligman, Martin E. P. (2002). Authentic Happiness: Using the New Positive Psychology to Realize Your Potential for Lasting Fulfillment. New York: Free Press.
Seligman, Martin E. P. (2012). Flourish: A Visionary New Understanding of Happiness and Well-being. New York: Free Press.Carr, Alan. (2022). Positive Psychology: The Science of Wellbeing and Human Strengths (3rd Edition). London: Routledge.
Snyder, C. R., & Lopez, S. J. (Eds.). (2002). Handbook of Positive Psychology. Oxford University Press.