ISSN 2477-1686  

 Vol. 12 No. 66 September 2026

Bukan Harga Mati: Menolak Determinisme
dalam Memahami Luka Batin

Oleh:

Garvin1,2 & Mikhael Dua2

1Departemen Psikologi, Fakultas Humaniora, Binus University

2Fakultas Psikologi, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

 

Beberapa waktu lalu, sebuah artikel media massa mengulas dampak fatherless, yakni ketiadaan sosok ayah bagi anak. Daftar dari dampak tersebut panjang dan menakutkan; sebut saja kontrol diri rendah, penyimpangan perilaku, penyalahgunaan zat, dan berbagai perilaku berisiko lainnya (Rosalina et al., 2025). Sekilas tampak masuk akal. Namun, timbul pertanyaan mendasar, apakah benar ketiadaan sosok ayah secara otomatis memicu serangkaian dampak tersebut? Apakah luka batin selalu berujung pada perilaku bermasalah?

 

Godaan berpikir sebab-akibat

Seringkali kita memahami trauma dan luka mental melalui rumus yang tersusun rapi: ada stimulus mengancam, muncul stresor, individu melakukan coping, lalu muncul hasilnya; pulih atau terganggu. Model ini tidak sepenuhnya salah dan sebenarnya berguna dalam memahami trauma. Masalahnya muncul ketika rumus itu diperlakukan sebagai hukum yang pasti.

Penderitaan manusia sesungguhnya unik, kontekstual, dan tertanam dalam kesadaran subjektif seseorang (Murphy & Harris, 2025). Ketika luka batin dipadatkan menjadi angka dan persamaan sistematis, luka batin itu kehilangan sisi manusianya. Gantt (2000) mengingatkan bahwa psikologi yang terlalu tunduk pada model tersebut hanya melihat penderitaan sebagai gejala, sehingga penderitaan itu sendiri kehilangan maknanya dan orang yang menderita hanya dibaca melalui kategori diagnostik yang sudah ditentukan lebih dulu. Label deterministik, dengan kata lain, berpotensi memberikan stigma, menghakimi masa depan seseorang, dan menghilangkan kebebasan individu untuk memaknai lukanya sendiri.

 

Luka batin tidak berjalan secara lurus

Cara berpikir deterministik, seperti pada paragraf awal tulisan ini, justru bertolak belakang dengan data. Penelitian menunjukkan bahwa trauma masa kecil memunculkan masalah perilaku terutama ketika ia terjadi dalam keluarga yang tidak berfungsi dengan baik (Hu et al., 2022). Artinya, bukan peristiwanya sendiri yang menentukan, melainkan konteks tempat peristiwa itu dihayati. Studi lain menemukan bahwa dukungan sosial yang memadai; baik itu dari pertemanan, tempat kerja, maupun pasangan  dapat meredam dampak jangka panjang kekerasan masa kecil (Lee et al., 2022).

Teori ekologis Bronfenbrenner (1994) membantu menjelaskan mengapa demikian. Manusia bukan entitas yang terisolasi, melainkan hidup dalam lapisan-lapisan yang saling berinteraksi: (1) keluarga dan sekolah (mikrosistem), (2) hubungan antarlingkungan terdekat (mesosistem), (3) lingkungan orang-orang signifikan seperti tempat kerja orang tua (eksosistem), (4) nilai budaya dan kondisi sosial-politik (makrosistem), (5) serta dimensi waktu (kronosistem) (Vélez-Agosto et al., 2017). Seorang anak bisa mengalami pengalaman buruk di rumah, tetapi bila ia menemukan guru atau teman yang menopangnya, peluangnya untuk tumbuh sehat tetap terbuka lebar.

 

Ketika dunia runtuh…

Fenomenologi menawarkan cara memahami mengapa jalur trauma begitu beragam. Husserl (dalam Dua, 2021) memperkenalkan konsep lebenswelt atau dunia-kehidupan: setiap orang hidup dalam dunia yang tidak netral, melainkan dirangkai melalui pengalaman, relasi, dan nilai yang dihayati secara langsung.

Trauma dan luka batin adalah runtuhnya dunia-kehidupan itu. Dunia yang semula bermakna menjadi asing dan yang semula akrab menjadi mengancam (Zahavi, 2019). Individu yang mengalami kekerasan atau pengkhianatan tidak sekadar menghadapi stresor, melainkan kehilangan orientasi eksistensial (van Deurzen, 2012). Karena manusia hidup dalam lingkungannya masing-masing, dampak guncangannya pun berbeda, dan cara memulihkannya kembali mungkin tidak seragam.

 

Luka Batin dan “Psikologi-Kita”

Sebagian besar teori yang memprediksi nasib anak tanpa ayah tumbuh dari konteks Barat yang individualistik, tempat keluarga inti dianggap sebagai penopang utama, bahkan kadang satu-satunya. Bila sang ayah absen, maka satu tiang penyangga pun runtuh, dan keruntuhan itu berdampak besar bagi kehidupan sang anak.

Namun pandangan itu tidak sesuai dengan konteks kita di Indonesia. Seorang anak Indonesia jarang tumbuh hanya di antara ayah dan ibu. Ada kakek dan nenek, paman dan tante, sepupu, bahkan tetangga maupun sahabat dari orang tua yang peduli bagaikan saudara sendiri. Jaring penopangnya jauh lebih tebal, dan ketika satu simpul lepas, simpul lain kerap menahan.

Fuad Hassan (2014) menolak gagasan bahwa psikologi Indonesia cukup mengimpor teori dari luar. Beliau mengusulkan “psikologi-kita”, psikologi yang berakar pada pengalaman manusia Indonesia sebagai makhluk relasional; yang eksistensinya terjalin dengan sesama, alam, dan Tuhan. Manusia bukanlah "aku" yang berdiri sendiri lalu kebetulan bertemu orang lain, sejak awal sudah merupakan "kita".

Konsekuensi dari pandangan ini adalah, rumus determinisme itu bukan hanya misleading secara filosofis, bahkan tidak dirancang untuk membaca kehidupan masyarakat Indonesia Menolak determinisme, pada akhirnya, adalah cara memperlakukan seseorang yang sedang menderita sebagai pribadi yang masa depannya masih terbuka; bukan sebagai kasus yang sudah selesai dibaca dan ditentukan konsekuensinya.

 

Daftar Pustaka

Bacon, H. R. (2022). The intersubjective responsibility of durational trauma: Contributions of Bergson and Levinas to the philosophy of trauma. Continental Philosophy Review, 55(2), 159–175. https://doi.org/10.1007/s11007-021-09556-7

Bronfenbrenner, U. (1994). Ecological model of human development. In International Encyclopedia in Education (pp. 37–43). Elsevier. https://doi.org/10.4324/9780203730386-13

Dua, M. (2021). Radical Reflection in Human Sciences, Calvin Schrag’s Epistemological Proposal. Foundations of Science, 26(3), 487–501. https://doi.org/10.1007/s10699-020-09693-x

Gantt, E. E. (2000). Levinas, psychotherapy, and the ethics of suffering. Journal of Humanistic Psychology, 40(3), 9–28.

Hassan, F. (2014). Psikologi-kita & eksistensialisme: Pengantar filsafat barat, berkenalan dengan eksistensialisme, kita dan kami. Komunitas Bambu.

Hu, M., Xu, L., Zhu, W., Zhang, T., Wang, Q., Ai, Z., & Zhao, X. (2022). The Influence of Childhood Trauma and Family Functioning on Internet Addiction in Adolescents: A Chain-Mediated Model Analysis. International Journal of Environmental Research and Public Health, 19(20). https://doi.org/10.3390/ijerph192013639

Lee, J. Y., Stewart, R., Kang, H. J., Kim, J. W., Jhon, M., Kim, S. W., Shin, I. S., & Kim, J. M. (2022). Childhood Abuse, Social Support, and Long-Term Pharmacological Treatment Outcomes in Patients With Depressive Disorders. Frontiers in Psychiatry, 13(February), 1–12. https://doi.org/10.3389/fpsyt.2022.803639

Murphy, R., & Harris, B. (2025). Can current post-traumatic growth models capture the lived experience of life with a fluctuating chronic illness? Towards a new model. British Journal of Health Psychology, 30(3), 1–21. https://doi.org/10.1111/bjhp.70003

Rosalina, M. P., Krisna, A., & Judith, M. P. (2025). Mereka yang kehilangan sosok ayah alami gangguan psikologis. Kompas. https://www.kompas.id/artikel/gangguan-psikologis-mengancam

van Deurzen, E. (2012). Existential counselling and psychotherapy in practice (3rd ed.). Sage Publications. https://doi.org/10.4135/9781473914773

Vélez-Agosto, N. M., Soto-Crespo, J. G., Vizcarrondo-Oppenheimer, M., Vega-Molina, S., & García Coll, C. (2017). Bronfenbrenner’s Bioecological Theory Revision: Moving Culture From the Macro Into the Micro. Perspectives on Psychological Science, 12(5), 900–910. https://doi.org/10.1177/1745691617704397

Zahavi, D. (2019). Phenomenology: The Basics. Routledge.