ISSN 2477-1686
Vol. 1., No. 2, November 2015

Ardiningtiyas Pitaloka

Kehebohan transportasi umum berbasis aplikasi ternyata bukan hanya karena terobosan teknologi dan pro-kontra tentang ‘definisi’ transportasi umum. Pertengahan tahun 2015 ini, masyarakat pengguna teknologi informasi seakan berlomba mendapatkan transportasi murah bahkan gratis, memanfaatkan masa promosi.

Transportasi umum sepeda motor atau dikenal dengan ojek tentu tidak asing lagi di Indonesia, tidak hanya di kota besar. Beberapa daerah bahkan hanya bisa ditembus menggunakan moda transportasi ini. Ketika sepeda motor sedang banyak dituduh sebagai biang kesemrawutan lalu lintas di ibukota, juga beberapa kota besar lain, muncullah sambutan sebagian masyarakat terhadap layanan ini. Tanpa kita sadari, sebenarnya hal ini menjadi paradoks tersendiri.

Kita mendambakan adanya transportasi umum-massal yang aman dan nyaman, dalam hal ini adalah moda transportasi seperti bus, kereta api dalam kota dan mobil angkutan kota. Dalam 2-3 tahun terakhir mulai terlihat usaha serius kereta api dalam kota atau yang dikenal dengan kereta listrik atau KRL atau kini commuter line, meningkatkan pelayanannya sehingga rata-rata jumlah penumpang di tahun 2014 pun menembus angka 200 juta dengan rata-rata 700 ribu penumpang setiap harinya (Pramita,2015).

Selain kereta listrik yang mampu menampung penumpang secara massal dan mengurangi kemacetan, transportasi bus pun sangat diperlukan. Buruknya sistem dan fasilitas transportasi umum ini yang mendorong masyarakat di wilayah Jabodetabek lebih memilih kendaraan pribadi, meski seringkali harus ‘parkir panjang’ dalam perjalan menuju dan dari tempat kerja. Di tengah pro-kontra, pemerintah provinsi DKI Jakarta telah resmi memulai pembangunan jalan layang khusus untuk bus Transjakarta koridor 13 yang direncanakan akan selesai dalam dua tahun (Ratna,2015). Usaha ini patut mendapatkan apresiasi dan pemantauan terus menerus dari berbagai pihak.

Penyelesaian masalah ‘mandiri’

Jika mau mengakui, derasnya kendaraan beroda dua, baik pribadi hingga komersil (baca=ojek pangkalan maupun ojek berbasis aplikasi) merupakan penyelesaian masalah transportasi ‘mandiri’ masyarakat.

Terlepas dari tuduhan atau dugaan ‘mental konsumtif’ negara ini sehingga kendaraan beroda dua pun membanjiri jalan dan tidak jarang menambah ruwet kemacetan. Jalan keluar inilah yang diambil oleh sebagian masyarakat. Pemikiran bahwa sepeda motor akan lebih cepat tiba di tempat kerja menjadi jalan pembuka membludaknya pemotor di jalanan ibukota. Masalah dan jalan keluar ini pula yang menjadi peluang hadirnya ojek berbasis aplikasi. Ojek menjadi jalan keluar dan jalan pintas kemacetan ibukota!

Yang menarik dan memprihatinkan adalah munculnya penolakan sesama pelaku bisnis transportasi, sehingga terjadilah konflik terbuka antara  ojek pangkalan versus ojek berbasis aplikasi. Pada beberapa pangkalan ojek kompleks perumahan, mereka jelas membentangkan spanduk penolakan (Aulia,2015). Penolakan ini pun tidak hanya sekedar tulisan, karena telah tercatat dalam beberapa berita, seperti salah satunya di kawasan Bintaro (Wiyanti,2015). Bahkan wilayah UI Depok dianggap sebagai kawasan yang paling ditakuti pengemudi Go-Jek karena adanya insiden pemukulan oleh ojek pangkalan, sehingga hanya berani mengantar sampai gerbang kampus  (Santosoon,2015). Penolakan (perlawanan) ojek pangkalan ini di antaranya karena penurunan omset dan merasa ojek online mengambil penumpang (di wilayah) mereka (Rosmayanti,2015).

Siap Memasuki Era Kompetisi?

Fenomena ini menyiratkan pertanyaan tentang kompetisi: kesiapan atau kemauan. Bukankah perlawanan yang ditampilkan dalam fenomena ojek pangkalan versus ojek online seakan mengamini peribahasa yang telah kita kenal: “Buruk Muka, Cermin Dibelah” ?

Kita yang merasa sulit atau enggan meningkatkan diri sendiri hingga lebih memilih menyalahkan dan menghentikan langkah pihak yang lain (kompetitor). Penolakan ini seolah menegaskan kekuasaan atas teritori –jangan ambil penumpang kami, tapi di saat yang sama merupakan pengakuan kekalahan dan kemenangan kompetitor- kalian lebih bagus dari kami.

Sebagian mungkin akan membela dengan konteks kemampuan finansial atau keahlian para ojek pangkalan dalam memanfaatkan teknologi. Pertanyaannya, apakah ini bukan gunung es dalam masyarakat kita? Alih-alih meningkatkan diri, menyalahkan kehebatan pihak (lawan) lain. Pertanyaan ini melintas karena perlawanan semacam ini tidak hanya terjadi di bisnis transportasi akar rumput yang memasyarakat seperti ojek, melainkan juga di level korporasi yakni perusahaan taksi.

Tanpa bermaksud membela salah satu merk taksi di Indonesia, berita penolakan terhadap salah satu armada taksi yang berasal dari Jakarta telah terjadi sejak beberapa tahun lalu hingga saat ini. Penolakan mulai ramai ketika taksi Bluebird akan masuk ke Bandung di tahun 2006 (detiksNews,2006),hingga akhir tahun ini di beberapa kota lain di Indonesia, seperti di Batam (Batampos.co.id,2014) juga Makasar (Tribun-Timur.com,2015). Pada satu sisi, kita tentu ingin agar perekonomian daerah kuat dengan dukungan pemerintah terhadap pengusaha lokal. Akan tetapi, penolakan yang seringkali mengatasnamakan ‘menurunkan pendapatan’ menyiratkan fenomena yang tidak jauh berbeda dengan konflik ojek pangkalan dan ojek online.

Beragam eksperimen maupun studi dalam psikologi memang telah membuktikan bahwa kehadiran pihak lain mampu memicu performa atau kinerja.  Ini pun tercermin dalam semangat kompetisi ojek pangkalan maupun perusahaan taksi lokal ketika menyadari kehadiran pihak lain (kompetitor).

Tantangannya adalah bagaimana agar semangat kompetisi ini dapat terwujud secara sehat? Pertanyaan yang mungkin terdengar klise namun tetap tak boleh diabaikan seiring perkembangan sosial di Indonesia...

Referensi:

Aulia,M.Rodhi (2015) Spanduk Tengkorak Larang Go-Jek dan GrabBike Beroperasi di Pancoran. Metronewstv.com, 11 Juli 2015 10:33 wib http://news.metrotvnews.com/read/2015/07/11/412037/spanduk-tengkorak-larang-go-jek-dan-grabbike-beroperasi-di-pancoran diunduh 12 September 2015

Batampos.co.id (2014) Penolakan Armada Baru Blue Bird Disesali Pengusaha. Rabu, 19 Februari 2014 - 06:02 WIB http://batampos.co.id/19-02-2014/penolakan-armada-baru-blue-bird-disesali-pengusaha/ diunduh 12 September 2015

detikNews (2006) Sudah 4 Mobil Blue Bird di Bandung yang Dirusak. detikNews, Selasa 11 Apr 2006, 15:09 WIB  http://news.detik.com/berita/573863/sudah-4-mobil-blue-bird-di-bandung-yang-dirusak, diunduh 12 September 2015

Pramita,Dini (2015) Pengguna KRL Commuter Line Tembus 200 Juta. Tempo.co.,Selasa, 03 Februari 2015, 11:51 WIB. http://metro.tempo.co/read/news/2015/02/03/083639536/pengguna-krl-commuter-line-tembus-200-juta diunduh 12 September 2015

Ratna,Heppy (2015) DKI mulai pembangunan jalan layang khusus Transjakarta. Antaranews.com, Selasa, 10 Maret 2015 http://www.antaranews.com/berita/484410/dki-mulai-pembangunan-jalan-layang-khusus-transjakarta diunduh 12 September 2015

Rosmayanti, Dian Riski (2015) Ojek Pangkalan Melawan. Harnas.co.,Senin, 31 Agustus 2015 11:35 WIB http://www.harnas.co/2015/08/31/ojek-pangkalan-melawan, diunduh 12 September 2015

Santosoon,Audrey (2015) UI Depok Jadi Wilayah Paling Ditakuti Driver GO-JEK. Liputan6.com, 06 Jul 2015 at 14:01 WIB http://news.liputan6.com/read/2266746/ui-depok-jadi-wilayah-paling-ditakuti-driver-go-jek, diunduh 12 September 2015

Tribun-Timur.com (2015) Besok Asosiasi Taksi Gelar Demo Setahun Penolakan Blue Bird Rabu, 15 April 2015 21:26 http://makassar.tribunnews.com/2015/04/15/besok-asosiasi-taksi-gelar-demo-setahun-penolakan-blue-bird diunduh 12 September 2015

Wiyanti,Sri (2015) GoJek dan ojek pangkalan ribut di Bintaro. Merdeka.com, Sabtu, 22 Agustus 2015 00:49 http://www.merdeka.com/peristiwa/gojek-dan-ojek-pangkalan-ribut-di-bintaro.html, diunduh 12 September 2015

http://issn.pdii.lipi.go.id/data/1446201810.png