Kembar empat dan semuanya mengalami gangguan jiwa?? Memangnya ada?? Ya, ini adalah peristiwa langka. Menurut Rosenthal -seorang peneliti-- kejadian ini hanya terjadi satu kali dari 1,5 juta kelahiran

The Genain Quadruplets merupakan fenomena unik dan langka di dunia kesehatan. Kembar empat Genain merupakan sebutan bagi empat orang bersaudara, yang bukan hanya kembar identik, namun juga seluruhnya mengidap Skizofrenia. Skizofrenia adalah gangguan mental yang ditandai adanya perpecahan antara pikiran, emosi, dan perilaku pd penderita. Gangguan ini memiliki ciri khas hadirnya delusi dan halusinasi. Delusi merupakan keyakinan keliru yg dihayati & tetap dipertahankan meskipun dihadapkan pada cukup bukti tentang kekeliruannya. Jenis delusi beranekaragam. Salah satu contohnya adalah penderita bisa saja merasa ada alien yg datang dan menanamkan elektroda di kepalanya. Sementara itu, halusinasi merupakan persepsi keliru yang dialami panca indra meski sebenarnya tidak terdapat stimulus yang nyata. Halusinasi yang biasa terjadi adalah penderita merasa mendengar suara yang menyuruhnya untuk melakukan bunuh diri. Selain delusi dan halusinasi, penderita memiliki kontak yang amat buruk dengan realita. Mereka tidak sadar dan tidak memiliki kontrol atas apa yang dilakukannya.

Keberadaan keempat gadis kembar Genain tersebut amat krusial karena menunjukan betapa besarnya pengaruh genetik terhadap timbulnya Skizofrenia. Sejak tahun 1950an, The Genain Sister menjalani perawatan di US National Institute of Mental Health dan menjadi fokus penelitian intensif yang dilakukan oleh para ahli.

Kembar empat Genain lahir secara bersamaan pada 14 April 1930. Genain sendiri adalah sebuah nama fiktif. Kata ini diambil dari bahasa Yunani yang berarti "kelahiran yang mengerikan". Nora, Iris, Myra, dan Hester, demikian nama samaran yang diberikan para peneliti kepada keempatnya. Huruf depan mereka mewakili akronim NIMH -The US National Institute of Mental Health - tempat mereka menjalani perawatan. Hester, si bungsu, merupakan The Genain Sisters  dengan kondisi yang paling parah. Ketika lahir, berat badannya paling rendah bila dibandingkan saudaranya yang lain. Ia juga yang paling lambat berkembang. Ketika duduk di kelas 2 SMA, ia dikeluarkan dari sekolah. Ia juga tak pernah bekerja di luar rumah sebab sejak usia 18 tahun ia mengalami gejala Skizofrenia kronis tanpa remisi. Berdasarkan tes neurokognisi yang dilakukan NIMH, Hester (dan juga Nora) diketahui mengalami gangguan pada otak.

Nora, si sulung, merupakan yang terbaik diantara keempatnya. Ia memiliki IQ tertinggi dan yang pertama memperoleh pekerjaan. Pada usia 22 tahun ia menjalani perawatan psikiatri karena mengalami halusinasi dan delusi. Sejak saat itu ia tak pernah lagi dapat hidup secara mandiri atau menekuni suatu pekerjaaan. Mira, anak ketiga, merupakan satu-satunya gadis Genain yang menikah dan memiliki anak. Meski sempat "bermasalah" di pertengahan usia 20an, Mira tak mengalami halusinasi dan delusi hingga pertengahan usia 40an. Di kemudian hari, Mira mendapatkan remisi (berkurangnya gejala Skizofrenia). Iris, anak kedua, menjalani perawatan psikiatri di usia 22 tahun. Ia mengalami halusinasi, delusi, dan abnormalitas motorik.

Keluarga Genain memiliki riwayat gangguan jiwa yang cukup panjang. Mr. Genain, ayah si kembar, selain pengangguran juga mudah menarik diri dan sensitif. Mr. Genain amat ketat menjaga si kembar, termasuk mengantar jemput dan makan siang bersama pada waktu yang sama setiap hari hingga keempatnya memasuki usia 20 tahun. Sedangkan sang ibu, Mrs. Genain, memang menunjukan perilaku skizofrenia yang lebih ringan namun ia mengasuh keempat putrinya dengan ketat. Nenek si kembar (atau ibu dari ayah mereka) di akhir hidupnya berulang kali mengancam bunuh diri dan membunuh suaminya. Paman dan bibi si kembar (saudara dari ayah mereka) juga menunjukan perilaku gangguan mental ; seorang  meniduri anak gadisnya sendiri yang berusia 13 tahun, seorang lagi menjadi alkoholik, dan seorang lagi mengalami halusinasi pendengaran. Si kembar juga tak diizinkan mengunjungi atau menerima kunjungan teman.

Para ahli berpendapat terjadinya Skizofrenia tidak dapat dijelaskan hanya dari faktor tunggal -entah itu faktor biologis atau faktor psikososial saja. Sejauh ini teori yang dipandang cukup komprehensif untuk menjelaskan Skizofrenia adalah diatesis-stres. Teori ini mengintegrasikan faktor biologi dan psikososial. Teori diatesis stres menyatakan seseorang mungkin memiliki kerentanan spesifik (diatesis), yang apabila diaktifkan oleh pengaruh stres memungkinkan berkembangnya Skizofrenia. Pada teori diatesis stres, faktor kerentanan (diatesis) atau stres mungkin saja bersifat biologis (seperti infeksi), psikososial (misalnya kematian orang terdekat), atau keduanya. Semakin besar kerentanan seseorang maka stresor kecilpun dapat menyebabkan Skizofrenia. Semakin kecil kerentanan maka butuh stressor yang besar untuk membuatnya menjadi penderita Skizofrenia.

*Artikel ini pernah dipublkasikan di Kompasiana dan sejumlah blog lain, serta menjadi bagian dalam buku “Kebetulan yang Menyenangkan” (dicetak secara mandiri, berdasarkan permintaan).

Referensi:

Butcher, J.N., Hooley, J.M., & Mineka, S.  (2009). Abnormal Psychology. Boston: Allyn & Bacon.

Kaplan, B., & Sadock, V.(2008). Synopsis of Psychiatry. Philadephia: LWWe