ISSN 2477-1686

Vol.3. No.8, Agustus 2017

A Happy Life is an Eudaimonic Life

Selviana

Fakultas Psikologi, Universitas Persada Indonesia YAI

Pendahuluan

Semua orang mendambakan kehidupan yang bahagia dan untuk mencapai kebahagiaan itu maka seseorang akan cenderung melakukan berbagai hal untuk mengejar apa yang disebutnya kebahagiaan, mungkin saja kebahagiaan itu dalam bentuk materi, pendidikan, pekerjaan, bidang usaha ataupun pasangan. Namun, bukankah hidup tidak selalu berjalan mulus? Bagaimana bila banyak masalah terjadi dalam hidup? Bagaimana dengan orang-orang yang merasa bahwa yang terjadi dalam hidupnya kebanyakan adalah penderitaan? Bukankah setiap orang berhak untuk bahagia? Lalu bagaimana bisa tetap berbahagia meskipun hidup bagiakan langit yang penuh awan pekat dan gelap? Bagaimana bisa tetap bahagia meskipun hidup penuh air mata? Rasanya masih ada banyak pertanyaan yang perlu dijawab untuk menjelaskan tentang kebahagiaan.

Konsep Eudaimonia

Ada banyak teori yang dapat menjelaskan tentang konsep kebahagiaan. Seorang motivator pernah mengatakan bahwa kunci kebahagiaan adalah pandai mengucap syukur. Semakin banyak kita mengucap syukur, maka kita akan semakinĀ  bahagia. Semakin kita banyak mengucap syukur, maka kita akan semakin dapat menikmati hidup dan semakin banyak kita mengucap syukur, maka kita akan menjadi lebih baik dan lebih positif.Pandangan tersebut tidaklah salah, bahkan secara pribadi, penulis melatih diri terus-menerus untuk pandai mengucap syukur dalam segala hal. Selain itu, seorang rekan pernah berkata kepada penulis bahwa bahagia itu adalah saat apa yang diharapkan dapat terwujud. Pandangan ini juga tidak salah, karena pasti setiap orang akan berbahagia kalau harapan-harapannya dapat terwujud, namun bila bahagia hanya sejauh harapan yang terwujud, bagaimana bila harapan tidak terwujud? Akankah tetap dapat berbahagia?

Salah satu teori yang menarik hati penulis tentang kebahagiaan yaitu konsep Eudaimonia. Aristoteles (dalam Arif, 2016) mengemukakan sebuah konsep unik tentang kebahagiaan, yang di sebutnya Eudaimonia yaitu tentang hidup yang dijalani dengan baik. Dalam pandangan ini, Aristoteles menjelaskan bahwa hidup yang baik bukanlah hidup yang bergelimang kesenangan dan kenikmatan, melainkan hidup yang ditandai oleh kesadaran dan direfleksikan dalam kehidupan nyata sehingga memiliki makna dan kebijaksanaan, serta hidup dari pribadi-pribadi unik yang didayabaktikan dengan penuh bagi dirinya sendiri dan terlebih bagi orang lain. Jadi, pribadi yang berbahagia menurut Aristoteles bukanlah pribadi yang terhindar dari segala kesulitan ataupun penderitaan, serta menikmati bermacam-macam kesenangan yang tersedia di dunia ini, melainkan pribadi yang mampu mengolah hidupnya dengan baik dan melakukan tindakan-tindakan konkret (kerja keras), sehingga menjadi bakti/persembahan bagi diri sendiri dan orang lain. Dengan kata lain, untuk menjadi bahagia, seseorang tidak harus berupaya tampil sesempurna mungkin disukai banyak orang, cukup menjadi yang terbaik bagi diri sendiri dan menjadi berkat banyak orang.

Penutup

Berdasarkan konsep Eudaimonia, kebahagiaan tidak di ukur dari berapa banyak gelar pendidikan yang diraih seseorang, juga bukan berapa banyak harta yang dimiliki, bukan juga tentang karier dan jabatan yang tinggi, tidak di ukur berdasarkan status sosial tertentu maupun gaya hidup yang mewah, meskipun tidak salah bila ada hal-hal tersebut yang dapat dimiliki dan hal itu juga dapat membuat seseorang berbahagia, namun justru konsep ini menjelaskan tentang sesuatu yang sebetulnya sangat sederhana untuk menjelaskan tentang kebahagiaan. Seseorang dapat bahagia asalkan dapat menjalani hidup dengan baik.Cukup menjadi seseorang yang memahami makna hidupnya, memiliki nilai-nilai hidup dan melakukan yang terbaik untuk dirinya terlebih bagi orang lain, berdamai dengan diri sendiri dan orang lain,sehingga hidupnya menjadi sangat bermanfaat dalam bidang-bidang tertentu yang ditekuninya. Selamat berkarya dan berbahagia.A Happy Life is an Eudaimonic Life.

Referensi:

Arif, Iman Setiadi. (2016). Psikologi positif pendekatan saintifik menuju kebahagiaan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh