ISSN 2477-1686

Vol.3. No.8, Agustus 2017

Saya Marah, Apa itu Sebuah Masalah? 

Pradipta Christy Pratiwi

Fakultas Psikologi, Universitas Pelita Harapan

Marah sebagai Emosi Universal

Pada situasi sehari-hari, kita tidak dapat terhindar dari masalah. Suatu kejadian tentu dapat mendatangkan suatu dampak, baik pada pikiran dan emosi kita. Bayangkan ilustrasi berikut ini. Suatu hari seorang penghuni kos sedang berusaha memasang tambahan engsel pintu kamarnya. Sudah beberapa hari, ia meminta pemilik kos untuk memperbaiki kunci pintu namun tidak segera mendapat tanggapan. Ditengah ia memasang engsel pintu, pemilik kos datang dan menegurnya dengan nada tinggi. Pemilik kos tampak marah ditandai dengan verbal dan mimik mukanya. Penghuni kos menanggapi dan berusaha memberikan penjelasan dengan santai. Setelah pemilik kos pergi, penghuni kos ini mencurahkan isi hatinya melalui instant message kepada temannya, “Gila, gue punya bapak kos rese banget, kesel gue.” Dari ilustasi ini, siapakah yang dapat dikatakan marah?

Siapapun kita, baik pelajar, mahasiswa, karyawan, ibu rumah tangga, pengusaha, pedagang maupun lainnya, tentu pernah mengalami rasa marah. Sama halnya dengan bentuk emosi senang, sedih, takut maupun terkejut, semua orang dapat mengenali dengan mudah kondisi fisik dan ekspresi ketika sedang marah. Marah merupakan emosi yang universal, meskipun kita memiliki keunikan masing-masing dalam mengungkapkannya.Marah merupakan bagian dari mekanisme pertahanan diri dari manusia. Ketika kita mengalami ancaman, marah berfungsi sebagai energi untuk menyerang. Namun demikian, marah kadangkala juga sebagai perlawanan untuk menghindar (Gentry, 2007).

Kapan Marah menjadi Sebuah Masalah?

Sebenarnya emosi memiliki fungsi penting untuk manusia. Rasa takut mempersiapkan kita untuk menghindari bahaya sedangkan rasa marah mengarahkan kita untuk melawan hal yang mengancam diri. Ekspresi emosi menolong kita untuk mengkomunikasikan kebutuhan kita kepada orang lain, dan membantu kita untuk dapat memahami kebutuhan orang lain serta emosi mengarahkan kita pada suatu tindakan tertentu (Kalat, 2013). Penelitian menunjukkan bahwa ketika kita diganggu orang lain maka beberapa menit kemudian kita akan merasa marah terhadap orang tersebut. Hasil lainnya menyebutkan bahwa kita akan mudah merasakan marah ketika posisi berdiri sedangkan rasa marah akan berkurang ketika merebahkan tubuh (Harmon-Jones & Peterson, dalam Kalat, 2013).

Beberapa orang berpendapat jika kita marah, artinya itu sebuah masalah. Namun sebagian orang yang lain beranggapan bahwa selama kita dapat mengkomunikasikan marah, itu bukanlah suatu marah. Jika demikian, kapan marah dapat dikatakan menjadi sebuah masalah? Gentry (2007) menyebutkan bahwa marah harus dibedakan dari hostility dan aggression. Hostility merupakan suatu tindakan sinis, tidak percaya dan cenderung paranoid. Sedangkan aggression merupakan tipe perilaku yang ditandai dengan intensi melukai dan membahayakan orang lain. Rasa marah menjadi suatu masalah ketika menjadi toxic. Pengertian toxic ini memuat dua aspek, yaitu seberapa sering kita marah, apakah sifatnya episodik atau kronis. Semakin berlangsung lama maka rasa marah itu merupakan suatu masalah.  Kedua, seberapa intens kita marah, apabila semakin sering maka semakin bermasalah.

Beberapa variabel yang dapat mendorong kita pada rasa marah yang bersifat toxic (Gentry, 2007) seperti konsumsi obat-obatan (alkohol, kafein, nikotin dan obat-obatan sedatif), mengalami depresi, memiliki masalah dalam berkomunikasi, kemampuan memecahkan masalah yang rendah, mengalami krisis/ dalam kondisi stres, mudah menilai situasi atau orang lain secara tidak logis, mengalami kelelahan psikis secara konstan, tidak mempunyai dukungan sosial yang cukup, dan mudah menyalahkan situasi atau orang lain ketika mengalami kemalangan.

Pengelolaan Rasa Marah

Penanganan rasa marah sudah banyak diteliti dan ditangani oleh profesional psikologi. Intervensi yang dilakukan biasanya berupa terapi kognitif, terapi kognitif dan perilaku, terapi manajemen marah, terapi art atau dengan menggunakan terapi musik (Deffenbacher, dkk., 2000; Leibmann, 2008; Mackintosh, dkk., 2014). Dari beberapa jenis terapi, kita dapat menyimpulkan bahwa individu perlu mendeskripsikan komponen rasa marah yang meliputi komponen emosional, fisik, kognitif dan perilaku. Pemahaman komponen ini dapat dilakukan dengan cara-cara kreatif seperti teknik menggambar, melukis atau merangkai kata-kata (essay). Individu perlu memiliki keterampilan self-monitoring, yaitu menambah kesadaran diri terhadap reaksi dan metode yang ia gunakan ketika menghadapi situasi yang menimbulkan rasa marah. Selain menambah kesadaran dan pemahaman mengenai rasa marah yang dialami, sebaiknya individu juga dapat melakukan relaksasi. Relaksasi meliputi relaksasi pernafasan, meditasi, relaksasi progresif atau mendengarkan musik yang membuat kita menjadi lebih tenang.

Hal lain yang perlu kita perhatikan adalah untuk dapat mengelola rasa marah, kita membutuhkan dukungan dari orang lain. Dukungan itu dapat berupa (Gentry, 2007):

a.  Emotional support:kita membutuhkan orang yang memahami masalah yang sedang kita hadapi, memberikan kekuatan, dan penghiburan sehingga kita dapat mengelolanya.

b.    Informational support: apabila kita tidak mempunyai informasi yang cukup mengenai cara mengelola rasa marah, perlu bagi kita menambah pengetahuan dari orang di sekeliling kita. Saat ini begitu banyak sumber referensi psikologi yang bersifat praktis dan self-help.

c.  Tangible support: kadang kala kita membutuhkan pertolongan dalam bentuk intervensi dari orang lain. Misalnya, seorang ibu yang sangat marah pada anaknya yang masih berusia 5 tahun. Karena sangat kesal, kemudian ibu tersebut memukul dan menyeret anaknya. Seorang tetangga yang mengetahui kejadian tersebut lalu menggendong dan membawa pergi anak ini, menjauh dari ibunya yang sedang dalam kondisi emosi marah tidak terkontrol.

d.  Appraisal support: kita juga membutuhkan orang lain yang bersedia menyampaikan feedback dengan jujur mengenai rasa marah kita.

Referensi:

Deffenbacher, J. L., Dahlen, E. R., Lynch, R. S., Morris, C.D., & Gowensmith, W. N. (2000). An application of Beck’s cognitive therapy to general anger reduction. Cognitive Therapy and Research, 24(6), 689-697.

Gentry, W. D. (2007). Anger Management for Dummies. Canada: Wiley Publishing, Inc.

Kalat, J. W. (2013). Biological Psychology (12 ed.). Boston: Cengange Learning.

Liebmann, M. (2008). Art therapy and anger. Philadelphia: Jessica Kingsley Publishers.

 

Mackintosh, M. A., Morland, L. A., Kloezeman, K., Greene, C. J., Rosen, C. S., Elhai, J. D., & Frueh, B., C. (2014). Predictors of anger treatment outcomes. Journal of Clinical Psychology, 70(10), 905-913.

 

 

 

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh