ISSN 2477-1686

 

Vol.3. No.5, Mei 2017

Kekerasan dalam Pacaran: Fiksi atau Fakta?

Pradipta Christy Pratiwi

 

Fakultas Psikologi, Universitas Pelita Haparan (UPH)

Kebutuhan membangun relasi dengan orang lain tidak dapat terlepas dari kehidupan individu. Suatu relasi yang harmonis dan mendatangkan kebahagiaan, pasti menjadi dambaan bagi siapapun. Baik itu relasi keluarga, relasi pertemanan, relasi suami-istri, dan relasi pacaran. Pada usia perkembangan remaja hingga dewasa muda, relasi pacaran merupakan tugas perkembangan yang krusial. Relasi dengan orang lain tidak terlepas dari adanya konflik, begitu juga relasi pacaran. Kegagalan penyelesaian konflik dalam relasi pacaran dapat memicu timbulnya kekerasan dari pasangan.

Kekerasan Pacaran Kerap Kali Terjadi

Dewasa ini, mungkin istilah kekerasan dalam pacaran atau dating violence tidak lebih akrab di telinga masyarakat dibanding kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Namun demikian, suatu data CATAHU (Lembar Fakta Catatan Tahunan) menunjukkan bahwa pengaduan kekerasan dalam pacaran menduduki urutan kedua setelah KDRT di Indonesia (Komnas Perempuan, 2017), kekerasan terhadap istri 56% (5.784 kasus), disusul kekerasan dalam pacaran dengan persentase 21% sebanyak 2.171 kasus dan sisanya kekerasan mantan suami, kekerasan mantan pacar dan kekerasan terhadap pekerja rumah tangga. Tentu saja data ini diharapkan dapat semakin membuka mata bagi para remaja, dewasa muda, orang tua bahkan para praktisi psikologi dan pemerhati perempuan bahwa selain jenis kekerasan lainnya, kekerasan dalam pacaran adalah suatu fakta yang terjadi di sekitar kita.

Bentuk Kekerasan dalam Pacaran

Kekerasan dalam pacaran merupakan suatu fakta tersembunyi. Mengapa demikian? Masalah ini mungkin tidak disadari atau belum diketahui oleh individu yang mengalaminya. Individu yang mengalami kekerasan dalam pacaran biasa disebut survivor/penyitas. Kekerasan dalam pacaran juga termasuk kekerasan ranah personal sehingga terkadang sulit untuk dilakukan penanganan (Smedslund, 2011). Suatu kasus pada Maret 2017 yang ditangani oleh penulis, seorang klien remaja akhir mengeluh depresi dengan gejala-gejala seperti sering menangis tanpa sebab, merasa enggan bertemu dengan orang lain, merasa tidak lagi mengenal dirinya dan motivasi kuliah menurun. Penulis berusaha membantu klien untuk menemukan akar permasalahannya. Setelah menjalani konseling, klien memperoleh insight bahwa ternyata akar permasalahan dari kondisinya saat ini adalah ia telah terpapar kekerasan dalam pacaran selama 3 tahun. Klien mengaku bahwa sebelumnya ia tidak memahami apa itu kekerasan dalam pacaran, dan gejala-gejala yang dialaminya merupakan manifestasi dampak dari kesulitannya untuk keluar dari siklus kekerasan tersebut (Komunikasi Personal, April 2017).

Kekerasan dalam pacaran adalah berbagai bentuk kekerasan fisik, seksual, psikologis yang dilakukan oleh pasangan. Ada pula yang mendeskripsikan kekerasan dalam pacaran sebagai tindakan yang bertujuan untuk menyakiti pasangan secara fisik, agresi lisan, atau pemaksaan seksual (Breiding, 2015; Prospero & Vohra-Gupta, 2007). Menurut Walker, Tolman dan Rosen, dampak kekerasan dalam pacaran sangat kompleks. Individu yang mengalami kekerasan dari pasangannya dapat mengalami berbagai komplikasi baik secara fisik dan psikis. Hal tersebut juga dapat mengganggu pekerjaan dan pendidikan penyitas (dalam Shurman dan Rodriguez, 2006).

Korban Kekerasan dalam Pacaran

Apakah kekerasan dalam pacaran selalu terjadi pada perempuan? Beberapa penelitian mengungkapkan perempuan lebih banyak sebagai penyitas dan lak-laki sebagai pelakunya, hal ini dinilai berhubungan erat dengan konstruksi budaya patriarkhi di Indonesia. Namun tidak menutup kemungkinan laki-laki juga sebagai penyitas, biasanya laki-laki menjadi penyitas kekerasan psikis dimana perempuan mendominasi dalam pengambilan keputusan (Poerwandari dan Lianawati, 2010). Penelitian mengenai kekerasan dalam pacaran yang dilakukan oleh Pratiwi (2016) juga menunjukkan data adanya partisipan laki-laki yang mengalami kekerasan psikis dan fisik dari pasangannya.

Penanganan terhadap Kekerasan dalam Berpacaran

Melalui pemaparan diatas, penulis ingin mengajak kita semua untuk lebih aware mengenai bahaya kekerasan dalam pacaran melalui peran kita masing-masing, seperti psikoedukasi, menyediakan dukungan sosial dan penguatan terhadap komunitas. Psikoedukasi sebagai salah satu bentuk program preventif diperlukan agar tidak lagi bermunculan kasus-kasus yang baru. Selain itu, penulis merasa pentingnya pendampingan bagi para penyitas agar mampu keluar dari siklus kekerasan dan memperoleh hidup yang lebih sejahtera. Beberapa penelitian (Dannisworo, 2016; Smedslund, 2011) juga mengungkapkan bahwa penanganan terhadap pelaku juga diperlukan misalnya seperti program manajemen rasa marah, manajemen perilaku serta mengubah pandangan atau pola pikir pelaku terhadap perilaku berkekerasan.

 

Referensi:

Breiding, M. J., Basile, K. C., Smith, S. G., Black, M. C., Mahendra R. (2015). Intimate partner Violence Surveillance Uniform Definitions and Recommended Data Elements. Atlanta : National Center for Injury Prevention and Control. Diakses tanggal 30 Juni 2015. Dari http://www.cdc.gov/violenceprevention/pdf/intimatepartnerviolence.pdf

Dannisworo, C. A. (2016). Anger Management dengan Pendekatan Cognitive Behavioral Therapy untuk Mengelola Perasaan Marah dalam Hubungan Pacaran. Thesis. Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Komnas Perempuan. (2017). Lembar Fakta Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan Tahun 2017 Labirin Kekerasan terhadap Perempuan: Dari Gang Rape hingga Femicide, Alarm bagi Negara untuk Bertindak Tepat. Diakses tanggal 13 April 2017. Dari http://www.komnasperempuan.go.id/lembar-fakta-catatan-tahunan-catahu-komnas-perempuan-tahun-2017-labirin-kekerasan-terhadap-perempuan-dari-gang-rape-hingga-femicide-alarm-bagi-negara-untuk-bertindak-tepat-jakarta-7-maret-2017/.

Poerwandari, K. & Lianawati. (2010). Petunjuk Penjabaran Kekerasan Psikis: Untuk Menindaklanjuti Laporan Kasus KDRT. Depok: Program Studi Kajian Wanita, Program Pascasarjana Universitas Indonesia.

Pratiwi, C. P. (2016). Cognitive Behavior Therapy untuk Meningkatkan Self-esteem pada Dewasa Muda yang Mengalami Kekerasan dalam Pacaran. Thesis. Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Prospero, M. & Vohra-Gupta, S. (2007). Gender Differences in the Relationship Between Intimate Partner Violence Victimization and the Perception of Dating Situations Among College Students. Violence and Victims, 22 (4), 489-502.

Shurman, L. A., & Rodriguez, C. M. (2006). Cognitive-affective predictors of women’s readiness to end domestic violence relationships. Journal of Interpersonal Violence, 21 (11), 1417-1439.

Smedslund, G., Dalsbo, T.K., Steiro, A., Winvold, A., & Clench-Aas, J. (2011). Cognitive behavioral therapy for men who physically abuse their female partner (Review). The Cochrane Library: John Wiley & Sons, Ltd.

 

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh