ISSN 2477-1686

Vol.3. No.5, Mei 2017

Integrative Complexity: Dibalik PILKADA DKI 2017

Clara Moningka

Fakultas Psikologi, Universitas Pembangunan Jaya

Tidak seperti PILKADA DKI sebelumnya. Pilkada DKI 2017 merupakan momen yang ditunggu setiap orang dan tonggak demokrasi di Jakarta. Percaya atau tidak banyak orang termasuk saya pada PILKADA sebelumnya memilih karena menjalankan  kewajiban sebagai pemilih, dan cenderung tidak peduli terhadap konsekuensi pilihan. Siapapun Gubernur yang dipilih akan diterima dengan senang hati. PILKADA kali ini menorehkan banyak cerita, cerita perjuangan, cerita kebahagiaan, kepedihan, gagal move on, dan yang paling menyedihkan adalah cerita mengenai diskriminasi dan integrative complexity

Maraknya Isu saat PILKADA

Bagi saya sebagai pendidik, PILKADA DKI meninggalkan kekecewaan. Bukan karena ternyata pilihan saya tidak menang; toh selama ini saya juga tidak bekerja di Jakarta dan tidak terlalu merasakan kenyamanan Jakarta yang baru; hanya bisa menyaksikan lewat berita atau sosial media. Paling tidak saya bisa menikmati RPTRA (karena ada yang di dekat rumah) dan mendengar cerita atau obrolan sana-sini yang cenderung positif.  Bagi saya pribadi dan mungkin juga orang lain, kalah dan menang adalah konsekuensi dari sebuah pertandingan atau kompetisi (dalam hal ini kompetisi menjadi Gubernur), tetapi ketika momen tersebut diikuti oleh isu SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan); mendiskreditkan orang lain karena agama atau asal-usulnya; rasanya miris sekali. Saya sempat berpikir sepertinya  harus ada Sumpah Pemuda ke dua atau ada musuh besar bersama, dan kemudian kita bisa menjadi bangsa yang bersatu kembali.

Pada dasarnya, Sumpah pemuda dan Proklamasi kemerdekaan RI merupakan perubahan sosial yang mengajak bangsa kita untuk maju dan bersatu. Sayangnya pada titik dimana kita dianggap menjadi bagian dunia yang sudah modern ini kita kembali mengalami kemunduran. Saya sempat berpikir ada apa dengan masyarakat yang cenderung sensitif dengan isu tertentu, namun tanpa bisa berkaca apa yang sudah ia lakukan untuk orang lain atau bangsanya. Informasi yang ada diserap begitu saja tanpa dipahami dan diolah. Begitu mudahkah cara berpikir manusia? Sempat saya berdiskusi dengan beberapa peneliti di Indonesia mengenai hal ini..apa yang terjadi ketika orang terpelajar pun kemudian tidak dapat mengolah informasi dengan baik, bukannya melakukan klarifikasi namun memperkeruh suasana. Integrative complexity ada dibalik perilaku tersebut.

Integrative Complexity Memegang Peranan Penting

Integrative complexity merupakan proses kognisi manusia yang dibedakan menjadi 2 yaitu diferensiasi (differentiation) dan integrasi (integration). Diferensiasi mengacu pada kemampuan individu untuk mempersepsi dimensi atau sudut pandang yang berbeda ketika dihadapkan pada suatu permasalahan. Integrasi mengacu pada bagaimana mengintegrasikan hal-hal atau sudut pandang yang berbeda (Baker-Brown, Ballard, Bluck, De Vries, Suedfeld, Tetlock, 1992). Ke dua hal tersebut berkembang sesuai dengan perkembangan kemampuan kognisi seseorang. Banyak yang mempercayai bahwa integrative complexity akan berkembang dengan baik pada individu yang lebih terpelajar atau dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Studi mengenai integrative complexity biasa dilakukan pada ilmu psikologi sosial dan dapat berkaitan dengan keadaan politik ataupun terorisme; seperti penelitian Suedfeld (2003) yang meneliti integrative complexity pemimpin besar yang terlibat dalam perang melawan Taliban dengan melihat pola komunikasi mereka. Di Indonesia sendiri, penelitian ini dilakukan oleh Putra, Arimbi, Erikha, dan Rufaedah yang meneliti bagaimana meningkatkan integrative complexity pada para teroris yang telah dipenjara. 

PILKADA DKI 2017 Merupakan Fenomena Integrative Complexity

Pada dasarnya konsep integrative complexity dapat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan atau kemampuan kognisi individu. Dengan kata lain, individu dapat mengolah informasi yang ia terima dengan lebih bijak, namun pada kenyataannya pendidikan bukan merupakan faktor utama. Beberapa wawancara informal dengan rekan peneliti atau dosen menunjukkan bahwa orang terpelajar dengan tingkat pendidikan yang tinggi kerap tidak mampu mengolah informasi dengan bijaksana (anda juga dapat melihat berdasarkan fenomena yang ada saat ini).Bayangkan bagaimana kebencian dapat disebarluaskan oleh orang yang terpelajar sekalipun.

PILKADA kali ini merupakan suatu contoh dari fenomena integrative complexity di Indonesia. Bagaimana banyak orang terpelajar tidak mampu menganalisa dengan objektif suatu permasalahan. Kebencian membutakan semua sudut pandang dan kelogisan. Pada dasarnya sulit untuk merubah atau menghentikan sesuatu yang terjadi di dunia ini. Namun tetap berusaha menjadikan generasi mendatang menjadi generasi yang pluralis dan memiliki integrative complexity merupakan tanggung jawab kita sebagai pendidik. Dimulai dari lingkup kecil (keluarga, teman terdekat, sekolah) untuk mengajarkan konsep omni culturalism. Konsep ini berbeda dengan multiculturalism; dimana orang dianggap beragam. Omniculturalism menekankan pada persamaan; apa yang sama pada semua manusia. Prioritasnya adalah pada omni (manusia); bahwa kita semua adalah manusia (Moghaddam, 2012). Selanjutnya ketika anak sudah memahami bagaimana konsep tersebut; barulah kemudian kita mempelajari perbedaan dengan lebih logis dan terbuka.

Semoga pluralisme di negeri ini tidak sekedar angan-angan

 

Referensi:

Bake-Brown, G., Ballard, E.J., Bluck, S., De Vries, ., Suedfeld, P., & Tetlock, P.E. (1992). Coding manual for conceptual integrative complexity. University of British of Colombia & University of California.

Moghaddam, F.M. (2012). The omnicultural imperative. Culture & Psychology, 18(3), 304-330.

Putra, I.E., Arimbi, R.S., Erikha, F., Rufaedah, A. Increasing integrative complexity on convicted terrorist in Indonesia. The qualitative report (manuscript 3001).

Suedfeld, P. (2003). Integrative complexity on western and terrorist leaders in the war against the Afgan terrorist regime. PsicologiaPolitica, 27,79-91.

 

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh