ISSN 2477-1686

Vol.3. No.5, Mei 2017

Abnormalitas dalam Perspektif Budaya

Adinda Putri Utami & Rahminanda Dalimo

Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas YARSI

Menurut Matsumoto & Juang, setidaknya ada empat cara untuk mengidentifikasi abnormalitas, yakni statistik, in-efisiensi peran, pertentangan norma dan laporan pasien sendiri (dalam Sarwono, 2015). Psikologi berusaha merumuskan definisi abnormalitas secara universal sehingga penanganannya pun bisa dilakukan secara terstandar. Kenyataannya dinamika kehidupan sangat kompleks sehingga psikologi lintas budaya menjadi salah satu usaha para ilmuan untuk bertindak lebih adil, salah satunya dengan mengacu pada budaya. Matsumoto & Juang (dalam Sarwono, 2015) memaparkan beberapa gangguan psikologis yang bersifat unik dan hanya terjadi di budaya tertentu, di antaranya: Sinbyong di Korea; Amok di Malaysia, Filipina, dan Thailand; Anorexia Nervosa di Eropa dan Amerika Serikat; Ataque de Nervious di Amerika Latin; Zar di imigran Etiopia di Israel; Whakama di suku Maori, Selandia Baru; Shinking Heart di budaya Punjabi; dan Avanga di negara-negara Asia Tenggara. 

Latah

Fenomena latah tidaklah asing di Indonesia, namun bagi masyarakat di negara Barat, bukanlah hal yang dipandang normal karena tidak pernah ditemukan sehari-hari (Sarwono, 2015). Menurut Mayer latah adalah suatu reaksi sensitivitas yang berlebihan pada stimulus yang dirasakan datang secara tiba-tiba, biasanya disertai dengan pengikutan gerakan orang lain secara tidak sadar (dalam Fitriani, 2012). Menurut Ellis (dalam Winzeler, 1995) latah terbagi menjadi empat yaitu: ekolalia yaitu perilaku latah ini menirukan kata-kata dan kalimat yang diberikan orang lain, koprolalia yaitu perilaku latah ini biasanya mengucapkan kata-kata berupa alat kelamin baik laki-laki maupun perempuan, dan  auto ekolalia, yaitu perilaku latah ini biasanya mengulangi kata-kata yang diucapkannya sendiri, automatic obedience yaitu perilaku latah ini biasanya melaksanakan perintah secara spontan pada saat terkejut dan ada lagi sekarang.

Latah merupakan salah satu bentuk cultural bound syndrome, yaitu gangguan yang hanya ada atau terjadi pada budaya tertentu saja. Secara etik latah hanya muncul pada budaya melayu (Malaysia dan Indonesia). Fenomena latah awalnya muncul pada masyarakat islam di Malaysia kemudian menyebar hingga ke Jawa.  Latah sering ditemukan pada suku Jawa, Sunda, dan Betawi. Secara emik, latah banyak muncul di masyarakat Jawa. Menurut Geertz (dalam Fitriani, 2012) budaya berpengaruh pada timbulnya gejala latah. Latah dianggap sebagai salah satu alternatif solusi agar perilakunya diterima karena adanya pembatasan dalam pengekspresian emosi, seksual, dan pendapat. Pada budaya jawa terdapat batasan-batasan dalam pengekspresian emosi dan seksual. Masyarakat jawa menganggap tidak sopan jika mengekspresikan kekecewaan, kaget dan marah di depan umum serta menganggap tabu membicarakan hal-hal terkait seksualitas. Individu menjadi lebih ekspresif saat latah dan kata-kata yang dikeluarkan dalam latah sering merujuk pada anggota tubuh yang sensitif, seperti menyebut alat kelamin. Pada umumnya perkataan atau perilaku yang dilakukan oleh individu yang latah lebih bisa dimaklumi oleh lingkungan, sehingga individu yang latah tidak cemas saat perkataan atau perilakunya bertentangan dengan nilai-nilai budaya. 

Memanjangkan Telinga sebagai Simbol

Menindik telinga telah menjadi hal yang lumrah untuk dilakukan terutama pada seorang perempuan. Umumnya perempuan menggunakan anting-anting sebagai salah satu perhiasannya, namun tidak hanya bagi perempuan, laki-laki pun kini menindik bagian daun telinganya. Ternyata masyarakat tradisional juga memiliki tradisi menindik telinga untuk dipasangkan anting-anting.

Secara umum, masyarakat Indonesia umumnya terbiasa menggunakan anting-anting pada daun telinganya sebagai perhiasan. Berbeda dengan suku Dayak Kenyah, salah satu suku dari rumpun Dayak Kenyah-Kayan-Bahau dan berkembang di daerah Kalimantan Timur. Suku ini memiliki identitas yang unik dengan daun telinga yang panjang. Masyarakat suku Dayak Kenyah memanjangkan telinganya dengan cara menggunakan anting yang sudah dimulai sejak berusia di bawah lima tahun yang digunakan baik untuk laki-laki atau perempuan, dan anting-anting tersebut ditambah jumlahnya setiap tahun sehingga telinga mereka semakin memanjang. Terdapat aturan penggunaan terkait panjang anting bagi laki-laki dan perempuan dimana laki-laki tidak boleh memanjangkan telinganya melebihi bahu sedangkan perempuan diperbolehkan memanjangkan telinganya hingga sebatas dada. Model anting yang digunakan pun dapat berbeda-beda tergantung dari status sosial. Ada anting yang hanya boleh digunakan oleh kaum bangsawan, atau hanya berdasarkan jenis kelamin. Selain itu, gaya-gaya tertentu menandakan bahwa seseorang menjadi jago atau gagah berani (Maunati, 2014).

Budaya memanjangkan telinga ini tidak banyak kita temui di Indonesia, maupun luar Indonesia. Tindakan ini, jika mengacu pada identifikasi abnormal berdasarkan statistik menjadi abnormal di tengah masyarakat dunia. Begitu pula dengan latah yang tidak lagi mengejutkan masyarakat Indonesia namun bisa membuat bingung orang asing.

Referensi:

Fitriani. (2012). Perilaku Latah pada Remaja. Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma

Kadir, Abdul Hatib. (2009). Menafsir Fenomena Latah sebagai Emosi Kebudayaan Masyarakat Melayu. Psikobuana, Vol.1, No.1, 49-59

Maunati, Y. (2004). Identitas Dayak: Komodifikasi & Politik Kebudayaan.Yogyakarta: LKiS Yogyakarta

Inayah, S. S. (2013). Kesinambungan Indentitas Kultural dalam Menjaga Kerukunan Hidup pada Masyarakat Multietnis (Studi Kasus Masyarakat Adat Dayak Pampang Samarinda). Jurnal Komunikasi dan Sosial Keagamaan, Vol. XV, No. 1. 81-100.

Sarwono, S.W. (2015) Psikologi Lintas Budaya. Jakarta; Rajagrafindo Persada.

Tim Indonesia Exploride. (n.d.). Dayak Kuping Panjang. Retrieved from http://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/dayak-kuping-panjang

Winzeler, R.L. (1995). Latah in southeast Asia: The sistory and etnography of culture-bound syndrome. New York: Cambridge University Press.

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh