ISSN 2477-1686

Vol.3. No.4, April 2017

Kenapa Kita Bosan? dan Bagaimana Mengatasinya?

Subhan El Hafiz

Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA

 

Setiap manusia tentunya pernah merasakan kebosanan dan hal tersebut merupakan perasaan yang tidak menyenangkan. Rasa bosan kadang muncul pada saat kita melakukan aktifitas atau saat kita tidak melakukan aktifitas. Bahkan rasa bosan juga bisa muncul manakala kita sedang berlibur yang seringkali justru dijadikan “obat” untuk mengatasi kebosanan.

Caldwel, Darling, Payne, & Dowdy (1999) meneliti kebosanan dari beberapa sumber eksternal dan internal. Hasil penelitiannya membuktikan bahwa kebosanan akan semakin rendah manakala motivasi intrinsik tinggi namun ketika motivasi ekstrinsik tinggi maka tingkat kebosanan akan semakin tinggi. Selain itu, kebosanan lebih tinggi jika aktifitas yang dikerjakan merupakan keharusan dan kebosanan akan lebih rendah jika aktifitas yang dikerjakan merupakan keinginan.

Penelitian Caldwel, dkk (1999) ini juga menemukan beberapa fakta menarik, yaitu: anak kelas 8 (sekitar usia 15 tahun) memiliki tingkat kebosanan yang rendah manakala dorongan orang tua lebih besar. Selain itu, kondisi bosan akibat pekerjaan yang harus dilaksanakan sama bosannya dengan kondisi manakala seseorang mengerjakan sesuatu karena tidak ada pilihan pekerjaan lain (daripada ganggur). Selain itu, penelitian ini juga menunjukkan bahwa kondisi menjalankan sesuatu sesuai keinginan lebih tinggi di rumah daripada di sekolah dan di sekolah tidak ada kondisi yang menyebabkan individu merasa terpaksa karena tidak ada pekerjaan lain.

Penyebab Kebosanan

Bagaimana bosan bisa terjadi, Fisher (1993) menjelaskan bahwa rasa bosan bisa terjadi dalam beberapa kondisi, yaitu: quantitative underload, qualitative underload, atau qualitative overload. Tiga hal tersebut merupakan jenis kebosanan jika dilihat dari loading atau beban yang dirasakan oleh seseorang. Quantitative menunjukkan pada banyaknya aktifitas sedangkan qualitative menunjukkan pada beban dari aktifitas.

Quantitative undeload terjadi manakala seseorang tidak memiliki pekerjaan yang signifikan atau pekerjaan yang dilakukannya pada saat itu jauh lebih sedikit daripada jumlah pekerjaan yang biasa dikerjakannya. Menganggur tentu dengan mudah dimasukkan dalam kategori ini apabila keseharian individu terbiasa bekerja maka manakali dirinya menganggur akan mudah diserang rasa bosan.  Lain halnya manakala penggangguran yang sudah terbiasa dengan ritme aktifitasnya sehari-hari yang memang tidak ada kerjaan maka kondisi tersebut tidak menyebabkan kebosanan.

Kondisi ini juga terjadi pada seseorang yang masih banyak memiliki aktifitas namun merasa bosan, misalnya pejabat atau pemimpin organisasi yang biasa sibuk kemudian jabatan atau tanggung jawab itu tidak lagi ada pada dirinya. Penurunan aktifitas yang signifikan ini berpotensi meningkatkan kebosanan seseorang. Hal ini juga yang menyebabkan masa pensiun harus dipersiapkan dengan baik dan direncanakan jauh-jauh hari agar tidak terjadi serangan bosan akibat perubahan drastis dari kondisi bekerja menjadi kondisi tidak bekerja.

Jenis kebosanan yang kedua, yaitu qualitative undeload terjadi manakala aktifitas yang dilakukan oleh individu tidak lagi menantang. Pada kondisi ini, individu masih memiliki aktifitas yang cukup tinggi namun aktifitas tersebut dirasa terlalu mudah bagi seseorang sehingga tidak perlu usaha yang luar biasa dalam menyelesaikannya. Pada pelajar, kebosanan ini muncul manakala pelajaran dikelas dianggap terlalu mudah atau siswa sudah menguasai materi yang sedang disampaikan.

Sedangkan kebosanan yang muncul akibat qualitative overload terjadi manakali individu memiliki aktifitas yang dianggap terlalu berat. Jika hal ini terjadi pada pelajar di sekolah, maka pelajaran yang dianggap terlalu sulit saat disampaikan oleh guru menjadi penyebab kebosanan siswa. Akibatnya pelajar lebih memilih aktifitas lain untuk menghilangkan kebosanannya.

Mengatasi Kebosanan

Mengacu pada ketiga penyebab kebosanan di atas, maka upaya mengatasi kebosanan dapat dibagi menjadi tiga kondisi, diantaranya: (1) menambah aktifitas yang harus dikerjakan, (2) menambah tantangan yang harus diselesaikan, dan (3) memecah beban menjadi langkah-langkah kecil. Upaya ini tentunya perlu disesuaikan dengan faktor internal dan eksternal sebagaimana hasil penelitian yang disampaikan oleh Caldwel, dkk. (1999).

Dengan demikian, tiga solusi di atas bosan dipadukan dengan kondisi internal dan eksternal serta kondisi keharusan dan keinginan yang dirasakan oleh seseorang. Misalnya meminta seseorang siswa yang merasa bosan di sekolah untuk memilih tambahan kegiatan ekstra kurikuler yang diinginkan daripada mengharuskannya memilih ekstra kurikuler. Begitu juga jika masalah kebosanan yang dihadapi siswa adalah kurangnya tantangan, maka tantangan dari pekerjaan bisa dengan menawarkan pada siswa (internal) dari beberapa tantangan yang bisa ditawarkan oleh guru.

Referensi:

 

Caldwell, L. L., Darling, N., Payne, L. L., & Dowdy, B. (1999). "Why are you bored?": An examination of psychological and social control causes of boredom among adolescents. Journal of Leisure Research, 31(2), 103-121. Diunduh dari https://search.proquest.com/docview/201178257?accountid=38628

Fisher, C. D. (1993). Boredom at work: A neglected concept. Human Relations, 46(3), 395. Diunduh dari  https://search.proquest.com/docview/231489235?accountid=38628

 

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh