*Mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Pembangunan Jaya

Kata bully atau bullying santer terdengar di telinga kita melalui berita, media sosial maupun yang orang yang kita kenal sehari-hari. Hal ini terjadi karena bullying memang banyak terjadi di masyarakat. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat jumlah pengaduan terkait bullying di bidang pendidikan sebanyak 1.480 kasus, dari tahun 2011 hingga tahun 2014 (Setyawan, 2014).

Olweus (dalam Harris, 2009) menjelaskan bullying sebagai penindasan oleh (kakak kelas) terhadap junior (adik kelas). Sebuah aksi disebut bullying bila memenuhi 3 kategori, yaitu:  (a) sengaja menyakiti orang lain; (b) dilakukan berulang kali; dan (c) ada perbedaan kekuasaan antara pelaku dan korban. Bullying tidak hanya berupa tindakan fisik seperti menampar, mendorong, memukul, menimpuk, menjambak, menendang, dan menggigit. Akan tetapi dapat berupa tindakan nonfisik, antara lain menyoraki, menyindir, mengolok-olok, menghina, dan mengancam. Bahkan, ada jenis bullying yang sulit terdeteksi, yaitu bullying nonverbal, antara lain mengabaikan, tidak mengikutsertakan, menyebarkan rumor atau gosip atau meminta orang lain untuk menyakiti.

Aktivitas bullying sering dimulai pada usia remaja. Menurut Santrock (2011), masa remaja merupakan fase mencari konsep dan identitas diri yang ditandai keinginan untuk membentuk kelompok pergaulan di luar pengawasan orang tua dan keluarga. Lebih lanjut, ada keinginan dari diri remaja untuk diakui dan diterima dalam suatu komunitas, yang biasa disebut geng (gank). Namun, terbentuknya geng dapat merangsang perilaku antisosial, salah satunya adalah bullying.

Sekarang ini, dominasi para siswa sebagai pelaku bullying yang identik dengan kekerasan, intimidasi, pelecehan, dan hinaan sudah mulai pudar karena ternyata tindakan ini juga marak dilakukan oleh para siswi. Banyak kasus bullying yang dilakukan oleh siswi diakibatkan iri hati, ingin membalas, ingin menindas, memojokkan, dan serangkaian motivasi lainnya. Beberapa kasus bullying oleh siswi pernah mencuat ke publik, misalnya geng Nero (neko - neko dikeroyok) di Pati dengan aksinya ketika merekrut anggota baru, video kekerasan pelajar putri di Palu yang dilatarbelakangi rebutan pacar dan kasus video di Bali tentang tujuh gadis remaja yang tergabung dalam geng motor (Feliana, 2012).

Nixon (dalam Davis, 2009) menyatakan bahwa siswi akan melakukan bully apabila kebutuhan dasar “ABCs and me” , yaitu: acceptance (penerimaan diri), belonging (kepemilikan), control  (pengendalian), tidak dimiliki. Selain itu, beberapa karakteristik umum dari siswi pelaku bully adalah pencemburu, merasa dirinya superior, kontrol diri (impulse control) yang rendah, dan kurang empati. Karakteristik-karakteristik ini kemudian difasilitasi oleh kegiatan seperti Masa Orientasi Sekolah (MOS) sehingga berkembang menjadi perilaku bullying. Terlebih lagi bila guru sekolah yang bersangkutan kurang berperan dalam mengontrol tindakan murid-muridnya.

Pada situasi MOS, sering kali otoritas dipegang oleh senior (kakak kelas), sebagai pelaksana kegiatan. Dengan demikian, seorang siswi senior dapat memberikan perintah dan memaksa juniornya (adik kelas) dengan alasan kepatuhan. Tindakan ini sejalan dengan karakteristik superior para pelaku bullying sekaligus sebagai usaha memenuhi kebutuhan akan kontrol atau pengendalian. Namun, tindakan ini tidak serta-merta berakhir ketika MOS berakhir. Masih ada acara-acara wajib yang harus diikuti para junior, seperti yang ditegaskan oleh seorang siswi kelas 3 dari salah satu SMA di Jakarta Selatan. Menurutnya, situasi yang rentan bullying dimulai sejak Masa Orientasi Siswa (MOS), Tatar (Penataran), Makes (Malam Kesenian), Prom, Tubang (Tubir Angkatan) dan berlanjut sampai dengan situasi sehari-hari. Ia pun pernah melakukan bullying, yaitu mencaci dan berkata kasar pada adik kelas, memukul, menampar serta meminta barang kepada adik kelas. Ketika ditanya mengenai alasan, ia menjawab, “Karena kita kan senior, jadi kita ngerasa (i)tu junior tuh harus pada posisinya ya; bisa dibilang ga melebihi seniornya.”

Tidak semua siswi melakukan aksi bullying kepada juniornya. Sumber yang sama mengakui bahwa beberapa siswi juga melakukan aksi bully karena diancam oleh teman seangkatan atau sekelompoknya. “Lo ga mau ngegampar mereka, apa?” Trus dia akhirnya bentak-bentak sama gampar, main fisik gitu kan cewek, sama jambak-jambak.” Hal ini merupakan salah satu contoh usaha untuk memenuhi kebutuhan akan penerimaan (acceptance), seperti yang disebutkan oleh Nixon. Dengan melakukan bullying, siswi senior yang bersangkutan merasa diterima menjadi bagian dari kelompok senior lainnya.

Menyikapi hal ini, guru sebagai orang tua murid di sekolah harus lebih peka terhadap indikasi kasus bullying, khususnya bagi siswi atau remaja putri, sehingga dapat dilakukan intervensi yang tepat. Fokus intervensi terhadap bulllying haruslah sejalan dengan kebutuhan dasar maupun karakteristik para pelakunya. Misalnya mencegah siswi dengan kontrol diri dan empati rendah dari memiliki otoritas terhadap adik kelasnya dan tidak memberikan kontrol penuh kepada para senior, walaupun dalam kegiatan sekolah yang mereka laksanakan sendiri. Guru harus tetap berfungsi menjadi penanggung jawab dari kegiatan-kegiatan yang menatasnamakan atau yang terjadi di sekolah. Selanjutnya, perlu dibentuk kelompok anti bullying untuk memenuhi kebutuhan akan penerimaan (acceptace) bagi individu yang tidak setuju melakukan bullying. Kelompok ini diharapkan dapat berkembang dan menjadi pilihan bagi semua murid sekolah. Dengan demikian, secara perlahan tapi pasti, perilaku bullying akan tergerus dan tidak lagi menjadi pilihan dalam usaha memenuhi kebutuhan remaja.

DAFTAR RUJUKAN

Davis, S. (2009, Agustus 24). Mean Girls : Why Girls Bully and How to Stop Them. WebMD. Diunduh dari http://www.webmd.com/parenting/features/mean-girls-why-girls-bully-and-how-to-stop-them?page=2

Feliana. (2012, Februari 8). Aksi Bullying Antar Remaja Masih Terus Menghantui. Kompasiana. Diunduh dari http://m.kompasiana.com/post/read/433892/1/aksi-bullying-antar-remaja-putri-masih-terus-menghantui.html

Harris, M. J. (2009). Bullying, Rejection & Peer Victimization. New York : Splinger Publishing Company

Santrock, J. W. (2011). Life-Span Development (13th ed). New York, MA : McGraw-Hill

Setyawan, D. (2014, Oktober 16). Kasus Bullying dan Pendidikan Karakter. KPAI. Di unduh dari http://www.kpai.go.id/berita/kpai-kasus-bullying-dan-pendidikan-karakter/