ISSN 2477-1686

Vol.3. No.4, April 2017

Apakah Media Sosial Mendukung Toleransi?

Johan Satria Putra 

Fakultas Psikologi Universitas Yarsi

Media Sosial

Media sosial secara tidak langsung telah menciptakan limitless interaction atau interaksi sosial tanpa batas ruang dan waktu. Ruang personal, yang semula lingkupnya begitu terbatas pada jarak nyata yang observable, kini hanya dipisahkan oleh sebuah layar entah itu layar komputer ataupun telepon genggam. Selama ini yang kita ketahui adalah bahwa salah satu tujuan media sosial adalah untuk memudahkan kontak antar kelompok, sehingga tercipta proses kontak dan saling mengenal antar kelompok. Menurut teori kontak, sebagaimana yang dijelaskan oleh Allport (Brown & Gaertner, 2003), intensitas kontak yang tinggi dan intim dapat mengurangi bias antar kelompok dan menciptakan sikap positif yang besar terhadap outgroup (outgroup favoritism) yang setara dengan toleransi (Verkuyten, 2010).

Dampak Positif dan Negatif Media Sosial

Pada satu sisi, media sosial juga menyediakan adanya fitur-fitur yang memungkinkan penggunanya untuk membentuk kelompoknya sendiri. Contohnya saja seperti grup di WhatsApp, Line, atau facebook. Selain itu, ada juga akun-akun kolektif yang sifatnya mewakili satu kelompok tertentu, yang biasanya ada di twitter dan instagram. Kemudahan membentuk satu kelompok atau grup ini secara tidak langsung sangat mungkin mendorong individu untuk mengategori ulang identitas sosial yang ada pada dirinya (Brown & Gaertner, 2003). Misalnya seorang pengguna twitter atau instagram, cenderung akan mengikuti akun-akun kelompok di mana dia menganggap dirinya berafiliasi dengan kelompok tersebut. Sementara aplikasi chat (diskusi) dalam bentuk grup Whatsapp atau Line meningkatkan intensitas komunikasi antar anggota kelompok.

Dinamika ini menguatkan internalisasi nilai-nilai kelompok dan perubahan sikap anggota, serta memudahkan proses deindividuasi anggota kelompok dan meningkatkan kohesivitas kelompok (West & Turner, 2009). Hal ini memiliki nilai positif yaitu anggota akan memiliki keterikatan yang kuat dengan kelompoknya, memudahkan kooperasi atau kerjasama, serta aplikasi nilai atau norma-norma kelompok menjadi lebih cair.

Akan tetapi, terdapat pula dampak negatifnya, terutama apabila  dalam konten-konten diskusi di chat maupun informasi dari akun media sosial tersebut berisikan propaganda bahwa outgrup (kelompok lain) sebagai sebuah ancaman bagi ingroup (kelompok sendiri). Misalnya kiriman (posting) yang berisi informasi mengenai diskriminasi atau perlakuan tidak adil terhadap ingroup.

Media Sosial Mampu Membentuk Intoleransi

Penyimpangan informasi ini dapat meningkatkan prasangka, mengurangi outgroup favoritism secara sangat signifikan, serta memperkuat kompetisi sosial (Brown & Gaertner, 2003). Ancaman dari outgroup dalam hal ini merupakan prediktor terkuat bagi perilaku intoleransi (Verkuyten, 2010). Jadilah kita dapat melihat fenomena orang-orang atau akun-akun yang di-bully di lini masa media sosial, lantaran perbedaan pendapat terhadap suatu isu yang di dalamnya terdapat unsur-unsur konflik antar kelompok.

Menurut konsep polarisasi kelompok, sikap awal dari anggota kelompok akan cenderung berkembang menjadi lebih ekstrim justru setelah terjadi adu argumen dengan orang lain atau kelompok yang berlawanan sikap (Mackie & Wright, dalam Brown & Gaertner, 2003). Hal ini dimaksudkan untuk membedakan diri mereka dengan kelompok lain. Akibatnya, korban bullying tadi justru akan semakin teguh dengan sikapnya terhadap isu tersebut.

Strategi Meningkatkan Toleransi dengan Media Sosial

Pada akhirnya, jika berbagai proses di atas yang terjadi, maka media sosial justru cenderung mengakibatkan toleransi menurun. Lantas bagaimana pendekatan yang sebaiknya dilakukan untuk mengurangi hipotesa yang kontradiktif dengan tujuan awal diciptakannya media sosial ini? Terdapat beberapa strategi yang mungkin dapat dipergunakan, khususnya oleh para penggiat media sosial atau biasa disebut netizen:

1. Merujuk teori Tajfel (Brown & Gaertner, 2003), maka untuk meningkatkan outgroup favoritism kita bisa menggunakan metode maximum outgroup profit. Caranya dengan secara konsisten, terjadwal, dan dalam kuantitas yang besar, memaparkan informasi mengenai sisi-sisi positif dari outgroup (West & Turner, 2009). Lebih baik lagi apabila komunikator dari informasi tersebut adalah akun media sosial ataupun akun personal yang berafiliasi pada kelompok ingroup (baca : bukan sekedar mengatasnamakan).

2. Melakukan rekategorisasi (Brown & Gaertner, 2003). Misalnya dengan membentuk grup chat atau akun baru yang mengakomodasi berbagai golongan/kelompok agama maupun etnis dalam satu wadah dan tujuan yang sama.

3. Toleransi umumnya lebih mudah dilakukan apabila menyangkut wilayah personal dan bukan wilayah moral (Verkuyten, 2010). Maka ketika membahas seorang tokoh di media sosial, sebaiknya lebih terfokus pada kepribadian ataupun perilakunya (baik yang negatif maupun positif) secara individual, tanpa menyebutkan yang bersangkutan beragama apa, beretnis apa, atau dari kelompok mana.

4. Meningkatkan empati antar kelompok (Taufik, 2012). Prinsip utama empati adalah perspective taking, yang dalam dunia media sosial dapat diaplikasikan dalam bentuk kiriman (posting) ataupun diskusi (chat) yang mengarah kepada menstimulasi pengguna untuk melihat dari sudut pandang outgroup ataupun ikut merasakan apa yang mereka rasakan.

 

Referensi :

Brown, R. & Gaertner, S.L. (Ed.) (2003). Blackwell handbook of social psychology : Intergroup processes. Oxford: Blackwell Publishing.            

Taufik (2012). Empati, pendekatan psikologi sosial. Jakarta: Rajagrafindo.

Verkuyten, M. (2010). Multiculturalism and tolerance : An Intergroup perspective. dalam Crisp, R.J. The Psychology of social and cultural diversity. Oxford : Wiley-Blackwell.

West, R. & Turner, L.H. (2009). Introducing communication theory: Analysis and Application (3rd ed). NY: McGraw-Hill.

 

 

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh