*Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas YARSI, Jakarta

Siapa yang tidak mengenal ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah), salah satu kelompok paham radikal yang saat ini sedang banyak mengancam dunia. Ancaman dari ISIS ini bukan hanya dirasakan oleh orang-orang non-muslim tetapi juga muslimin yang tidak memiliki pemahaman yang sama dengan kelompok tersebut. Kelompok ISIS menangkap dan memenjarakan sekelompok pria karena mereka mencukur jenggot mereka (Asmardika,2015,Mei 15: “ISIS Penjarakan Pria karena Mencukur Jenggot”).

Para pria yang ditangkap itu dipenjarakan selama tiga bulan dan terancam hukuman penggal jika mengulangi perbuatannya. Peraturan itu dikeluarkan ISIS pada bulan ini, dengan mengancam akan memberikan hukuman berat bagi pria yang mencukur jenggot mereka. Bagi ISIS, pemotongan jenggot adalah perbuatan yang bertentangan dengan hukum syariat mereka. Selain mencukur jenggot, diberitakan juga bahwa bulan ini ISIS memperkenalkan larangan terhadap celana jins ketat. Orang-orang yang tertangkap melakukan pelanggaran ini akan dikurung selama sepuluh hari dan diwajibkan mengikuti pelajaran mengenai Islam versi ISIS dipenjara dan tidak akan dibebaskan sampai lulus. Hingga saat ini, ISIS telah mengeluarkan beberapa peraturan yang memberikan larangan-larangan kepada para warga di wilayah yang mereka kuasai. Kelompok militan ISIS sebelumnya telah melarang rokok, alat musik, celana jins dan mendengarkan musik melalui telefon genggam.

Groupthink dan Radikalisasi Teroris

Apa yang sebenarnya membuat kelompok tersebut memutuskan untuk membuat aturan-aturan yang begitu ketat dan menganggap bahwa aturan mereka adalah yang paling benar? Tsintsadze-Maass & Maass (2014) dalam penelitianya yang dilakukan pada kelompok teroris di Amerika-Weather Underground, membuktikan bahwa ada hubungan antara groupthink dan radikalisasi teroris.

Groupthink adalah cara berpikir yang kohesif dimana keinginan untuk mencapai kesepakatan atau konsensus yang demikian tinggi sehingga mengurangi motivasi untuk mendapatkan keputusan yang tepat dan rasional. Ada dua hal yang dapat memunculkan groupthink, yang pertama adalah tingginya level kohesivitas dalam grup dan  yang ke dua adalah norma kelompok yang muncul (Baron, dkk, 2006). Kelompok yang kohesif akan menutup diri dari opini pihak luar. Norma kohesivitas yang terbentuk menjadikan karakteristik kelompok yang merasa tidak terkalahkan atau bersifat superior. Kelompok mengabaikan penentangan dan merasionalisasikan pendapatnya sendiri dan memandang lawanya secara stereotip (Sarwono & Meinarno, 2014).

Jika dilihat berdasarkan teori mengenai groupthink, aturan-aturan yang dibentuk oleh ISIS terhadap tindakan yang bertentangan dengan norma kelompoknya terjadi akibat adanya kesalahan dalam pengambilan keputusan saat membuat aturan tersebut. Seperti yang kita ketahui ISIS adalah salah satu kelompok dengan kohesivitas yang sangat tinggi. Para pemimpin dan anggota dari kelompok tersebut memandang orang-orang diluar kelompoknya secara negatif. Hal tersebut diperparah dengan adanya paham ideologi kelompok yang bertentangan dengan paham ideologi di luar kelompok tersebut, dan membuat mereka ini menganggap bahwa kelompoknya adalah yang paling benar, sehingga ketika ada hal-hal yang bertentangan dengan aturan dalam kelompok tersebut mereka tidak segan untuk membuat keputusan yang ekstrim untuk mencegah tindakan tersebut terulang lagi.

Mencegah Groupthink

Groupthink pada kelompok ISIS tersebut juga bisa terjadi pada kelompok yang kita pimpin ataupun kelompok di mana kita menjadi anggotanya. Penting untuk menjaga kohesivitas dalam kelompok agar kelompok tersebut bisa terus berjalan, namun jaga agar kohesivitas yang terbentuk tidak terlalu tinggi agar mencegah terjadinya groupthink dan menganggap kelompok kita adalah yang paling benar. Selain itu ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mengatasi groupthink, di antaranya jadilah pemimpin yang siap menerima kritik dan terima setiap usulan dari anggota kelompok. Ke dua undang pakar-pakar dari luar kelompok untuk menentang pandangan anggota kelompok dan ketiga selalu adakan satu orang sebagai penyanggah pada setiap rapat.

Referensi:

Baron, Robert., Byrne, Donn, & Branscombe, Nyla (2006) Social Psychology 11th edition. Boston: Pearson Education, Inc.

Saworno, Sarlito. & Meinarno, Eko (2014) Psikologi Sosial. Jakarta: Penerbit Salemba Humanika

Tsintsadze-Maass, E., & Maass, R. W. (2014). Groupthink and Terrorist Radicalization. Terrorism & Political Violence26(5), 735-758. doi:10.1080/09546553.2013.805094

Asmardika, Rahman (2015) “ISIS Penjarakan Pria karena Mencukur Jenggot”. (Okezone.com). Mei, 15, 2015. Diperoleh dari http://news.okezone.com/read/2015/05/15/18/1150233/isis-penjarakan-pria-karena-mencukur-jenggot