ISSN 2477-1686

Vol.2. No.20, Oktober 2016

 

Waspada, Bahaya Pornografi Online Pada Anak

Selviana

Fakultas Psikologi, UniversitasPersada Indonesia YAI

 

Kasus Pornografi Online pada Anak-anak

Korban kejahatan anak di Indonesia akibat bahaya internet semakin meningkat. Berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), sejak 2011 hingga 2014, jumlah anak-anak terpapar pornografi dan kejahatan online mencapai 1022. "Angkanya menembus 1022 anak. Angka ini bisa lebih banyak dan meningkat hingga tahun 2016 ini," jelas Deputi Bidang Perlindungan Anak Kementrian Pempberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Pribudiarta Nur Sitepu di Kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Minggu (2/10/2016).

Budiarta menambahkan, sekitar 28 % anak-anak yang menjadi korban pornografi online. Sementara pornografi anak online mencapai 21 persen, dan 20 persen kasus prostitusi anak online. Selain itu, 15 persen menjadi objek VCD porno, dan 11 persen anak korban kekerasan seksual. Tak hanya itu, merujuk hasil survei yang dilakukan Kementrian PPPA dengan Katapedia, paparan pornografi mencapai 63.066 melalui Google, diikuti Instagram, media online dan berbagai situs lainnya. "Ini belum dampak buku bacaan seperti komik, buku cerita yang ada unsur pornografinya lho ya," sambung Budiarta. (http://news.okezone.com/read/2016/10/02/337/1504043/waspada-jumlah-anak-anak-korban-pornografi-semakin-meningkat, dibuka 04 Oktober 2016).

Pornografi di Internet

Teknologi internet yang penggunaannya semakin marak kini telah membawa materi pornografi yang dulu hanya bisa diakses melalui buku maupun video ke dalam dunia cyber yang luas. Semua orang, tidak terbatas usia, tempat dan waktu bisa mengakses materi pornografi dari manapun asalkan ada komputer atau handphone dan akses internet. Hanya dengan mengetik kata kunci pada mesin pencari, maka akan muncul ribuan situs yang bisa dikunjungi dengan mudah. Banyaknya situs pornografi lokal dan internasional yang ada di internet telah membuat banyak pihak, terutama orang tua merasa khawatir dengan perkembangan anaknya yang merupakan harapan besar keluarga bahkan bangsa. Bahkan kasus dan data diatas dapat memberikan infomasi yang membangkitkan tingkat kewaspadaan yang tinggi bahwa berbagai kasus pornografi yang banyak terjadi di Indonesia khususnya pada anak-anak, seharusnya menjadi perhatian yang sangat serius bagi pemerintah, guru dan orang tua.

Dampak Pornografi Online pada Anak

Penulis merumuskan beberapa hal yang dapat menjadi dampak pornografi online pada anak, antara lain:

1.  Menangkap pesan yang salah, anak-anak yang melihat pornografi dapat menangkap pesan yang salah karena hal tersebut adalah hal yang tidak pantas untuk dilihat oleh anak-anak dan bisa saja akhirnya dilakukan oleh anak-anak.

2.  Melakukan aktivitas/pelecehan seksual, apa yang di dengar dan dilihat anak-anak cenderung akan dilakukannya. Bayangkan bila yang sering dilihat anak-anak adalah gambar/tontonan pornografi, bukan tidak mungkin bahwa anak-anak melakukan aktivitas seksual atau menjadi korban pelecehan seksual.

3.  Berpotensi terjadinya kehamilan di luar nikah dikemudian hari, salah satu kasus yang banyak terjadi di Indonesia adalah kehamilan di luar nikah dan kasusnya banyak terjadi pada anak-anak muda. Bisa jadi kasus kehamilan di luar nikah ini disebabkan karena kasus pornografi/pelecehan seksual pada masa anak-anaknya.

Upaya yang dapat dilakukan

FBI dan Mulin (dalam Egel, 2012) menjelaskan bahwa terdapat berbagai upaya perlindungan anak-anak yang bisa dilakukan para orang tua, antara lain sebagai berikut:

1.  Perlu untuk mengetahui semua perangkat yang dapat mengakses internet. Masyarakat Indonesia pada umumnya mengira bahwa komputer/laptop adalah perangkat umum yang digunakan untuk mengakses konten pornografi di internet. Padahal, kebanyakan orang hari ini mengakses internet melalui mobile handphone.

2. Selalu awasi anak  dalam penggunaan perangkat di atas, seperti secara berkala memeriksa data-datayang disimpan, khususnya file gambar dan video.

3. Menginstall software untuk memblok akses ke situs pornografi. Ini termasuk langkah untuk memfilter materi yang ada di internet. Jangan terlalu ketat dalam melakukan filtering, karena bisa saja software salah mengenali situs ilmu pengetahuan dengan situs pornografi, misal situs ilmu kebidanan.

4. Perlu melakukan pembedaan perlakuan, bergantung pada usia anak-anak. Anak-anak yang masih TK dan SD lebih baik tidak mempunyai email terlebih dahulu. Adapun yang SMP bisa menggunakan email, namun melalui email orang tua. Yang sudah SMA bisa menggunakan email dan memiliki akun di situs jejaring sosial, namun selalu awasi penggunaannya. Anak-anak usia TK-SMP lebih baik tidak bergabung dengan situs jejaring sosial.

5. Tidak perlu menggunakan video kamera di komputer/laptop. Blok juga perangkat lunak IM (internet messenger) yang mengizinkan melakukan panggilan telepon atau video call melalui internet.

6. Selalu berkomunikasi dengan anak dalam suasana nyaman dan tentram. Jika ada hal mencurigakan, jangan menekan anak. Namun, jelaskan bahayanya bertemu dengan orang asing di internet, walau betapa baik tampaknya mereka.

Berdasarkan paparan di atas, kiranya semua pihak yang terkait dalam mendidik dan melindungi anak-anak (pemerintah, guru dan orang tua) menjadi semakin waspada tentang bahaya pornografi onlie pada anak serta tentu saja melakukan tindakan-tindakan pencegahan sedini mungkin untuk melindungi anak-anak dari bahaya pornografi.

Referensi:

Engel, Ventje Jermias. (2012). Upaya melindungi anak-anak dari pornografi di internet. Jurnal Sosioteknologi Edisi 25, 60-65.

 

http://news.okezone.com/read/2016/10/02/337/1504043/waspada-jumlah-anak-anak-korban-pornografi-semakin-meningkat, dibuka 04 Oktober 2016.