ISSN 2477-1686

Vol.2. No.19, Oktober 2016

 

 

Human Capital Skills: Sebuah Modal dalam Mengembangkan Diri

Selviana

Fakultas Psikologi, Universitas Persada Indonesia YAI

Setiap orang dalam melakukan kegiatan/pekerjaan sehari-hari tak lepas dari kemampuan-kemampuan tertentu yang dimilikinya dan kemudian dijadikan modal agar dapat terus mengembangkan diri lebih lanjut dalam berbagai aspek kehidupannya. Kemampuan-kemampuan tersebut bila dikembangkan terus-menerus pada akhirnya dapat membuat sesorang menjadi maksimal dalam berbagai hal yang dikerjakannya. Semiawan (2006) mengemukakan bahwa untuk dapat terus mengembangkan diri ke arah yang lebih baik ini, setiap orang membutuhkan sebuah peluang untuk mengaktualisasikan diri secara optimal “to become what he/she is capable of“, yaitu suatu upaya untuk memberdayakan manusia sesuai kemampuan yang ada padanya dan sesuai pilihannya sendiri. Ini adalah suatu pengembangan kemampuan manusia yang disebut human capital skills.

Pengembangan kemampuan manusia ini terjadi tidak hanya di pendidikan formal atau pelatihan program, tetapi juga dalam interaksi informal dengan orang lain serta melalui refleksi diri. Peran jaringan sosial dan norma-norma dalam membina budaya belajar pengembangan ketrampilan diri ini adalah penting sepanjang seluruh siklus hidup (OECD, 2001). Mengacu pada pandangan tersebut, maka pada dasarnya setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan diri di sepanjang kehidupannya tanpa dibatasi dengan proses pengembangan diri dalam sebuah institusi formal, tetapi juga dalam setting informal.

Pengertian Human Capital Skills

Nelson dan Phelps (dalam Son, 2010) mengartikan human capital skills  sebagai "investasi pada manusia". Pengertian ini merujuk pada kemampuan-kemampuan yang dimiliki individu merupakan investasi yang dapat dijadikan modal dalam mengembangkan kehidupannya lebih lanjut. Menurut Ratchford   (dalam Haubl & Murray, 2003)   human  capital skills  adalah  pengetahuan,   kemampuan,   atau   keahlian  yang  terkandung  dalam  diri individu  dan  diperoleh  melalui  investasi dalam pelatihan formal maupun informal pendidikan dengan belajar sambil melakukan (learning by doing). Belajar sambil menggunakan kemampuan dan pengetahuan ini berlangsung dalam kehidupan manusia dari lahir sampai mati. Konsep belajar sepanjang hayat ini menekankan pentingnya belajar di semua tahap kehidupan dalam konteks sekolah dan bidang-bidang pendidikan lainnya (OECD, 2001).

Apa pentingnya Human Capital Skills?

Pada  dasarnya setiap orang memiliki kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi dalam kehidupannya sehari-hari. Kebutuhan-kebutuhan ini bisa terpenuhi dengan cara mengusahakannya lewat kemampuan-kemampuan tertentu yang diperolehnya baik melalui sekolah maupun latihan-latihan. Bermodal kemampuan-kemampuan inilah setiap orang dapat memenuhi kebutuhannya sekaligus mengembangkan dirinya secara optimal dalam kehidupannya sehari-hari. Semiawan (2006) mengungkapkan bahwa pada gilirannya human capital skills akan menghasilkan manusia yang secara optimal mampu menghadirkan kemampuannya secara bermakna, untuk memainkan peran yang bersifat jamak dalam lingkungan masyarakat. Penelitian Cote dan Levine (1997) menemukan 3 tiga jenis yang termasuk dalam human capital skills, antara lain:

a. Self-management Skills 

Ini berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam mengembangkan keterampilan-keterampilannya untuk mengatur dan mengelola diri nya serta beradaptasi dengan lingkungan. Contoh: menjadi pengurus dalam sebuah organisasi, melakukan tugas-tugas admnistrasi maupun menjadi panitia dalam sebuah acara bersama.

b. Self-motivation Skills

Ini mengungkap keterampilan-keterampilan tertentu yang membuat seseorang dapat memotivasi dirinya untuk terus berkembang ke arah yang lebih baik. Contoh: memiliki inisiatif dan keterlibatan untuk berperan aktif dalam suatu pekerjaan/organisasi tertentu, memiliki semangat yang tinggi untuk mengerjakan tanggung jawabnya, mampu bekerja secara individu maupun kelompok, dan dapat mengambil keputusan yang tepat dalam segala hal yang dilakukannya.

c. Self Technical Skills

Ini mengungkap keterampilan-keterampilan yang bersifat teknis seperti kemampuan yang berhubungan dengan hal-hal teknik (Mesin, listrik, komputer, dan lain-lain), bermain musik, olah raga, seni serta kemampuan memecahkan masalah.

Pada akhirnya setiap orang memiliki kesempatan yang sama sesuai kemampuannya masing-masing guna terus mengembangkan diri di sepanjang hidupnya, hanya tinggal bagaimana orang tersebut mengupayakannya secara terus-menerus, sehingga semua yang dikerjakannya bisa bermanfaat dan memberi kontribusi yang besar baik bagi diri sendiri, orang lain maupun untuk  institusi/organisasi.

Referensi:

Cote, J & Levine, C. (1997). Student Motivations, Learning Environments, and Human Capital Acquisition: Toward an Integrated Paradigm of Student Development. Journal of College Student Development, 38, 229-242.

Haubl, G & Murray, K. (2003). A Human Capital Perspective of Skill Acquisition and Interface Loyalty. Journal Communication of the ACM,46, 272-278.

Organization For Economic Co-operation and Development (OECD). (2001). The Role of Human and Social Capital. France: OECD. 

Semiawan, Conny. (2006). Dampak Tren Pendidikan Dunia Terhadap Pendidikan di Indonesia. Jakarta: Hotel Mulia.

Son, Hyun. (2010). Human Capital Development. Philiphine: Asian Development Bank.