ISSN 2477-1686

Vol.2. No.17, September 2016

 

Social Capital: Timbal Balik Positif Bagi Keuntungan Bersama

Selviana

Fakultas Psikologi, Universitas Persada Indonesia YAI

 

Setiap  orang  membutuhkan  peranan  orang lain  dalam  hidupnya  agar dapat mencapai hal-hal yang diharapkan. Untuk itu dibutuhkan modal sosial atau social capital. Modal merupakan bekal yang dimiliki untuk mendapatkan sesuatu yang menguntungkan dan sosial merupakan sejumlah orang yang saling berhubungan dalam kehidupan seseorang. Modal sosial (social capital) adalah sumberdaya yang dapat dipandang sebagai investasi untuk mendapatkan sumber daya baru. Seperti diketahui bahwa sesuatu yang disebut sumber daya (resources) adalah sesuatu yang dapat dipergunakan untuk dikonsumsi, disimpan dan diinvestasikan. Sumber daya yang digunakan untuk investasi tersebut bisa disebut sebagai modal. Boxman, De Graf dan Flap (1991) menyatakan bahwa social capital adalah sejumlah individu yang saling berhubungan secara positif dan berbagai sumber daya untuk diberikan secara cuma-cuma. Sejumlah individu dalam pengertian ini melibatkan pihak-pihak tertentu yang berperan dalam memberikan pengaruh positif, sedangkan sumber daya dalam pengertian ini dapat mencakup pada berbagai hal positif yang dapat diperoleh dari hubungan positif tersebut seperti pengetahuan, keterampilan dan lain sebagainya.

Pengertian Social Capital

Organization for economic co-operation and development/OECD (2001) mendefiniskan social capital sebagai kemampuan seseorang untuk memperoleh keuntungan dari keanggotaannya dalam jaringan sosial atau struktur sosial. Pemahaman ini mengindikasikan bahwa keterlibatan seseorang dalam hubungannya secara sosial dengan berbagai pihak ditujukan agar adanya timbal balik positif yang mendatangkan keuntungan bagi dirinya. Lebih lanjut, social capital berbeda dengan istilah populer lainnya yaitu human capital. Pada human capital segala sesuatunya lebih merujuk ke dimensi individu yaitu daya dan keahlian yang dimiliki oleh individu. Pada social capital penekanan lebih pada potensi kelompok dan antar kelompok dengan ruang perhatian pada jaringan sosial, nilai, norma dan kepercayaan antar sesama yang lahir dari anggota kelompok dan menjadi norma kelompok (OECD, 2001).

Atencio dan Bearnes (2008) mengemukakan konsep social capital melibatkan kualitas dan agregasi hubungan sosial yang abadi dalam dan di antara masyarakat. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa social capital meliputi kualitas dari satu kesatuan hubungan sosial yang mencakup ruang lingkup didalam seperti keluarga, dan ruang lingkup di luar seperti kampus (dosen, teman) dan masyarakat. Selanjutnya, Cox (1995) mendefinisikan social capital sebagai suatu rangkaian proses hubungan antar manusia yang ditopang oleh jaringan, norma-norma dan kepercayaan sosial yang memungkinkan efisiensi dan efektifitas koordinasi serta kerjasama untuk keuntungan bersama. Pengertian ini merujuk bahwa dalam social capital adanya norma-norma yang berlaku dan adanya kepercayaan sosial dalam proses hubungan antar manusia untuk mendatangkan keuntungan satu sama lain.

Mawardi (2007) mengemukakan inti telaah social capital terletak pada kemampuan masyarakat dalam suatu entitas atau kelompok untuk bekerja sama membangun suatu jaringan untuk mencapai tujuan bersama. Kerjasama tersebut diwarnai oleh suatu pola inter-relasi timbal balik dan saling menguntungkan dan dibangun di atas kepercayaan yang ditopang oleh norma-norma dan nilai-nilai sosial yang positif dan kuat. Kekuatan tersebut akan maksimal jika didukung oleh semangat proaktif membuat jalinan hubungan di atas prinsip-prinsip yang disepakati.

King dan Furrow (2004) mengemukakan social capital, mencakup:

1.    Social interaction (SI)

Mengungkapkan tentang seberapa sering melakukan kegiatan bersama dan membangun komunikasi dalam setiap hubungan yang terjalin dengan keluarga, teman dan masyarakat.

2.    Trust (TS)

Mengungkapkan mengenai hubungan yang ditandai oleh kepercayaan dan kedekatan dengan orang-orang terdekat.

3.    Shared Vision (SV)

Mengungkapkan mengenai berbagi nilai/pandangan, keyakinan dan tujuan dalam hubungan antar sesama.

Social Capital Sebagai Cara Menuju Keberhasilan

Banyak pandangan yang menyatakan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh faktor pribadi (kecerdasan, motivasi) tetapi juga ditentukan oleh lingkungan. Bila lingkungannya mendukung (banyak teman/jaringan) maka seseorang cenderung lebih mudah untuk memperoleh keberhasilan. Sebagai contoh yang banyak terjadi adalah bagi para pencari kerja, biasanya akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan bila memiliki teman/jaringan yang bisa merekrutnya untuk pekerjaan tersebut, dengan alasan bahwa orang yang diajak bekerja adalah orang yang dikenalnya, sehingga lebih dapat dipercaya dari pada harus susah-susah mencari orang lain yang belum dikenal dan belum tentu cocok. Padahal bisa saja kemampuannya standar/rata-rata, tetapi karena memiliki jaringan pergaulan yang luas, maka bisa membuatnya lebih mudah untuk menuju tangga keberhasilan.

Barangkali sebuah istilah yang dekat ditelinga kita yang bisa disejajarkan dengan pemahaman mengenai social capital adalah simbiosis mutualisme, yakni sebuah istilah untuk menyatakan tentang adanya kerjasama tertentu yang terjalin untuk saling memberi keuntungan, dan karena pada hakikatnya manusia tidak dapat hidup sendiri serta selalu membutuhkan lingkungan untuk terus berkembang, maka upaya dalam membangun social capital (modal social) ini merupakan sebuah sumber daya untuk mengembangkan hidup secara terus-menerus. 

Referensi:

Atencio, M., & Bearnes, S. (2008). Building social capital through outdoor education. Journal of Adventure Education and Outdoor Learning, 8, 99-112.

Boxman, E.A., De Grant, P. M., & Flap, H. D. (1991). The impact of social and human capital on the income attainment of Dutch managers. Journal of Social Networks, 13, 51-71.

Cox, E. (1995). A truly civil society. Sidney: ABC Books.

King, P.E.,& Furrow, J. L. (2004). Religion as a resource for positive youth  development: Religion, social capital, and moral outcomes. Developmental Psychology, 40, 703-713.

Mawardi. (2007). Peranan social capital dalam pemberdayaan masyarakat. Jurnal Pengembangan Masyarakat, 3, 5-14.

Organization for economic co-operation and development (OECD). (2001). The role of human and social capital. France: OECD.