ISSN 2477-1686

Vol.2. No.17, September 2016

Pentingnya Deteksi Gangguan Disleksia Pada Anak

Hilda Sukarni

Fakultas Psikologi, Universitas Bhayangkara Jakarta

Masa kanak-kanak di usia 2-7 tahun tergolong dalam fase pra-opersional. Menurut Eickson (Feist and Feist, 2014) fase perkembangan anak di usia bermain yaitu menggembangkan gerakan tubuh, keterampilan bahasa, rasa ingin tahu, imajinasi dan kemampuan menentukan tujuan. Aktivitas genital pada usia bermain diikuti dengan peningkatan fasilitas untuk bergerak. Inisiatif yang dipakai anak untuk memilih dan mengejar berbagai tujuan.

Ciri & Gangguan Disleksia

Para orangtua sering beranggapan bahwa anak-anak usia sekolah yang belum bisa membaca dan menulis merupakan ukuran ketidakmampuan mereka. Anak yang sudah bersekolah dan belum lancar membaca dianggap bodoh atau tertinggal. Bisa saja terjadi anak itu menderita disleksia.

Hal ini didukung dengan teori dari para ahli yang membahas dengan gangguan disleksia. Menurut Mulyadi (2010), memberikan cangkupan yang lebih luas tentang Dysleksia yaitu merupakan kesulitan membaca, mengeja, menulis dan kesulitan dalam mengartikan atau mengenali struktur kata-kata yang memberikan efek terhadap proses belajar atau gangguan belajar. Namun menurut Ketua Pelaksana Harian Asosiasi Disleksia Indonesia dr Kristiantini Dewi, Sp A, disleksia merupakan kelainan dengan dasar kelainan neurobiologis dan ditandai dengan kesulitan dalam mengenali kata dengan tepat atau akurat dalam pengejaan dan dalam kemampuan mengkode simbol.

Berdasarkan beberapa pengertian dari para ahli di atas, maka penulis dapat mendefinisikan bahwa Dysleksia pada dasarnya adalah kesulitan belajar membaca yang tidak ada hubungannya dengan IQ karna biasanya penderita disleksia memiliki IQ yang normal.

Gangguan ini bukan bentuk dari ketidakmampuan fisik, tetapi seperti masalah penglihatan yang mengarah ke otak yang telah mengolah dan memproses informasi yang sedang dibaca (Dardjowidjo, 2008 :216).

Permasalahan Penderita Disleksia

Beberapa tanda-tanda awal disleksia yang disebabkan oleh genetik, diantaranya telat bicara, artikulasi tidak jelas, dan terbalik-balik, kesulitan mempelajari bentuk dan bunyi-bunyi huruf, binggung antara konsep ruang dan waktu, serta kesulitan memegang alat tulis dengan baik dan kesulitan dalam menerima informasi. Penderita disleksia biasanya mengalami masalah-masalah, sebagai berikut:

  1. Masalah fonologi : hubungan sistematik anatara huruf dan bunyi. Kesulitan ini tidak disebabkan oleh masalah pendengaran, tetapi berkaitan dengan proses pengolahan input didalam otak.
  2. Masalah mengingat perkataan : Kebanyakan anak disleksia mempunyai level kecerdasan normal atau di atas normal. Namun, mereka mempunyai kesulitan mengingat perkataan. Dalam hal ini mereka dapat menjelaskan suatu cerita, tetapi tidak dapat mengingat jawaban untuk pertanyaan yang sederhana.
  3.  Masalah penyusunan yang sistematis atau berurut : Anak disleksia mengalami kesulitan menyusun sesuatu secara berurutan misalnya susunan bulan dalam setahun, hari dalam seminggu, atau susunan huruf dan angka.
  4. Masalah ingatan jangka pendek : Anak disleksia mengalami kesulitan memahami instruksi yang panjang dalam satu waktu yang pendek.
  5. Masalah pemahaman sintaks : Anak disleksia sering mengalami kebingungan dalam memahami tata bahasa, terutama jika dalam waktu yang bersamaan mereka menggunakan dua atau lebih bahasa yang mempunyai tata bahasa yang berbeda. Anak disleksia mengalami masalah dengan bahasa keduanya apabila pengaturan tata bahasanya berbeda daripada bahasa pertama.

Mari Kenali Gejala Disleksia Sedini Mungkin

Berbagai masalah di atas sebenarnya bisa dicegah atau dikurangi jika Anda mengidentifikasi disleksia sedini mungkin dan ditangani dengan tepat. Oleh karena itu disarankan untuk orang tua lebih memperhatikan anaknya, jika terdapat indikasi disleksia bawalah anak kepada dokter, atau psikolog anak untuk penanganan dan terapi lebih lanjut.

Referensi:

Feist, J. Feist, G. J. 2014. Teori Kepribadian Edisi Tujuh Buku Satu. Jakarta : Salemba Humanika.

Mulyadi. 2010. Diagnosis Kesulitan Belajar & Bimbingan terhadap Kesulitan Belajar. Yogyakarta : Nuha Litera.

Dardjowidjojo, Soenjono. 2008. Psikolinguistik Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta. Yayasan Obor Indonesia.