ISSN 2477-1686

Vol. 8 No. 20 Oktober 2022

Meninjau Tantangan Terhadap Kesejahteraan Sekolah Pasca Pandemi Covid-19

 

Oleh: 

Runi Rulanggi

Program Studi Psikologi, Universitas Pembangunan Jaya

 

Pasca Pandemi Covid-19, sekolah menghadapi tantangan yang beragam. Selain dihadapkan transformasi model pembelajaran hybrid , sekolah juga dihadapkan pada persoalan non-fisik, yakni kesejahteraan psikologis siswa. Upaya menyeluruh yang dilakukan secara sistemik, untuk meningkatkan kualitas kesehatan mental siswa diperlukan di semua level. Upaya-upaya promotif untuk meningkatkan kesejahteraan sosioemosi siswa dapat menjadi jalan untuk meningkatkan kualitas kesehatan siswa, melalui pelibatan sistem sekolah didalamnya (Barry, Clarke & Dowling, 2017). 

 

Pembahasan mengenai kesejahteraan psikologis siswa bermula dari konsep mengenai general well-being pada siswa. Pada awalnya, penelitian yang dilakukan oleh  Wheeler  & Magaletta (1997) menunjukkan adanya korelasi positif antara kesejahteraan psikologis secara keseluruhan (general well-being ) dengan performa akademik siswa. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas kesehatan mental siswa di sekolah terkait dengan prestasi belajarnya. Semakin baik kualitas kesehatan mental siswa diharapkan akan meningkatkan pencapaian akademik siswa secara optimal. Kemudian seiring dengan berkembangnya zaman, terdapat variasi dari kesejateraan psikologis siswa. Adapun faktor-faktor yang memengaruhi kesejahteraan psikologis secara keseluruhan pada siswa diantaranya adalah jenis kelamin, lokasi sekolah, jenis sekolah dan lingkungan sekolah. Meskipun demikian, latar belakang keluarga tidak memengaruhi kualitas kesejahtreaan psikologis siswa (Arul, 2017).

 

School well-being atau kesejahteraan sekolah didefinisikan sebagai keadaan sejahtera di sekolah yang mencakup aspek-aspek seperti kondisi fisik sekolah yang memadai, hubungan positif individu dalamlingkungan sekolah (guru, siswa, karyawan dan lainnya), pemenuhan diri, dan status kesehatan yang baik (Konu, Alanen, Lintonen & Rimpelä, 2003). Dari konsep well-being yang dicetuskan seorang sosiologis Finlandia Erik Allardt, konsep Kesejahteraan Sekolah bermula. Allardt, yang menekankan 3 aspek yang berperan dalam well-being, yakni having, loving dan being menginspirasi Konu, dk(2003) untuk mendefinisikan konsep kesejahteraan sekolah, yang terdiri dari 4 aspek yakni having (kondisi lingkungan sekolah), loving (hubungan sosial yang terjalin dalam sekolah), being (self-fullfillment atau pemenuhan diri) dan health status (status kesehatan fisik dan mental). Kesejahteraan siswa di sekolah dapat bervariasi, tergantung pada jenis kelamin, jenjang pendidikan dan kelas siswa (Konu & Rimpelä, 2006).

 

Hasil studi menunjukkan bahwa kesejahteraan sekolah menghadapi tantangan selama Pandemi Covid-19 terjadi. Munthazimah, Nasution & Ningsih (2020) menyebutkan bahwa di masa Pandemi Covid-19, siswa dapat terancam mengalami tekanan psikologis yang disebabkan perubahan proses pendidikan. Selain itu, guru dan orangtua juga menghadapi tantangan. Guru menghadapi proses pembelajaran daring yang tidak seperti biasanya (Purwanto, dkk, 2020) dan Orangtua dihadapkan pada beban finansial yang semakin besar untuk mendukung pembelajaran anak di masa Pandemi Covid-19 (Purwanto, dkk, 2020). Kondisi ini tentunya dapat mengekskalasi Pasca Pandemi COVID-19.

 

Namun disisi lain, kualitas dari sekolah menjadi faktor protektif yang membantu siswa untuk bertahan pasca Pandemi. Kemampuan sekolah dalam memberikan alternatif koping yang dapat digunakan siswa pasca Pandemi dapat membantu siswa untuk lebih resilien atau tahan menghadapi situasi Pandemi (Warmansyah, 2020)

 

Pasca Pandemi, perlu upaya intervensi untuk menghadapi berbagai macam permasalahan yang dapat mengancam kesejahteraan sekolah. Pelibatan komponen sekolah serta dukungan sosial dari keluarga dan masyarakat dibutuhkan untuk pendidikan yang lebih sejahtera pasca Pandemi COVID-19.

 

 

Referensi:   

 

Arul, L. (2017). General Well-Being of Higher Secondary Students. i-manager’s Journal on Educational Psychology. 10. 20. 10.26634/jpsy.10.3.10380.

Barry, M., Clarke, A., & Dowling, K. (2017). Promoting social and emotional well-being in schools. Health Education. 117. 434-451. 10.1108/HE-11-2016-0057.

Konu, A. & Lintonen, T. (2006). School well-being in Grades 4-12. Health Education Research. 21. 10.1093/her/cyl032. 

Konu, A., Alanen, E., Lintonen, T. & Rimpelä, M. (2003). Factor structure of the School Well-being Model. Health education research. 17. 732-42.

Muntazhimah, Nasution, E. & Ningsih, S. (2020). respon siswa sekolah menengah terhadap pembelajaran matematika di era COVID-19. Jurnal Pendidikan Matematika Universitas Lampung. 8. 193-206.10.23960/mtk/v8i2.pp193-206.

Purwanto, A., Pramono, R. Asbari, Ma., Santoso, P., Chi Hyun, C., Wijayanti, L. & Putri, R. (2020). Studi Eksploratif Dampak Pandemi COVID-19 Terhadap Proses Pembelajaran Online di Sekolah Dasar. 2. 1-12.

Warmansyah, J. (2020). Program intervensi kembali bersekolah anak usia dini masa Pandemi Covid-19. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini. 5. 743. 10.31004/obsesi.v5i1.573.

Wheeler, R. & Magaletta, P. (1997). General well-being and academic performance. Psychological Reports.80. 581-2. 10.2466/pr0.1997.80.2.581.